JAKARTA – PT Rama Indonesia kini memegang kendali PT Dua Putra Utama Makmur Tbk (DPUM) setelah menuntaskan akuisisi saham mayoritas dari PT Pandawa Putra Investama (PPI). Perubahan kepemilikan ini langsung menggeser peta kendali perusahaan dan membuka babak baru restrukturisasi di emiten sektor perikanan tersebut.
Transaksi ini tidak sekadar pergantian pemegang saham pengendali, tetapi juga menandai masuknya strategi bisnis baru yang akan menentukan arah DPUM dalam beberapa tahun ke depan.
Strategi Masuk: Cari Nilai dari Perusahaan yang Tertinggal
Rama Indonesia mengambil langkah agresif dengan masuk sebagai pengendali di tengah kondisi DPUM yang masih berjuang memperbaiki kinerja. Perusahaan perikanan ini memang belum sepenuhnya pulih dari tekanan biaya produksi dan volatilitas harga bahan baku.
Direksi Rama Indonesia melihat kondisi tersebut sebagai ruang perbaikan, bukan sekadar risiko. Mereka menilai DPUM masih memiliki aset operasional dan jaringan bisnis yang bisa dioptimalkan jika dikelola dengan pendekatan yang lebih efisien.
Alih-alih membangun dari nol, Rama Indonesia memilih masuk ke perusahaan yang sudah terdaftar di bursa untuk mempercepat ekspansi.
Fokus Awal: Benahi Struktur dan Efisiensi
Langkah awal yang langsung disiapkan Rama Indonesia adalah perbaikan struktur operasional. Perusahaan menilai DPUM membutuhkan penataan ulang di beberapa lini, terutama pada pengendalian biaya dan rantai pasok bahan baku.
Direksi menyebut pendekatan lama belum cukup adaptif menghadapi perubahan pasar. Karena itu, mereka mendorong efisiensi yang lebih ketat dan sistem manajemen yang lebih fleksibel.
Strategi ini menandai perubahan pendekatan dari sekadar bertahan menuju orientasi pertumbuhan.
Wajib Tender Offer Jadi Titik Transisi Pasar
Setelah resmi menjadi pengendali, Rama Indonesia wajib melaksanakan Mandatory Tender Offer (MTO) sesuai aturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Proses ini membuka kesempatan bagi pemegang saham publik untuk keluar dari kepemilikan dengan mekanisme yang diatur.
Di pasar modal, MTO sering menjadi fase krusial karena menentukan stabilitas harga saham setelah perubahan pengendali. Investor biasanya mencermati harga penawaran dan arah strategi pemilik baru sebelum mengambil keputusan.
Sentimen Pasar: Antara Harapan dan Kehati-hatian
Masuknya pengendali baru biasanya memunculkan dua respons sekaligus di pasar: harapan akan perbaikan bisnis dan kehati-hatian terhadap risiko restrukturisasi.
DPUM sendiri masih mencatat pendapatan Rp1,25 triliun sepanjang 2025, namun perusahaan belum sepenuhnya keluar dari tekanan karena masih membukukan rugi bersih Rp26 miliar. Meski lebih baik dari tahun sebelumnya, angka ini menunjukkan proses pemulihan belum selesai.
Investor kini menunggu apakah Rama Indonesia mampu mengubah perbaikan kecil ini menjadi tren positif yang berkelanjutan.
Tantangan Nyata: Industri Perikanan Tidak Stabil
Sektor perikanan menghadapi tantangan yang tidak ringan. Harga bahan baku sering berubah, biaya logistik meningkat, dan permintaan ekspor tidak selalu stabil.
DPUM harus berhadapan dengan kondisi tersebut dalam posisi yang belum sepenuhnya kuat. Karena itu, strategi pengendali baru tidak hanya soal ekspansi, tetapi juga kemampuan bertahan di tengah siklus industri yang fluktuatif.
Jika Rama Indonesia gagal memperbaiki struktur biaya, tekanan keuangan bisa kembali muncul.
Arah Baru Masih Tunggu Eksekusi
Meski sudah resmi menjadi pengendali, Rama Indonesia belum memaparkan detail rencana bisnis jangka panjang secara terbuka. Namun arah kebijakan awal menunjukkan fokus pada tiga hal: efisiensi operasional, penguatan tata kelola, dan pencarian peluang sinergi bisnis.
Pasar kini menilai tahap paling penting bukan pada proses akuisisi, melainkan pada eksekusi setelahnya.
Perubahan pengendali di DPUM membuka ekspektasi baru, tetapi juga membawa tekanan pembuktian bagi pemilik baru untuk menunjukkan bahwa langkah ini bukan sekadar transaksi kepemilikan, melainkan perubahan arah bisnis yang nyata.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









