SUNGAI PENUH – Turnamen Bola Voli Wali Kota Cup 2026 yang berlangsung di Desa Pinggir Air, Kecamatan Kumun Debai, Kota Sungai Penuh, berakhir dengan catatan penting soal pembinaan atlet muda di daerah. Wali Kota Sungai Penuh, Alfin, menutup rangkaian pertandingan pada Selasa malam (12/5/2026), sekaligus menegaskan perlunya pembinaan olahraga yang lebih terarah, bukan sekadar kegiatan tahunan.
Sejak awal digelar pada 12 April, turnamen ini mempertemukan 14 tim putra dan 10 tim putri dari Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci. Selama hampir satu bulan, pertandingan berlangsung padat dan menyedot perhatian warga yang memadati arena setiap malam.
Persaingan Ketat dan Antusias Warga Jadi Sorotan
Atmosfer kompetisi terasa kuat sejak fase awal. Setiap tim tampil dengan strategi berbeda dan menampilkan perkembangan permainan yang cukup signifikan dari pertandingan ke pertandingan.
Warga sekitar ikut memberi warna pada turnamen ini. Mereka datang bukan hanya untuk menonton, tetapi juga memberikan dukungan langsung kepada tim masing-masing. Kondisi ini membuat pertandingan berlangsung lebih hidup dan kompetitif.
Panitia mencatat lonjakan jumlah penonton pada laga-laga penting, terutama di babak semifinal dan final. Situasi ini menunjukkan bahwa olahraga bola voli memiliki basis penggemar yang kuat di tingkat desa hingga kabupaten.
Alfin Tekankan Pembinaan, Bukan Sekadar Kompetisi
Wali Kota Alfin menilai turnamen seperti Wali Kota Cup tidak boleh berhenti sebagai agenda seremonial atau hiburan tahunan. Ia menyoroti pentingnya kesinambungan pembinaan atlet agar potensi yang muncul tidak hilang begitu saja setelah turnamen selesai.
Ia menyebut banyak atlet muda menunjukkan kemampuan menjanjikan selama turnamen berlangsung. Namun, tanpa sistem pembinaan yang berkelanjutan, potensi tersebut sulit berkembang menjadi prestasi di tingkat yang lebih tinggi.
“Setiap turnamen harus menjadi titik awal pembinaan. Kita tidak boleh berhenti di sini saja. Atlet muda perlu ruang latihan, pelatihan, dan pendampingan yang konsisten,” kata Alfin.
Ia juga meminta pemerintah desa, sekolah, dan komunitas olahraga untuk ikut terlibat dalam proses pembinaan tersebut, bukan hanya mengandalkan pemerintah kota.
Pemuda Desa Jadi Motor Kegiatan Olahraga
Sorotan lain datang dari peran pemuda Desa Pinggir Air yang berhasil menggerakkan turnamen ini hingga berjalan lancar. Mereka tidak hanya menjadi panitia, tetapi juga mengelola teknis pertandingan dan mengatur keterlibatan masyarakat.
Alfin menilai keterlibatan pemuda seperti ini penting karena mampu menciptakan ruang kegiatan positif di tengah tantangan sosial yang dihadapi generasi muda saat ini.
Ia melihat kegiatan olahraga dapat menjadi salah satu cara efektif untuk mengurangi potensi kenakalan remaja, sekaligus memperkuat interaksi sosial antar warga.
Dorongan Pengembangan Wisata Olahraga
Di luar aspek kompetisi, Alfin juga menyinggung potensi pengembangan wisata berbasis olahraga di Sungai Penuh. Ia menilai daerah tersebut memiliki banyak ruang untuk dikembangkan menjadi lokasi kegiatan olahraga sekaligus destinasi wisata.
Salah satu yang ia dorong adalah pengembangan kegiatan berbasis sungai seperti pacu biduk yang dinilai bisa menjadi daya tarik baru jika dikelola dengan serius.
Menurutnya, penggabungan olahraga dan wisata dapat membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat, terutama pelaku usaha kecil di sekitar lokasi kegiatan.
CSR Jadi Dukungan Tambahan untuk Kegiatan Warga
Pada akhir kegiatan, Pemerintah Kota Sungai Penuh melalui Bank 9 Jambi menyerahkan bantuan Corporate Social Responsibility (CSR) sebesar Rp5 juta kepada masyarakat Desa Pinggir Air.
Bantuan ini diarahkan untuk mendukung kegiatan pemuda dan pengembangan fasilitas pendukung olahraga di desa tersebut. Meski jumlahnya terbatas, pemerintah berharap bantuan ini bisa dimanfaatkan secara tepat sasaran.
Turnamen Tinggalkan Catatan Pembenahan
Wali Kota Cup 2026 meninggalkan catatan penting bagi penyelenggaraan tahun berikutnya. Selain soal peningkatan kualitas pertandingan, publik juga menyoroti kebutuhan pembinaan atlet yang lebih sistematis.
Dengan tingginya minat masyarakat dan banyaknya bibit muda yang muncul, turnamen ini kini tidak lagi sekadar ajang tahunan, tetapi mulai dipandang sebagai bagian awal dari sistem pembinaan olahraga di Sungai Penuh.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









