JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia pada perdagangan Senin, 11 Mei 2026, diperkirakan bergerak melemah dengan rentang pergerakan 6.920 hingga 7.100. Pelaku pasar mencermati potensi tekanan jual setelah indeks mengalami koreksi tajam pada akhir pekan sebelumnya.
Analis BRI Danareksa Sekuritas menilai tekanan ini masih berlanjut karena pasar menunggu sejumlah sentimen penting, baik dari dalam negeri maupun global.
Faktor Global dan Domestik Menekan Pasar
Dari sisi global, pergerakan bursa Amerika Serikat memberi sinyal campuran. Dow Jones hanya naik tipis 0,025 persen, sementara S&P 500 menguat 0,84 persen dan Nasdaq melesat 1,71 persen. Kinerja positif ini belum cukup mengangkat sentimen Asia secara signifikan.
Dari dalam negeri, pasar menunggu rilis data consumer confidence Indonesia serta keputusan rebalancing MSCI yang dijadwalkan pada 12 Mei 2026. Selain itu, isu kenaikan royalti mineral ikut menambah kekhawatiran pelaku pasar terhadap sektor tambang.
Tekanan Teknis IHSG dan Level Kritis
Secara teknikal, IHSG berpotensi menguji level support penting di kisaran 6.900 hingga 6.920. Jika level ini tidak bertahan, tekanan jual berpotensi berlanjut dalam jangka pendek.
BRI Danareksa Sekuritas menilai pergerakan indeks masih cenderung volatile dengan kecenderungan melemah karena minimnya katalis positif jangka pendek.
Rekomendasi Saham: MAPA, PNLF, dan BDMN
Di tengah tekanan pasar, BRI Danareksa Sekuritas tetap memberikan rekomendasi beberapa saham pilihan. Tiga saham yang direkomendasikan yaitu:
MAPA dengan target harga Rp675–Rp710
PNLF dengan target harga Rp276–Rp286
BDMN dengan target harga Rp4.600–Rp4.990
Ketiga saham ini dinilai memiliki potensi rebound dan fundamental yang relatif lebih stabil dibandingkan sektor lain yang tertekan.
Koreksi Tajam di Akhir Pekan Sebelumnya
Pada perdagangan akhir pekan lalu, IHSG mencatat penurunan signifikan sebesar 204,92 poin atau 2,86 persen hingga berada di level 6.969. Penurunan ini juga diikuti aksi jual bersih investor asing senilai Rp389,31 miliar di seluruh pasar.
Tekanan terbesar berasal dari saham-saham berkapitalisasi besar. BMRI mencatat net sell terbesar mencapai Rp436,38 miliar, disusul BUMI sebesar Rp82,88 miliar dan TINS sebesar Rp76,45 miliar.
Sektor Saham Banyak Tertekan
Hampir seluruh sektor saham bergerak melemah pada akhir pekan lalu. Sektor material dasar turun 7,80 persen, sektor energi melemah 4,59 persen, sektor industri turun 4,55 persen, serta sektor transportasi anjlok 5,72 persen.
Sektor consumer primer turun 3,39 persen, sementara sektor keuangan melemah 1,48 persen. Hanya sektor kesehatan yang mampu bertahan dengan penguatan 0,70 persen.
Saham Penguat dan Aktivitas ARA
Di tengah tekanan pasar, beberapa saham sektor kesehatan justru mencatat lonjakan signifikan hingga menyentuh auto reject atas (ARA). Saham MPOW melonjak 34,55 persen, MEDS naik 34,48 persen, IRRA menguat 25 persen, PEHA naik 24,83 persen, dan KAEF menguat 24,51 persen. Saham MORA juga ikut naik 20 persen.
Kesimpulan: Pasar Masih Dalam Fase Konsolidasi
IHSG saat ini bergerak dalam fase konsolidasi dengan tekanan dari faktor global, aksi jual asing, serta sentimen domestik terkait kebijakan sektor tambang dan data ekonomi. Pelaku pasar perlu mencermati level support 6.900 sebagai area penting yang menentukan arah pergerakan selanjutnya.
Sementara itu, peluang tetap terbuka pada saham pilihan yang direkomendasikan analis, terutama di tengah volatilitas pasar yang masih tinggi.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









