China Blokir Akuisisi Manus oleh Meta, Perang AI Global Kian Memanas

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 30 April 2026 - 22:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Rencana akuisisi Meta terhadap startup kecerdasan buatan (AI) Manus senilai sekitar USD 2 miliar atau setara Rp 33 triliun resmi menemui jalan buntu. Pemerintah China meminta transaksi tersebut dibatalkan, menambah panjang daftar ketegangan antara raksasa teknologi global dan otoritas Beijing dalam persaingan dominasi AI.

Pemerintah China Turun Tangan

Komisi Pengembangan dan Reformasi Nasional China (NDRC) secara resmi memerintahkan penghentian akuisisi Manus oleh Meta. Lembaga tersebut menyebut keputusan itu diambil berdasarkan regulasi investasi asing dan pengawasan ketat terhadap sektor teknologi strategis.

Dalam pernyataannya, NDRC meminta seluruh pihak terkait untuk membatalkan transaksi yang telah diumumkan sejak akhir 2025. Langkah ini menegaskan posisi China yang semakin ketat dalam mengontrol kepemilikan dan transfer teknologi kecerdasan buatan ke pihak luar negeri.

Meta Sudah Umumkan Akuisisi Sejak 2025

Meta sebelumnya mengumumkan rencana akuisisi Manus pada Desember 2025. Langkah itu merupakan bagian dari strategi perusahaan milik Mark Zuckerberg untuk memperkuat pengembangan kecerdasan buatan dan memperluas integrasi AI ke seluruh layanan digitalnya, termasuk Meta AI.

Namun sejak awal, transaksi ini sudah menjadi sorotan regulator, baik di China maupun Amerika Serikat. Kedua negara sama-sama memperketat kebijakan terkait investasi teknologi, khususnya di bidang AI yang dianggap memiliki nilai strategis tinggi.

Baca Juga :  Realme P4x 4G Datang Bawa Baterai Raksasa 8.000 mAh, Main Game Seharian Tanpa Khawatir Kehabisan Daya

Manus dan Pertumbuhan Cepat di Industri AI

Manus merupakan startup AI yang mengembangkan agen kecerdasan buatan untuk menyelesaikan berbagai tugas kompleks, mulai dari riset pasar, analisis data, hingga pemrograman otomatis. Startup ini awalnya didirikan di China sebelum memindahkan kantor pusatnya ke Singapura.

Dalam waktu relatif singkat, Manus berhasil mencatat pendapatan berulang tahunan hingga USD 100 juta hanya dalam delapan bulan sejak peluncuran produk. Pencapaian tersebut menjadikannya salah satu startup AI dengan pertumbuhan tercepat di dunia.

Isu “Singapore-Washing” Jadi Sorotan

Kasus Manus juga kembali mengangkat isu praktik “Singapore-washing”, yaitu perpindahan basis perusahaan dari China ke Singapura untuk menghindari pengawasan ketat regulasi domestik maupun internasional.

Pemerintah China disebut semakin waspada terhadap pola tersebut karena dinilai dapat membuka celah keluarnya teknologi strategis ke luar negeri. Dalam beberapa tahun terakhir, Beijing memperketat aturan terkait ekspor teknologi dan investasi lintas negara.

Baca Juga :  China Gelontorkan Rp22 Triliun untuk Robot AI di Jaringan Listrik Nasional

Persaingan AS dan China dalam AI

Selain China, Amerika Serikat juga menerapkan pembatasan ketat terhadap investasi di sektor AI, khususnya yang melibatkan perusahaan asal China. Investor AS bahkan dilarang menanamkan modal langsung pada sejumlah entitas teknologi tertentu.

Kondisi ini membuat industri kecerdasan buatan global berada dalam tekanan geopolitik yang semakin kuat, di mana keputusan bisnis sering kali tidak terlepas dari kepentingan keamanan nasional.

Meta Tegaskan Kepatuhan Regulasi

Meta menyatakan bahwa proses akuisisi Manus telah dilakukan sesuai hukum yang berlaku di berbagai yurisdiksi. Perusahaan juga menyebut siap bekerja sama dengan otoritas China dalam proses evaluasi dan penyelidikan yang masih berjalan.

Namun hingga saat ini, belum ada kepastian apakah kesepakatan tersebut dapat diselamatkan atau harus dihentikan sepenuhnya.

Dampak bagi Industri Teknologi Global

Kasus ini menunjukkan bahwa persaingan AI tidak lagi sekadar soal inovasi teknologi, tetapi juga soal kontrol geopolitik dan regulasi negara. Hambatan terhadap akuisisi lintas negara diperkirakan akan semakin sering terjadi seiring meningkatnya nilai strategis kecerdasan buatan dalam ekonomi global.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Kemenkes Siapkan Robot Bedah AI Buatan Indonesia, Budi Gunadi Ungkap Strategi Besar Tingkatkan Layanan Medis
Kuota Internet Tak Hangus Lagi, Begini Cara Daftar Paket Rollover Telkomsel, IM3 dan XLSmart
MK Wajibkan Operator Hadirkan Opsi Kuota Tak Hangus, Jutaan Pengguna Internet Kini Lebih Terlindungi
Internet Seluler Indonesia Dibidik Tembus 100 Mbps, Komdigi Pasang Target Besar hingga 2029
Honor Robot Phone Meledak Usai Final Piala Dunia 2026, Kamera Robot AI yang Dipakai Eric Garcia Bikin Dunia Gadget Heboh
Bikin Konten Kini Lebih Hemat! Telkomsel Luncurkan Paket CapCut Premium Rp68 Ribu, Bonus Kuota Internet
BRIN Sulap Limbah Ampas Kopi Gayo Jadi Kemasan Pangan Antibakteri, Siap Tantang Dominasi Plastik
Lelang Frekuensi Rampung, Komdigi Resmi Tetapkan Pemenang 700 MHz dan 2,6 GHz
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 27 Juli 2026 - 20:19 WIB

Kemenkes Siapkan Robot Bedah AI Buatan Indonesia, Budi Gunadi Ungkap Strategi Besar Tingkatkan Layanan Medis

Sabtu, 25 Juli 2026 - 19:00 WIB

Kuota Internet Tak Hangus Lagi, Begini Cara Daftar Paket Rollover Telkomsel, IM3 dan XLSmart

Kamis, 23 Juli 2026 - 18:00 WIB

MK Wajibkan Operator Hadirkan Opsi Kuota Tak Hangus, Jutaan Pengguna Internet Kini Lebih Terlindungi

Kamis, 23 Juli 2026 - 16:54 WIB

Internet Seluler Indonesia Dibidik Tembus 100 Mbps, Komdigi Pasang Target Besar hingga 2029

Rabu, 22 Juli 2026 - 14:00 WIB

Honor Robot Phone Meledak Usai Final Piala Dunia 2026, Kamera Robot AI yang Dipakai Eric Garcia Bikin Dunia Gadget Heboh

Berita Terbaru