JAKARTA – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mempercepat transformasi layanan kesehatan melalui pengembangan teknologi robotik berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Langkah ini membuka peluang baru bagi dunia medis sekaligus memperkuat kualitas pelayanan pasien di Indonesia.
Selain mengikuti perkembangan teknologi global, Kementerian Kesehatan juga memanfaatkan besarnya jumlah tindakan operasi yang berlangsung setiap hari di berbagai rumah sakit. Kondisi tersebut menghadirkan sumber data yang sangat besar untuk melatih sistem AI agar mampu memberikan rekomendasi medis yang semakin akurat.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa Indonesia memiliki modal kuat untuk mengembangkan AI kesehatan. Menurutnya, integrasi robotik, data kesehatan nasional, dan AI akan mempercepat kemajuan layanan medis tanpa menggeser peran dokter.
Robotik dan AI Jadi Fokus Transformasi Kesehatan
Budi menjelaskan bahwa perkembangan robot bedah berlangsung sangat cepat di berbagai negara. Sementara itu, kemampuan AI juga terus meningkat dari waktu ke waktu. Karena itu, Kementerian Kesehatan memilih menggabungkan kedua teknologi tersebut dalam satu ekosistem layanan kesehatan.
“AI milik Kementerian Kesehatan saat ini berkembang pesat, kecuali dalam hal bedah. Karena bedah itu susah, karena datanya itu belum ada,” kata Budi.
Menurutnya, pengembangan AI untuk tindakan bedah membutuhkan data operasi dalam jumlah besar. Oleh sebab itu, pemerintah kini memprioritaskan pengumpulan data tersebut.
Ribuan Operasi Setiap Hari Jadi Modal Besar
Budi menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk membangun AI khusus bidang bedah. Pasalnya, rumah sakit di seluruh Indonesia menjalankan ribuan tindakan operasi setiap hari.
Apabila tenaga medis merekam setiap tindakan operasi secara digital, sistem AI akan mempelajari seluruh proses tersebut. Selanjutnya, AI akan mengenali pola tindakan yang menghasilkan tingkat keberhasilan terbaik.
Semakin banyak data yang terkumpul, semakin tinggi pula kemampuan AI dalam membantu dokter mengambil keputusan klinis.
Tiga Basis Data Nasional Perkuat Pengembangan AI
Selain mengumpulkan data operasi, Kementerian Kesehatan juga membangun tiga basis data nasional yang saling melengkapi.
Pertama, pemerintah mengembangkan basis data demografi penduduk sebagai fondasi informasi nasional.
Kedua, pemerintah menghimpun data klinis dari sekitar 3.200 rumah sakit, 25.000 klinik, 12.000 apotek, dan sekitar 6.000 laboratorium melalui sistem cloud nasional sesuai ketentuan undang-undang.
Ketiga, pemerintah mengembangkan basis data genomik untuk mendukung layanan kesehatan presisi pada masa depan.
“Tidak banyak negara yang memiliki tiga sistem seperti ini. Indonesia nantinya akan memiliki kombinasi data demografi, data klinis, dan data genomik dalam jumlah sangat besar,” imbuhnya.
Saat ini, jutaan data rontgen, hasil USG, dan berbagai informasi kesehatan lainnya terus masuk ke cloud nasional. Karena itu, Budi optimistis Indonesia mampu membangun sistem AI kesehatan yang semakin cerdas.
Integrasi Data Operasi Masih Menjadi Tantangan
Meski begitu, Budi mengakui pemerintah masih menghadapi tantangan besar dalam menghimpun data operasi.
Saat ini, produsen alat kesehatan masih menyimpan sebagian besar data tindakan bedah di sistem masing-masing. Akibatnya, pemerintah belum memperoleh akses penuh terhadap data tersebut.
Karena itu, Kementerian Kesehatan mendorong integrasi seluruh data operasi ke cloud nasional. Langkah tersebut akan mempercepat proses pembelajaran AI sekaligus meningkatkan akurasi rekomendasi yang dihasilkan.
Sistem nantinya akan merekam panjang sayatan, sudut pemotongan, posisi tindakan, hingga hasil akhir operasi. Setelah itu, AI akan menganalisis seluruh informasi tersebut untuk menemukan teknik yang paling efektif.
AI Membantu Dokter, Bukan Menggantikan Dokter
Budi kembali menegaskan bahwa AI hanya berfungsi sebagai pendamping dokter.
Sistem AI akan memberikan analisis dan peringatan ketika dokter menghadapi tindakan berisiko tinggi. Namun, dokter tetap memegang kendali penuh dalam menentukan keputusan medis.
“Ini adalah augmented intelligence yang membantu tindakan dokter jauh lebih baik, bukan sekadar artificial intelligence,” tuturnya.
Menurut Budi, semakin banyak data yang dipelajari AI, semakin tepat pula rekomendasi yang diberikan. Dengan demikian, dokter dapat memberikan pelayanan yang lebih aman, cepat, dan akurat kepada pasien.
FAQ
Apa tujuan Kemenkes mengembangkan robotik berbasis AI?
Kementerian Kesehatan ingin meningkatkan kualitas layanan kesehatan melalui teknologi yang membantu dokter mengambil keputusan klinis secara lebih akurat.
Mengapa data operasi sangat penting?
Data operasi menjadi bahan pembelajaran utama bagi AI agar sistem mampu mengenali teknik bedah yang memberikan hasil terbaik.
Apa saja basis data yang disiapkan pemerintah?
Pemerintah menyiapkan basis data demografi, data klinis nasional, dan data genomik sebagai fondasi pengembangan AI kesehatan.
Apakah AI akan menggantikan dokter?
Tidak. AI hanya membantu dokter melalui analisis data dan rekomendasi. Dokter tetap mengambil seluruh keputusan medis.
Apa tantangan terbesar dalam pengembangan AI kesehatan?
Tantangan terbesar terletak pada integrasi data operasi dari berbagai fasilitas kesehatan ke dalam cloud nasional agar AI memperoleh data pembelajaran yang lengkap.(Tim)









