Beli LPG 3 Kg Pakai Sidik Jari, Solusi Tepat atau Risiko Baru?

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 14 April 2026 - 09:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Wacana penggunaan sidik jari atau pemindaian retina untuk pembelian LPG 3 kg kembali mencuat. Usulan ini muncul untuk memperketat distribusi agar subsidi gas elpiji tepat sasaran dan sampai ke kelompok yang berhak.

Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Said Abdullah, mendorong penggunaan teknologi biometrik untuk menutup celah penyalahgunaan subsidi. Ia menilai sistem verifikasi berbasis identitas digital mampu memperbaiki distribusi yang selama ini belum berjalan optimal.

Praktisi migas, Hadi Ismoyo, menilai penerapan biometrik bisa berjalan efektif jika pemerintah menyiapkan sistem dengan matang. Ia menegaskan bahwa teknologi sidik jari dan retina sudah banyak digunakan, termasuk di sektor perbankan global.

“Kalau sistemnya siap, pemerintah bisa langsung menjalankan dan menguji coba di wilayah terbatas,” ujar Hadi.

Baca Juga :  Pembelian Pertalite dan Solar Dibatasi Mulai Hari Ini 1 April 2026

Hadi juga mendorong pemerintah menggabungkan biometrik dengan teknologi lain, seperti GPS atau RFID, untuk memantau distribusi LPG secara real-time. Ia menambahkan bahwa pembatasan kuota serta penegakan hukum di level distribusi perlu diperkuat agar kebocoran dapat ditekan.

Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai biometrik mampu memperkuat verifikasi penerima subsidi. Teknologi ini mampu mencegah penyalahgunaan identitas dalam transaksi pembelian LPG.

“Biometrik memperkuat verifikasi di titik transaksi dan menutup celah penyalahgunaan identitas,” kata Syafruddin.

Syafruddin menegaskan bahwa pemerintah harus mengintegrasikan biometrik dengan sistem data penerima dan distribusi yang rapi. Tanpa integrasi yang baik, teknologi ini tidak akan berjalan efektif.

Baca Juga :  Golkar Siap Umumkan Pengganti Sari Yuliati

Ia juga menyoroti risiko teknis dan biaya yang tinggi. Pemerintah perlu menyiapkan investasi besar untuk perangkat, pelatihan, sistem keamanan data, dan operasional di jutaan titik distribusi.

Syafruddin menyarankan pemerintah melakukan uji coba selama sekitar enam bulan di wilayah tertentu. Ia menilai uji coba itu penting untuk memastikan sistem berjalan stabil dan tidak mengganggu pasokan LPG di masyarakat.

“Pemerintah perlu memanfaatkan biometrik sebagai penguat di daerah rawan kebocoran, bukan menerapkannya secara nasional sekaligus,” ujarnya.

Wacana penggunaan sidik jari untuk pembelian LPG 3 kg masih memerlukan kajian mendalam. Pemerintah perlu memastikan sistem berjalan efektif, efisien, dan tidak menimbulkan masalah baru di lapangan.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Investor Kabur, KADIN Ungkap Biaya Tenaga Kerja Jadi Pemicu
TPP Mandek 3 Bulan, Ribuan ASN Kerinci Menanti Kepastian
Ekonomi Singapura Tumbuh di Bawah Ekspektasi
Investor Global Apresiasi Kebijakan RI, Stabilitas Ekonomi Dinilai Tetap Terjaga
Gula RI Mau Bangkit, Wamentan Targetkan Rendemen Tebu Naik ke Level Kolonial
Ekonomi China Ngebut 5% di Q1 2026, Ekspor Melejit Saat Konsumsi Melemah
Tren IPO Lesu, Backdoor Listing Jadi Jalan Pintas Emiten Masuk Bursa
RI Berebut Minyak AS, Harga Bisa Melonjak 30% di Atas WTI
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 17 April 2026 - 23:00 WIB

Investor Kabur, KADIN Ungkap Biaya Tenaga Kerja Jadi Pemicu

Jumat, 17 April 2026 - 22:00 WIB

Ekonomi Singapura Tumbuh di Bawah Ekspektasi

Jumat, 17 April 2026 - 19:00 WIB

Investor Global Apresiasi Kebijakan RI, Stabilitas Ekonomi Dinilai Tetap Terjaga

Jumat, 17 April 2026 - 15:00 WIB

Gula RI Mau Bangkit, Wamentan Targetkan Rendemen Tebu Naik ke Level Kolonial

Jumat, 17 April 2026 - 12:37 WIB

Ekonomi China Ngebut 5% di Q1 2026, Ekspor Melejit Saat Konsumsi Melemah

Berita Terbaru

Oplus_0

Internasional

Iran Hentikan Ekspor Bahan Baku Plastik dan Pupuk

Sabtu, 18 Apr 2026 - 00:00 WIB

Oplus_0

Ekonomi

Investor Kabur, KADIN Ungkap Biaya Tenaga Kerja Jadi Pemicu

Jumat, 17 Apr 2026 - 23:00 WIB