Tak Jadi Guru, Sarjana Pendidikan Ini Pilih Jalur Koperasi Demi Nafkah Keluarga

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 22 Mei 2026 - 04:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Stadion Patriot Candrabhaga pada Rabu (20/5/2026) berubah menjadi pusat perhatian pencari kerja muda. Ribuan peserta datang untuk mengikuti seleksi program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang menyiapkan manajer untuk Koperasi Desa Merah Putih.

Antusiasme terlihat sejak pagi. Para peserta berdiri, mengantre, dan mengikuti rangkaian tes dengan harapan mendapatkan pekerjaan yang lebih pasti di tengah kondisi pasar kerja yang ketat.

Sarjana Pendidikan Ikut Bersaing di Jalur Non-Guru

Di antara peserta, seorang lulusan Pendidikan Matematika asal Depok, Afiful Haidar (25), memilih jalur yang berbeda dari latar belakang kuliahnya.

Ia tidak melamar sebagai guru. Ia justru masuk seleksi manajer koperasi.

Keputusan itu muncul setelah ia menilai kondisi ekonomi keluarga menuntut langkah cepat untuk mencari penghasilan yang lebih stabil.

Gaji Guru Jadi Pertimbangan Utama, Bukan Sekadar Profesi

Haidar tidak menutupi alasan utamanya. Ia menilai profesi guru belum memberikan ruang finansial yang cukup untuk kebutuhan hidup saat ini.

Ia juga menanggung peran sebagai anak pertama dari empat bersaudara. Kondisi itu membuatnya memikirkan pendapatan jangka pendek dan tanggung jawab keluarga sekaligus.

Baca Juga :  Prajurit TNI Ini Mendadak Tajir, Modal Rp5.000 Jadi Rp50 Miliar

“Saya belum pernah mengajar secara formal setelah lulus. Saya juga harus realistis soal kebutuhan keluarga,” ungkapnya.

Dari Relawan Sosial ke Dunia Koperasi

Sebelum mengikuti seleksi ini, Haidar sempat bekerja sebagai relawan di Dinas Sosial. Ia juga pernah terlibat dalam pengelolaan koperasi sekolah.

Pengalaman itu membentuk ketertarikannya pada sistem koperasi yang ia nilai lebih dekat dengan masyarakat dan peluang ekonomi nyata.

Koperasi Jadi Alternatif Karier Baru bagi Lulusan Muda

Program Koperasi Desa Merah Putih kini menarik banyak lulusan muda dari berbagai bidang, termasuk pendidikan.

Banyak peserta melihat koperasi bukan lagi sekadar lembaga simpan pinjam, tetapi sebagai ruang kerja profesional yang menawarkan pengelolaan ekonomi desa secara lebih modern.

Tekanan Ekonomi Dorong Perubahan Arah Karier

Fenomena seperti yang dialami Haidar menunjukkan satu pola baru, yaitu lulusan sarjana mulai mengubah arah karier ketika tekanan ekonomi keluarga meningkat.

Pilihan kerja tidak lagi hanya mengikuti jurusan kuliah, tetapi juga mengikuti kebutuhan hidup yang lebih mendesak.

Baca Juga :  Bank Muamalat Buka Magang CSDP 2026, Uang Saku, THR hingga Beasiswa Menanti Anak Muda

Kasus Haidar ini menunjukkan perubahan cara pandang lulusan muda terhadap pekerjaan. Jurusan kuliah tidak lagi menjadi batas utama, karena kebutuhan ekonomi dan stabilitas hidup kini ikut menentukan arah karier.

FAQ (Pertanyaan yang Sering Muncul)

1. Apa itu program SPPI Koperasi Desa Merah Putih?

Program ini menyiapkan tenaga muda untuk mengelola koperasi desa agar lebih profesional dan produktif secara ekonomi.

2. Mengapa lulusan pendidikan ikut seleksi koperasi?

Banyak lulusan mempertimbangkan faktor ekonomi, termasuk kebutuhan pendapatan yang lebih stabil dibanding profesi awal seperti guru.

3. Apakah ini berarti profesi guru tidak diminati?

Tidak sepenuhnya. Banyak sarjana pendidikan tetap tertarik menjadi guru, tetapi sebagian memilih jalur lain karena faktor ekonomi.

4. Apa peran manajer koperasi dalam program ini?

Manajer koperasi mengelola operasional, keuangan, dan pengembangan usaha koperasi desa agar lebih efektif.

5. Apakah fenomena ini akan terus meningkat?

Trennya menunjukkan kemungkinan meningkat, terutama jika tekanan biaya hidup dan persaingan kerja tetap tinggi.

Berita Terkait

Surplus Ayam dan Telur RI Makin Besar, Pemerintah Kejar Pasar Arab Saudi dan China untuk Dongkrak Ekspor
Babak Baru Kasus Korupsi Langkat, KPK Tetapkan Bupati Syah Afandin Tersangka, Dugaan Gratifikasi Rp3,5 Miliar Ikut Terungkap
Skandal MBG Kian Terkuak, Brigjen LMI Jadi Tersangka, Peran Kolonel BU dalam Proyek Rp1,03 Triliun Ikut Disorot
Terbongkar! 833 Pendamping PKH Rangkap Kerja, Kemensos Tagih Pengembalian Gaji Capai Rp7,9 Miliar
PermenPANRB Nomor 9 Tahun 2026 Buka Peluang PPPK Paruh Waktu Naik Status, Ini Syaratnya
Nasib Bupati Langkat Syah Afandin Ditentukan Hari Ini, KPK Dalami Dugaan Suap Proyek dan Aliran Uang
Koperasi Siap Kuasai Bisnis Sawit dari Hulu ke Hilir, Pemerintah Bidik Produksi CPO hingga Minyak Goreng
SMA Taruna Nusantara Cari 60 Pamong Baru, Rekrutmen P3 2026 Dibuka hingga 9 Juli, Cek Syarat Lengkapnya
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 6 Juli 2026 - 19:12 WIB

Surplus Ayam dan Telur RI Makin Besar, Pemerintah Kejar Pasar Arab Saudi dan China untuk Dongkrak Ekspor

Sabtu, 4 Juli 2026 - 14:00 WIB

Babak Baru Kasus Korupsi Langkat, KPK Tetapkan Bupati Syah Afandin Tersangka, Dugaan Gratifikasi Rp3,5 Miliar Ikut Terungkap

Sabtu, 4 Juli 2026 - 13:00 WIB

Skandal MBG Kian Terkuak, Brigjen LMI Jadi Tersangka, Peran Kolonel BU dalam Proyek Rp1,03 Triliun Ikut Disorot

Sabtu, 4 Juli 2026 - 12:00 WIB

Terbongkar! 833 Pendamping PKH Rangkap Kerja, Kemensos Tagih Pengembalian Gaji Capai Rp7,9 Miliar

Jumat, 3 Juli 2026 - 19:00 WIB

PermenPANRB Nomor 9 Tahun 2026 Buka Peluang PPPK Paruh Waktu Naik Status, Ini Syaratnya

Berita Terbaru