Starlink Merambah Perbatasan, BAKTI Malah Bersyukur: Anggaran Negara Bisa Lebih Fokus ke Wilayah 3T

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 14 Juni 2026 - 16:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Meningkatnya penggunaan layanan internet satelit Starlink di sejumlah wilayah perbatasan Indonesia ternyata tidak menimbulkan kekhawatiran bagi pemerintah. Di tengah tantangan menghadirkan konektivitas hingga pelosok negeri, Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) justru melihat kehadiran Starlink sebagai bagian dari solusi untuk mempercepat pemerataan akses internet.

Fenomena ini terlihat di Pulau Maratua, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Selain memanfaatkan jaringan yang dibangun pemerintah melalui BAKTI, sebagian warga setempat mulai beralih menggunakan layanan internet satelit milik SpaceX tersebut untuk memenuhi kebutuhan konektivitas sehari-hari.

Alih-alih menganggap Starlink sebagai pesaing, BAKTI menilai setiap penyedia layanan internet memiliki peran penting dalam memperluas jangkauan akses digital nasional. Langkah kolaboratif dinilai lebih efektif dibandingkan mengandalkan satu pihak untuk menjangkau seluruh wilayah Indonesia yang memiliki kondisi geografis sangat beragam.

BAKTI Sebut Starlink Bukan Ancaman

Direktur Utama BAKTI, Fadhilah Mathar, menegaskan bahwa pemerintah masih menghadapi berbagai keterbatasan dalam membangun infrastruktur telekomunikasi secara menyeluruh. Karena itu, kehadiran penyedia layanan lain justru membantu mempercepat pemerataan internet di berbagai daerah.

“Kalau Starlink itu bukan saingan, kalau kami memandang semua penyedia mau Starlink atau yang lain adalah solusi untuk membantu kapasitas BAKTI atau pemerintah yang memang tidak banyak kan sebenarnya kapasitasnya,” ujar Fadhilah saat kunjungan kerja ke Maratua, Kalimantan Timur.

Menurutnya, pemerintah tidak mungkin bekerja sendiri untuk memenuhi seluruh kebutuhan konektivitas masyarakat. Dukungan sektor swasta dan penyedia layanan komersial menjadi bagian penting dalam memperluas akses internet hingga wilayah yang sulit dijangkau.

Selain itu, karakter layanan yang diberikan BAKTI juga berbeda dengan perusahaan telekomunikasi komersial. Perbedaan tersebut membuat keduanya tidak berada dalam posisi saling bersaing.

Baca Juga :  Cina Uji Internet Satelit 1 Gbps dari Orbit 

Fokus BAKTI Ada di Layanan Publik

Fadhilah menjelaskan bahwa BAKTI menjalankan mandat khusus untuk menghadirkan akses internet di lokasi-lokasi yang membutuhkan kehadiran negara. Karena itu, lembaganya tidak membangun jaringan untuk kawasan permukiman atau pelanggan rumah tangga.

“Makanya BAKTI tidak membangun di wilayah-wilayah residensial perumahan,” katanya.

Selama ini, BAKTI mengarahkan pembangunan infrastruktur telekomunikasi ke berbagai fasilitas publik yang menjadi pusat aktivitas masyarakat, terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Jaringan internet BAKTI telah mendukung berbagai layanan publik seperti sekolah, puskesmas, kantor desa, rumah ibadah, sentra UMKM hingga pos pengamanan TNI di kawasan perbatasan.

“Kita di lokasi-lokasi layanan publik, sekolah, puskesmas, kantor desa, pos-pos TNI, UMKM, rumah-rumah ibadah. Tapi untuk perumahan kita tidak bangun dan itu pasarnya Starlink dan kita juga sangat terbantu,” cetus Fadhilah.

Dengan pembagian peran tersebut, masyarakat memiliki lebih banyak pilihan untuk memperoleh akses internet sesuai kebutuhan masing-masing.

Pemerintah Ingin Subsidi Lebih Tepat Sasaran

Fadhilah menilai semakin banyak warga yang mampu membeli layanan internet secara mandiri, maka semakin efisien pula penggunaan anggaran negara.

Kondisi tersebut memungkinkan pemerintah mengarahkan subsidi ke daerah-daerah yang benar-benar belum tersentuh layanan telekomunikasi. Dengan demikian, dana publik dapat dimanfaatkan secara lebih tepat sasaran.

“Semakin kecil subsidi yang bisa diberikan pemerintah berarti kan masyarakat semakin mandiri. Dan memang kan seharusnya lebih baik mereka memanfaatkan secara komersil dibandingkan invest yang diberikan oleh pemerintah,” jelasnya.

Ia menambahkan, pemerintah tetap memegang peran utama dalam memastikan masyarakat di wilayah yang tidak memiliki nilai ekonomi bagi operator tetap memperoleh akses komunikasi dan internet.

Baca Juga :  DSSA Beralih Arah dari Batu Bara ke Internet, Ribuan Investor Serbu Saham di Tengah Penurunan Laba

Sementara itu, kehadiran layanan komersial seperti Starlink membuka peluang baru bagi masyarakat yang membutuhkan konektivitas lebih cepat tanpa harus menunggu pembangunan infrastruktur pemerintah.

Kolaborasi Jadi Kunci Perluas Akses Digital

Indonesia memiliki tantangan geografis yang sangat kompleks, mulai dari kawasan pegunungan, pulau-pulau kecil hingga wilayah perbatasan yang sulit dijangkau jaringan konvensional. Karena itu, berbagai model teknologi perlu berjalan berdampingan agar target pemerataan internet dapat tercapai lebih cepat.

BAKTI menilai kolaborasi antara pemerintah dan penyedia layanan komersial menjadi strategi paling realistis untuk memperluas akses digital nasional. Dengan pendekatan tersebut, masyarakat di wilayah terpencil tetap memperoleh kesempatan yang sama untuk mengakses pendidikan, layanan kesehatan, informasi, hingga peluang ekonomi berbasis internet.

FAQ

Apakah BAKTI menganggap Starlink sebagai pesaing?

Tidak. BAKTI menilai Starlink dan penyedia layanan internet lainnya sebagai mitra yang membantu memperluas konektivitas nasional.

Di mana BAKTI membangun jaringan internet?

BAKTI fokus menyediakan akses internet di fasilitas publik seperti sekolah, puskesmas, kantor desa, rumah ibadah, UMKM, dan pos TNI, terutama di wilayah 3T.

Mengapa BAKTI tidak membangun internet untuk perumahan?

Karena mandat BAKTI berfokus pada layanan publik dan wilayah yang membutuhkan intervensi negara, bukan pasar residensial.

Apa keuntungan kehadiran Starlink bagi masyarakat?

Starlink memberikan alternatif akses internet di daerah yang sulit dijangkau jaringan konvensional sehingga masyarakat memiliki lebih banyak pilihan layanan.

Bagaimana dampaknya terhadap anggaran pemerintah?

Semakin banyak warga yang menggunakan layanan komersial secara mandiri, semakin besar peluang pemerintah mengarahkan subsidi ke wilayah yang benar-benar belum terlayani.(Tim)

Berita Terkait

Kemensos Gandeng GoTo, Teknologi Wajah Jadi Senjata Baru Agar Bansos Tak Salah Sasaran
Samsung Galaxy A27 Bocor Total: Snapdragon Baru, Layar 120Hz dan Jaminan Update 6 Tahun Siap Guncang Kelas Menengah
Realme P4R Datang Bawa Baterai 8.000 mAh, HP Gaming Murah yang Siap Dipakai Seharian Tanpa Khawatir Lowbat
HP Baterai 8.000 mAh Ini Bikin Heboh, Tecno Pova 8 5G Siap Guncang Pasar Gaming Mid-Range Indonesia
Lenovo Legion Y900 2026 Menggebrak, Tablet 4K 144Hz Berperforma Gahar Siap Ganggu Tahta iPad
Cara Paling Mudah Nonton Piala Dunia 2026 di Semua Perangkat, Cukup Modal Rp25 Ribu
Lenovo Luncurkan Laptop Edisi FIFA World Cup 2026 di Indonesia, Usung AI Cerdas hingga Performa Gaming “Monster”
iPhone Kini Bisa Pakai 2 Akun WhatsApp Sekaligus Tanpa Aplikasi Tambahan, Ini Cara Aktifkannya
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 14 Juni 2026 - 16:00 WIB

Starlink Merambah Perbatasan, BAKTI Malah Bersyukur: Anggaran Negara Bisa Lebih Fokus ke Wilayah 3T

Minggu, 14 Juni 2026 - 07:00 WIB

Kemensos Gandeng GoTo, Teknologi Wajah Jadi Senjata Baru Agar Bansos Tak Salah Sasaran

Sabtu, 13 Juni 2026 - 23:00 WIB

Samsung Galaxy A27 Bocor Total: Snapdragon Baru, Layar 120Hz dan Jaminan Update 6 Tahun Siap Guncang Kelas Menengah

Sabtu, 13 Juni 2026 - 18:00 WIB

Realme P4R Datang Bawa Baterai 8.000 mAh, HP Gaming Murah yang Siap Dipakai Seharian Tanpa Khawatir Lowbat

Jumat, 12 Juni 2026 - 23:00 WIB

HP Baterai 8.000 mAh Ini Bikin Heboh, Tecno Pova 8 5G Siap Guncang Pasar Gaming Mid-Range Indonesia

Berita Terbaru