Rupiah Tertekan ke Rp17.300 per Dolar AS, Tekanan Global Masih Dominan

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 1 Mei 2026 - 13:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan awal Mei 2026. Berdasarkan data pasar spot dan rujukan lembaga keuangan global, rupiah bergerak di kisaran Rp17.300 per dolar AS. Pelemahan ini memperpanjang tren negatif yang sudah terlihat dalam beberapa sesi terakhir.

Rupiah Terkoreksi di Tengah Tekanan Global

Pergerakan rupiah pada awal Mei 2026 menunjukkan pelemahan tipis namun konsisten. Pasar mencatat nilai tukar rupiah berada di sekitar 0,000058 dolar AS per rupiah, yang berarti satu dolar AS setara lebih dari Rp17.200 hingga Rp17.300.

Pelaku pasar menilai tekanan ini muncul seiring penguatan dolar AS di pasar global. Investor global kembali mengalihkan dana ke aset aman seperti obligasi Amerika Serikat. Perubahan ini menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Sentimen The Fed dan Ketidakpastian Global

Pasar keuangan juga merespons arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve. Ekspektasi suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama mendorong penguatan dolar AS.

Baca Juga :  Transportasi Umum Belum Terintegrasi, Warga Daerah Terbebani Biaya Tinggi

Kondisi geopolitik global yang masih tidak stabil ikut menambah tekanan. Investor memilih bersikap hati-hati dan mengurangi eksposur pada aset berisiko. Situasi ini membuat mata uang seperti rupiah kehilangan momentum penguatan.

Tekanan dari Dalam Negeri

Selain faktor eksternal, pasar juga menyoroti kondisi domestik. Defisit transaksi berjalan dan kebutuhan impor yang tinggi ikut memberi tekanan pada rupiah.

Pelaku pasar valuta asing mencermati pergerakan arus modal asing di pasar saham dan obligasi Indonesia. Jika investor asing menarik dana, rupiah cenderung melemah lebih dalam.

Bank Indonesia sebelumnya sudah melakukan berbagai langkah stabilisasi, termasuk intervensi di pasar valuta asing dan obligasi. Namun, tekanan global membuat upaya tersebut belum sepenuhnya mampu mengangkat rupiah secara signifikan.

Dampak ke Ekonomi dan Harga Barang

Pelemahan rupiah berpotensi mempengaruhi harga barang impor. Sektor yang bergantung pada bahan baku luar negeri bisa mengalami kenaikan biaya produksi.

Baca Juga :  Ancaman Inflasi Pangan Makin Nyata, DBS Minta Dunia Usaha Perkuat Strategi Hadapi Disrupsi

Ekonom menilai dampak ini perlu diwaspadai jika pelemahan rupiah berlangsung lebih lama. Namun, mereka juga menilai ekspor Indonesia bisa mendapat keuntungan karena harga produk lokal menjadi lebih kompetitif di pasar global.

Prospek Nilai Tukar ke Depan

Pelaku pasar masih melihat volatilitas rupiah akan berlanjut dalam jangka pendek. Pergerakan dolar AS, kebijakan The Fed, dan aliran modal asing menjadi faktor penentu utama.

Bank Indonesia diperkirakan tetap menjaga stabilitas rupiah melalui kombinasi kebijakan suku bunga dan intervensi pasar. Namun, penguatan signifikan rupiah kemungkinan membutuhkan dukungan dari perbaikan kondisi eksternal.

Kesimpulan

Rupiah memasuki awal Mei 2026 dengan tekanan yang masih kuat di kisaran Rp17.300 per dolar AS. Kombinasi faktor global dan domestik membuat mata uang Indonesia belum mampu menguat signifikan. Pelaku pasar kini menunggu arah kebijakan global dan respons lanjutan dari Bank Indonesia untuk menentukan arah pergerakan berikutnya.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Mian Buka Suara soal Masa Depan BPD: Bank Bengkulu Diminta Tancap Gas Jadi Penggerak Ekonomi Daerah
Bingung Urus OSS-RBA? BESAN ALIA DPMPTSP Dharmasraya Siap Bantu Pelaku Usaha
PEKA Bengkulu Buka Jalan Baru bagi Penerima Manfaat, Usaha Keluarga Didorong Makin Mandiri
Bupati Annisa Bongkar Beban Fiskal Dharmasraya, Tambahan TKD 2027 Jadi Harapan
Ojol Bisa Punya Motor Listrik Tanpa DP, Bunga Cicilan Ikut Dipangkas Prabowo
Sawit Tua Mulai Ditebang, Harapan Baru Petani Dharmasraya Tumbuh dari PSR Tahap III
Industri Alas Kaki Indonesia Melaju 11,3 Persen, Ekspansi Besar Menanti di Semester II 2026
Retribusi Bengkulu Baru Menyentuh 41 Persen, Sekda Desak OPD Tancap Gas Kejar Rp248 Miliar
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 21 Agustus 2026 - 15:47 WIB

Mian Buka Suara soal Masa Depan BPD: Bank Bengkulu Diminta Tancap Gas Jadi Penggerak Ekonomi Daerah

Selasa, 18 Agustus 2026 - 17:14 WIB

Bingung Urus OSS-RBA? BESAN ALIA DPMPTSP Dharmasraya Siap Bantu Pelaku Usaha

Selasa, 18 Agustus 2026 - 14:58 WIB

PEKA Bengkulu Buka Jalan Baru bagi Penerima Manfaat, Usaha Keluarga Didorong Makin Mandiri

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 06:58 WIB

Bupati Annisa Bongkar Beban Fiskal Dharmasraya, Tambahan TKD 2027 Jadi Harapan

Jumat, 14 Agustus 2026 - 17:37 WIB

Ojol Bisa Punya Motor Listrik Tanpa DP, Bunga Cicilan Ikut Dipangkas Prabowo

Berita Terbaru

Oplus_0

Sungai Penuh

SK 196 CPNS Sungai Penuh Rampung, Kapan Diserahkan?

Sabtu, 22 Agu 2026 - 19:19 WIB