JAKARTA – Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di industri tekstil tidak hanya memicu kehilangan pekerjaan. Sebaliknya, banyak mantan buruh memanfaatkan pengalaman kerja dan uang pesangon untuk membangun usaha konveksi. Langkah tersebut membuka peluang ekonomi baru sekaligus menciptakan lapangan kerja.
Alih-alih menunggu pekerjaan baru, sebagian eks pekerja langsung membeli mesin jahit bekas, menyewa ruko sederhana, lalu memulai usaha konveksi. Mereka mengubah tantangan menjadi peluang dan mulai merekrut pekerja baru ketika usaha berkembang.
Karena itu, Ikatan Pengusaha Konveksi Berkarya (IPKB) melihat munculnya peluang besar bagi sektor industri kecil dan menengah (IKM). Namun, organisasi tersebut meminta pemerintah menjaga pasar domestik agar usaha konveksi lokal mampu tumbuh secara berkelanjutan.
Eks Buruh Ubah Pesangon Menjadi Modal Usaha
Ketua Umum IPKB, Nandi Herdiaman, menjelaskan bahwa tren tersebut mulai terlihat sepanjang 2023 hingga 2024. Saat banyak perusahaan mengurangi jumlah tenaga kerja, sebagian mantan buruh langsung mengubah uang pesangon menjadi modal usaha.
Kementerian Ketenagakerjaan mencatat lebih dari 80.000 pekerja manufaktur kehilangan pekerjaan selama periode tersebut. Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) menghitung lebih dari 50.000 pekerja berasal dari sektor tekstil dan produk tekstil.
Menurut Nandi, banyak mantan pekerja membeli dua hingga tiga mesin jahit bekas, menyewa ruko kecil, lalu membuka usaha konveksi secara mandiri.
“Sebagian besar korban PHK tidak diam. Mereka menggunakan pesangon untuk membeli dua hingga tiga mesin jahit bekas, menyewa ruko kecil, dan memulai usaha konveksi mandiri. Dari buruh, mereka naik kelas menjadi pelaku IKM. Dari yang digaji, menjadi yang menggaji dua hingga lima orang,” ujarnya.
Pasar Domestik Masih Menawarkan Peluang Besar
Selain memiliki tenaga kerja berpengalaman, Indonesia juga memiliki pasar yang sangat besar. Nandi menilai kebutuhan sandang masyarakat terus menjaga permintaan produk konveksi karena pakaian termasuk kebutuhan pokok.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa sejumlah mantan buruh yang membuka usaha pada 2023 kini berhasil mengembangkan bisnis. Mereka telah mengoperasikan 10 hingga 20 mesin jahit, mempekerjakan sejumlah karyawan, dan memasarkan produk melalui berbagai platform digital.
Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa keterampilan yang mereka miliki selama bekerja di industri tekstil mampu menjadi modal penting untuk membangun usaha mandiri.
Usaha Konveksi Berpotensi Membuka Ribuan Lapangan Kerja
Selain meningkatkan pendapatan keluarga, usaha konveksi juga mendorong penciptaan lapangan kerja baru karena industri ini menyerap banyak tenaga kerja.
Sebagai contoh, apabila sekitar 1.000 mantan buruh membangun sekitar 300 usaha konveksi baru, usaha-usaha tersebut berpotensi menyediakan lebih dari 1.500 pekerjaan.
Dengan demikian, pertumbuhan IKM konveksi dapat membantu memperkuat perekonomian daerah sekaligus mengurangi angka pengangguran.
Produk Impor Murah Menekan Konveksi Lokal
Di sisi lain, Nandi mengingatkan bahwa produk impor murah masih menjadi tantangan terbesar bagi pelaku konveksi lokal.
Menurutnya, produk tekstil dengan harga sekitar US$1 hingga US$3 sempat memenuhi berbagai platform e-commerce sepanjang 2020 hingga 2023. Kondisi tersebut membuat banyak konveksi rumahan kehilangan daya saing.
Bahkan, asosiasi industri tekstil mencatat sekitar 30 persen konveksi rumahan menghentikan kegiatan usaha selama periode tersebut.
IPKB Dorong Pemerintah Perkuat Perlindungan Industri
Karena itu, IPKB meminta pemerintah memperkuat pengawasan terhadap pelaksanaan Permendag Nomor 19 Tahun 2026.
Selain itu, pemerintah perlu memastikan penerapan harga minimum, menjalankan daftar negatif produk tekstil tertentu, serta memisahkan fungsi media sosial dan marketplace agar produk impor murah tidak semakin mudah memasuki pasar Indonesia.
Selanjutnya, pemerintah juga perlu mengawasi marketplace secara berkala, memeriksa gudang pre-order, serta memberikan sanksi kepada pelaku usaha yang melanggar aturan.
Tidak hanya itu, pemerintah perlu membantu IKM baru melalui penyediaan mesin produksi modern, pelatihan desain, pendampingan pemasaran digital, akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) berbunga rendah, serta fasilitasi sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI).
“Tugas kita bersama adalah satu, jaga pasarnya, bina orangnya,” tegas Nandi.
FAQ
Mengapa banyak eks buruh tekstil membuka usaha konveksi?
Mereka memanfaatkan pengalaman kerja, keterampilan menjahit, dan uang pesangon untuk membangun usaha sendiri setelah kehilangan pekerjaan.
Berapa jumlah pekerja yang kehilangan pekerjaan?
Kementerian Ketenagakerjaan mencatat lebih dari 80.000 pekerja manufaktur kehilangan pekerjaan sepanjang 2023–2024. BPS juga menghitung lebih dari 50.000 pekerja berasal dari sektor tekstil dan produk tekstil.
Apa ancaman terbesar bagi konveksi lokal?
Produk impor murah yang masuk melalui platform digital menekan daya saing usaha konveksi lokal.
Apa langkah yang IPKB usulkan kepada pemerintah?
IPKB meminta pemerintah memperketat pengawasan perdagangan, melindungi pasar domestik, membina pelaku IKM, serta memperluas akses pembiayaan dan pelatihan.(Tim)









