Dominasi Dolar AS Belum Tumbang, Data Terbaru IMF Ungkap Mata Uang Dunia Masih Bergantung pada Greenback

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 5 Juli 2026 - 09:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Dolar Amerika Serikat (AS) kembali memperlihatkan dominasinya dalam sistem keuangan global. Data terbaru Dana Moneter Internasional (IMF) menunjukkan pangsa dolar dalam cadangan devisa dunia meningkat pada kuartal I-2026. Kondisi tersebut mempertegas bahwa dunia belum mampu melepaskan ketergantungan terhadap mata uang Negeri Paman Sam meski isu dedolarisasi terus berkembang.

Laporan Currency Composition of Official Foreign Exchange Reserves (COFER) mencatat total cadangan devisa global mencapai US$13,10 triliun pada kuartal pertama 2026. Angka tersebut sedikit turun dibandingkan US$13,15 triliun pada kuartal sebelumnya.

Namun, penurunan nilai cadangan devisa global justru beriringan dengan kenaikan pangsa dolar AS. IMF mencatat porsi dolar meningkat menjadi 57,13 persen, naik dari 56,42 persen pada kuartal IV-2025.

Dolar Menguat Berkat Efek Nilai Tukar

IMF menjelaskan penguatan kurs dolar terhadap sejumlah mata uang utama menjadi pendorong utama kenaikan pangsa dolar. Perubahan nilai tukar tersebut membuat aset berdenominasi dolar terlihat lebih besar dalam perhitungan cadangan devisa global.

Selain itu, efek valuasi menyumbang hampir separuh dari kenaikan pangsa dolar pada awal tahun ini. Artinya, bank sentral dunia tidak sepenuhnya menambah kepemilikan aset dolar dalam jumlah besar.

Meski demikian, data tersebut tetap menunjukkan posisi dolar masih sangat kuat dalam sistem keuangan internasional.

Dedolarisasi Terus Berjalan

Di sisi lain, kenaikan pangsa dolar tidak menghentikan tren dedolarisasi. Banyak bank sentral tetap menjalankan strategi diversifikasi aset untuk mengurangi ketergantungan terhadap satu mata uang.

Karena itu, sejumlah negara terus menambah kepemilikan euro, yuan China, emas, hingga berbagai mata uang lain sebagai bagian dari cadangan devisa mereka.

Langkah tersebut bertujuan menjaga stabilitas ekonomi, memperkuat nilai tukar, memenuhi kebutuhan impor, serta meningkatkan ketahanan ketika gejolak ekonomi global muncul.

Dolar Masih Sulit Tergantikan

Meski tren diversifikasi terus berkembang, dolar AS tetap memegang keunggulan yang sulit disaingi mata uang lain.

Baca Juga :  Harga Emas Antam Hari Ini 30 Mei 2026 Masih Bertahan, Saat Tepat Menambah Koleksi atau Menunggu Momentum Baru?

Pasar keuangan Amerika Serikat menawarkan likuiditas yang sangat tinggi. Selain itu, investor global masih menjadikan surat utang pemerintah AS atau US Treasury sebagai salah satu aset paling aman dan paling mudah diperdagangkan.

Keunggulan tersebut membuat bank sentral di berbagai negara tetap mempertahankan porsi besar aset berdenominasi dolar dalam cadangan devisa mereka.

Harga Emas Naik, Peran Dolar Tetap Kuat

IMF juga menyoroti kenaikan nilai emas dalam cadangan resmi global sepanjang 2025. Bahkan, nilai kepemilikan emas sempat melampaui US Treasury.

Namun, lonjakan harga emas menjadi faktor utama di balik kenaikan tersebut. Dengan kata lain, kenaikan harga logam mulia mendorong nilai cadangan emas tanpa harus mengurangi kepemilikan dolar secara signifikan.

Selain itu, laporan COFER hanya menghitung komposisi cadangan berdasarkan mata uang. Karena itu, IMF tidak memasukkan emas sebagai mata uang cadangan seperti dolar, euro, yen, maupun yuan.

Euro Melemah, Yuan Terus Bertambah

Sementara itu, euro masih menempati posisi kedua sebagai mata uang cadangan terbesar dunia. Meski demikian, pangsanya turun menjadi 20,03 persen dari sebelumnya 20,38 persen.

Sebaliknya, yuan China kembali mencatat kenaikan tipis. Pangsa yuan meningkat menjadi 1,99 persen dari 1,95 persen pada kuartal sebelumnya.

Walaupun porsinya masih kecil, kenaikan tersebut menunjukkan semakin banyak negara mulai memanfaatkan yuan dalam perdagangan internasional dan transaksi lintas negara.

Akan tetapi, yuan masih menghadapi tantangan besar. Pasar keuangan China belum memiliki kedalaman yang setara dengan Amerika Serikat. Di samping itu, kebijakan kontrol modal dan tingkat kepercayaan investor global juga masih membatasi laju pertumbuhan yuan.

Yen Jepang Mengalami Penurunan Terbesar

Di antara mata uang utama dunia, yen Jepang mencatat penurunan paling besar pada kuartal I-2026.

IMF mencatat pangsa yen turun dari 5,84 persen menjadi 5,44 persen. Penurunan tersebut mencapai 0,4 poin persentase.

Selain perubahan kurs, IMF juga mengaitkan penurunan itu dengan pergerakan harga obligasi pemerintah dan perubahan imbal hasil (yield). Kedua faktor tersebut memengaruhi nilai portofolio cadangan devisa yang dikelola bank sentral.

Baca Juga :  BCA Bagi Dividen Rp336 per Saham, Siap Tebar Interim Tiga Kali 2026

Di sisi lain, pound sterling dan dolar Kanada ikut mengalami penurunan tipis. Sebaliknya, dolar Australia serta franc Swiss berhasil mencatat kenaikan meski masih terbatas.

Diversifikasi Cadangan Devisa Terus Berlangsung

Kelompok mata uang lain di luar kategori utama masih menguasai 6,18 persen cadangan devisa global pada kuartal I-2026.

Memang, angka tersebut sedikit turun dibanding kuartal sebelumnya. Namun, porsinya tetap berada di atas enam persen sehingga memperlihatkan proses diversifikasi belum berhenti.

Fenomena ini menunjukkan perubahan sistem keuangan global berlangsung secara bertahap. Banyak bank sentral tidak langsung meninggalkan dolar, melainkan terus menambah porsi berbagai mata uang alternatif sebagai pelengkap cadangan devisa.

Pada akhirnya, dolar AS masih mempertahankan status sebagai mata uang cadangan utama dunia. Sementara itu, dedolarisasi kemungkinan akan terus berlangsung secara perlahan seiring meningkatnya peran mata uang alternatif dalam perdagangan dan investasi global.

FAQ

Mengapa pangsa dolar AS kembali meningkat?

Penguatan nilai tukar dolar terhadap berbagai mata uang utama menjadi faktor terbesar. Efek valuasi tersebut membuat nilai aset berdenominasi dolar meningkat dalam perhitungan cadangan devisa global.

Apakah dedolarisasi sudah berakhir?

Belum. Banyak negara masih menjalankan strategi diversifikasi cadangan devisa melalui euro, yuan, emas, dan mata uang lainnya. Namun, proses tersebut berlangsung secara bertahap.

Mengapa dolar masih menjadi mata uang cadangan utama?

Dolar menawarkan likuiditas tinggi, didukung pasar keuangan Amerika Serikat yang sangat besar, serta memiliki instrumen investasi seperti US Treasury yang mudah diperjualbelikan dan dipercaya investor global.

Bagaimana perkembangan yuan China?

Yuan memang mencatat kenaikan pangsa dalam cadangan devisa global. Namun, porsinya masih jauh di bawah dolar dan euro sehingga belum mampu menjadi pesaing utama dalam waktu dekat.(Tim)

Berita Terkait

Promo Shopee 5 Juli 2026 Banjir Diskon, Traktiran Serba Rp7 hingga Potongan Rp188 Ribu Siap Diburu
Harga Sawit Kalbar Terbaru 2026 Melonjak, TBS Usia Produktif Tembus Rp3.519 per Kg, Cek Daftar Lengkapnya
Pertamina Jamin Pasokan BBM untuk Koperasi Nelayan Merah Putih, Ekonomi Pesisir Siap Melaju Lebih Kencang
Bengkulu Bidik PAD Baru dari Perkebunan Sawit, Pajak Air Permukaan Mulai Disiapkan untuk 2027
Harga Avtur Turun, Tiket Pesawat Belum Bergeming! Ini Penyebab Tarif Penerbangan Domestik Masih Mahal Juli 2026
Promo Shopee 4 Juli 2026: Diskon 50 Persen, Voucher Rp188 Ribu dan Promo Serba Rp7 Jadi Buruan
Koperasi Siap Kuasai Bisnis Sawit dari Hulu ke Hilir, Pemerintah Bidik Produksi CPO hingga Minyak Goreng
Perpres KopDes Merah Putih Dikebut, Pengamat Ungkap Tantangan Terbesar Justru Bukan Soal Regulasi
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 5 Juli 2026 - 09:00 WIB

Dominasi Dolar AS Belum Tumbang, Data Terbaru IMF Ungkap Mata Uang Dunia Masih Bergantung pada Greenback

Minggu, 5 Juli 2026 - 07:00 WIB

Promo Shopee 5 Juli 2026 Banjir Diskon, Traktiran Serba Rp7 hingga Potongan Rp188 Ribu Siap Diburu

Sabtu, 4 Juli 2026 - 20:00 WIB

Harga Sawit Kalbar Terbaru 2026 Melonjak, TBS Usia Produktif Tembus Rp3.519 per Kg, Cek Daftar Lengkapnya

Sabtu, 4 Juli 2026 - 11:00 WIB

Bengkulu Bidik PAD Baru dari Perkebunan Sawit, Pajak Air Permukaan Mulai Disiapkan untuk 2027

Sabtu, 4 Juli 2026 - 09:00 WIB

Harga Avtur Turun, Tiket Pesawat Belum Bergeming! Ini Penyebab Tarif Penerbangan Domestik Masih Mahal Juli 2026

Berita Terbaru