SUNGAI PENUH – Dugaan pungutan liar (pungli) di Pasar Tanjung Bajure, Kota Sungai Penuh, terus memicu keluhan pedagang. Praktik ini sudah lama terjadi. Oknum tertentu menjalankan pungli. Kondisi ini menambah beban pelaku usaha kecil.
Sejumlah pedagang mengaku harus membayar pungutan setiap hari. Oknum menarik biaya dengan berbagai alasan. Mereka menyebut kebersihan dan keamanan. Mereka juga menarik pungutan lain tanpa dasar hukum yang jelas.
“Kalau dihitung, sehari bisa sampai Rp17 ribu,” ujar seorang pedagang.
Pedagang merasa pungutan itu sangat memberatkan. Biaya tambahan ini langsung mengurangi keuntungan harian. Penjualan juga tidak selalu stabil.
Keluhan pedagang kini mendapat perhatian DPRD Kota Sungai Penuh. Anggota DPRD, Hardizal, menegaskan langkah tegas.
Ia mendorong pembentukan panitia khusus (pansus). DPRD akan menyelidiki dugaan pungli secara menyeluruh. DPRD ingin memastikan praktik ini tidak terus merugikan pedagang.
“Masalah ini tidak bisa dibiarkan. Kami akan dorong pembentukan pansus,” tegas Hardizal.
DPRD berharap langkah ini bisa mengungkap pihak yang terlibat. DPRD juga ingin menghentikan praktik pungli di pasar. Pedagang berharap pemerintah segera bertindak. Mereka ingin aktivitas jual beli berjalan adil dan nyaman.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









