Konglomerat RI Bisnis Tol, Dari Salim hingga Jusuf Hamka Kuasai Proyek Triliunan

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 2 Mei 2026 - 14:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Bisnis jalan tol di Indonesia terus menarik perhatian para konglomerat. Sektor ini menawarkan arus kas stabil dalam jangka panjang sekaligus membuka peluang integrasi dengan proyek properti dan kawasan industri. Tak heran, sejumlah pengusaha besar berlomba memperluas portofolio mereka di sektor infrastruktur strategis ini.

Dalam beberapa tahun terakhir, proyek jalan tol berkembang pesat. Pemerintah mendorong pembangunan konektivitas antarwilayah untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi. Situasi ini dimanfaatkan para konglomerat untuk memperkuat posisi bisnis mereka.

Sektor Tol Jadi Mesin Uang Baru

Para pengusaha melihat bisnis tol sebagai investasi jangka panjang yang menjanjikan. Pendapatan berasal dari tarif pengguna jalan yang relatif stabil. Selain itu, proyek tol juga meningkatkan nilai kawasan di sekitarnya.

Banyak grup besar mengintegrasikan pembangunan tol dengan pengembangan properti, kawasan industri, hingga pusat komersial. Strategi ini memberi nilai tambah dan mempercepat pengembalian investasi.

Jusuf Hamka Jadi Pelopor Swasta

Nama Jusuf Hamka dikenal sebagai salah satu pionir jalan tol swasta di Indonesia. Ia mengelola bisnis ini melalui PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk. (CMNP).

Baca Juga :  Saham TIRT dan VISI Kembali Diperdagangkan

Perusahaannya mengoperasikan sejumlah ruas strategis yang berperan penting dalam mobilitas di wilayah perkotaan. Jusuf Hamka konsisten memperluas bisnisnya di sektor ini.

Salim Group Perkuat Dominasi

Anthoni Salim juga agresif memperluas bisnis tol melalui Grup Salim. Perusahaannya, PT Nusantara Infrastructure Tbk. (META), terus menambah portofolio jalan tol.

Langkah besar terbaru datang dari akuisisi 35% saham PT Jasamarga Transjawa Tol (JTT). Nilai transaksi mencapai Rp15,75 triliun. Aksi ini memperkuat posisi Salim Group di jaringan tol Trans Jawa.

Aguan Kembangkan Tol Terintegrasi

Sugianto Kusuma atau Aguan mengembangkan proyek Tol Kamal–Teluknaga–Rajeg. Nilai proyek ini mencapai Rp23,22 triliun.

Ia menghubungkan jalan tol tersebut dengan kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) 2. Strategi ini menunjukkan integrasi antara infrastruktur dan properti yang semakin kuat.

Sinar Mas Ikut Ekspansi

Eka Tjipta Widjaja melalui Sinar Mas Group juga masuk ke bisnis jalan tol. Grup ini menjalankan proyek lewat PT Trans Bumi Serbaraja.

Baca Juga :  Daftar 10 Orang Terkaya di Indonesia Versi Forbes 

Salah satu proyek utama mereka adalah Tol Serpong–Balaraja. Proyek ini masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) dan diharapkan memperkuat konektivitas kawasan.

Astra Tak Mau Ketinggalan

William Soerjadjaja sebagai pendiri Astra International juga memiliki lini bisnis jalan tol. Astra mengelola sektor ini melalui Astra Tol Nusantara.

Perusahaan tersebut mengoperasikan sejumlah ruas penting di Indonesia. Astra terus memperluas jaringan untuk memperkuat posisi di sektor infrastruktur.

Persaingan Makin Ketat

Persaingan di bisnis jalan tol semakin ketat. Para konglomerat berlomba mengamankan proyek baru dan meningkatkan efisiensi operasional.

Selain itu, kebutuhan pendanaan yang besar membuat mereka sering menggandeng mitra strategis. Kolaborasi ini membantu mempercepat pembangunan proyek berskala besar.

Di sisi lain, pemerintah tetap memegang peran penting dalam regulasi dan perencanaan. Sinergi antara pemerintah dan swasta menjadi kunci keberhasilan pembangunan infrastruktur nasional.

Dengan potensi pertumbuhan yang masih besar, bisnis jalan tol diprediksi tetap menjadi primadona. Para konglomerat pun terus mengincar peluang baru untuk memperluas kerajaan bisnis mereka.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Ekspor Kopi Robusta Bengkulu ke Italia Tembus 19,2 Ton, Pasar Eropa Mulai Terbuka
Transformasi Telkom Berbuah Manis, Arus Kas Rp34,9 Triliun dan Laba Terus Menanjak pada Semester I 2026
Koperasi Merah Putih di Jakarta Mulai Raup Untung, Ini Strategi Pengurus Menang di Tengah Gempuran Minimarket
Biodiesel Sawit Resmi Menggerakkan Lokomotif KAI, Transisi Energi Makin Nyata
Bupati Solok Selatan Kawal Pembaruan HGU PT Mitra Kerinci, Tegaskan Investasi Harus Sejalan dengan Kepentingan Masyarakat
Bengkulu Siapkan Pabrik Biodiesel, Langkah Awal Menuju Sentra Energi Sawit Nasional Dimulai
Mulai 1 Agustus, Jutaan Seller Shopee, TikTok Shop hingga Marketplace Lain Bakal Nikmati Diskon Biaya Layanan 50 Persen
Emas Pegadaian Mendadak Kompak Menguat Hari Ini 25 Juni 2026, Investor Langsung Bidik Antam, UBS dan Galeri 24
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 8 September 2026 - 08:00 WIB

Ekspor Kopi Robusta Bengkulu ke Italia Tembus 19,2 Ton, Pasar Eropa Mulai Terbuka

Minggu, 2 Agustus 2026 - 16:19 WIB

Transformasi Telkom Berbuah Manis, Arus Kas Rp34,9 Triliun dan Laba Terus Menanjak pada Semester I 2026

Kamis, 16 Juli 2026 - 11:00 WIB

Koperasi Merah Putih di Jakarta Mulai Raup Untung, Ini Strategi Pengurus Menang di Tengah Gempuran Minimarket

Rabu, 15 Juli 2026 - 18:00 WIB

Biodiesel Sawit Resmi Menggerakkan Lokomotif KAI, Transisi Energi Makin Nyata

Rabu, 15 Juli 2026 - 17:00 WIB

Bupati Solok Selatan Kawal Pembaruan HGU PT Mitra Kerinci, Tegaskan Investasi Harus Sejalan dengan Kepentingan Masyarakat

Berita Terbaru

Sungai Penuh

Jalur Sungai Penuh–Tapan Kembali Bisa Dilalui, Sistem Buka Tutup

Rabu, 28 Okt 2026 - 23:57 WIB

Oplus_0

Sungai Penuh

Longsor Sako, Jalur Sungai Penuh–Tapan Lumpuh Total

Rabu, 28 Okt 2026 - 22:27 WIB