Harga BBM 13 Mei 2026 Stabil, Pertalite Tetap Jadi yang Paling Murah di SPBU

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 13 Mei 2026 - 10:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia pada Rabu, 13 Mei 2026, bergerak stabil di sebagian besar SPBU. Pertamina dan operator swasta tidak mengubah harga secara signifikan dibandingkan awal bulan. Kondisi ini memberi kepastian bagi konsumen, terutama pengguna kendaraan harian yang sangat bergantung pada fluktuasi harga energi.

Pertamina Jaga Harga BBM Subsidi Tetap Stabil

Pertamina mempertahankan harga BBM subsidi tanpa perubahan. Perusahaan tetap menyalurkan Pertalite sebagai bahan bakar utama masyarakat dengan harga sekitar Rp10.000 per liter. Pemerintah terus menjaga skema subsidi agar kelompok pengguna tertentu tetap mendapat akses energi dengan harga terjangkau.

Pertamina juga mempertahankan harga Biosolar subsidi di kisaran Rp6.800 per liter. Kebijakan ini mendukung sektor transportasi barang, nelayan, dan pelaku usaha kecil yang sangat bergantung pada solar murah.

BBM Non-Subsidi Tahan Diri di Level Menengah

Pertamina tidak mengubah harga BBM non-subsidi pada periode ini. Pertamax tetap berada di kisaran Rp12.300 per liter. Pertamax Green 95 juga bertahan di sekitar Rp12.900 per liter, sementara Pertamax Turbo berada di kisaran Rp19.900 per liter.

Stabilnya harga ini menunjukkan strategi Pertamina untuk menjaga daya saing di tengah kompetisi dengan SPBU swasta. Perusahaan juga berupaya menjaga pasokan tetap aman di seluruh wilayah Indonesia, termasuk Sumatra dan daerah-daerah luar Jawa.

Baca Juga :  KKV Masuk Indonesia, Buka 10 Toko di 6 Kota Besar Bidik Konsumen Muda

SPBU Swasta Ikut Menjaga Harga Kompetitif

SPBU swasta seperti BP, Vivo, dan Shell ikut mempertahankan harga di level yang tidak jauh berbeda dari bulan sebelumnya. BP 92 dan Vivo Revvo 92 berada di kisaran Rp12.390 per liter. Shell juga menempatkan produk bensin setara di kisaran harga yang sama.

Pada segmen diesel, SPBU swasta menetapkan harga lebih tinggi. BP Ultimate Diesel dan produk sejenis dari operator lain berada di kisaran Rp29.000 hingga Rp30.000 per liter. Operator swasta menyesuaikan harga dengan biaya impor dan fluktuasi minyak dunia.

Faktor Global Menahan Perubahan Harga BBM

Pelaku industri energi melihat harga minyak dunia cenderung stabil dalam beberapa pekan terakhir. Pasar minyak mentah tidak menunjukkan lonjakan signifikan yang biasanya mendorong kenaikan harga BBM di dalam negeri.

Nilai tukar rupiah juga bergerak stabil terhadap dolar Amerika Serikat. Kondisi ini membantu pemerintah dan pelaku usaha menahan tekanan biaya impor bahan bakar. Kombinasi dua faktor ini membuat harga BBM tetap terkendali.

Baca Juga :  BPKH Buka Rekrutmen 2026, Kesempatan Emas Isi 9 Posisi Strategis untuk Perkuat Pengelolaan Dana Haji

Dampak ke Konsumen dan Transportasi

Pengendara kendaraan pribadi merasakan manfaat dari stabilnya harga BBM. Biaya operasional harian tidak mengalami lonjakan, sehingga masyarakat bisa mengatur pengeluaran dengan lebih baik.

Pelaku usaha transportasi dan logistik juga menjaga tarif mereka tanpa perubahan besar. Mereka menilai stabilitas harga BBM memberi ruang untuk mempertahankan margin usaha di tengah biaya operasional lain yang tetap tinggi.

Prospek Harga ke Depan

Analis energi memperkirakan harga BBM masih akan bergerak stabil dalam jangka pendek jika tidak terjadi gejolak geopolitik atau kenaikan tajam harga minyak dunia. Namun, mereka tetap mengingatkan potensi penyesuaian harga jika kondisi global berubah cepat.

Pemerintah dan badan usaha milik negara terus memantau perkembangan pasar energi. Mereka menyiapkan langkah antisipasi agar pasokan tetap aman dan harga tidak membebani masyarakat.

Kesimpulan

Harga BBM pada 13 Mei 2026 menunjukkan stabilitas di semua segmen utama. Pertalite tetap menjadi pilihan termurah, sementara BBM non-subsidi dan produk swasta bertahan di kisaran menengah hingga tinggi. Kondisi ini mencerminkan keseimbangan antara kebijakan pemerintah, dinamika pasar global, dan kebutuhan masyarakat.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

SIMPEDA Nasional 2026 Guncang Bengkulu, Ungu Bikin Malam Puncak Makin Spektakuler
Mian Buka Suara soal Masa Depan BPD: Bank Bengkulu Diminta Tancap Gas Jadi Penggerak Ekonomi Daerah
Bingung Urus OSS-RBA? BESAN ALIA DPMPTSP Dharmasraya Siap Bantu Pelaku Usaha
PEKA Bengkulu Buka Jalan Baru bagi Penerima Manfaat, Usaha Keluarga Didorong Makin Mandiri
Bupati Annisa Bongkar Beban Fiskal Dharmasraya, Tambahan TKD 2027 Jadi Harapan
Ojol Bisa Punya Motor Listrik Tanpa DP, Bunga Cicilan Ikut Dipangkas Prabowo
Sawit Tua Mulai Ditebang, Harapan Baru Petani Dharmasraya Tumbuh dari PSR Tahap III
Industri Alas Kaki Indonesia Melaju 11,3 Persen, Ekspansi Besar Menanti di Semester II 2026
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 23 Agustus 2026 - 07:17 WIB

SIMPEDA Nasional 2026 Guncang Bengkulu, Ungu Bikin Malam Puncak Makin Spektakuler

Jumat, 21 Agustus 2026 - 15:47 WIB

Mian Buka Suara soal Masa Depan BPD: Bank Bengkulu Diminta Tancap Gas Jadi Penggerak Ekonomi Daerah

Selasa, 18 Agustus 2026 - 17:14 WIB

Bingung Urus OSS-RBA? BESAN ALIA DPMPTSP Dharmasraya Siap Bantu Pelaku Usaha

Selasa, 18 Agustus 2026 - 14:58 WIB

PEKA Bengkulu Buka Jalan Baru bagi Penerima Manfaat, Usaha Keluarga Didorong Makin Mandiri

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 06:58 WIB

Bupati Annisa Bongkar Beban Fiskal Dharmasraya, Tambahan TKD 2027 Jadi Harapan

Berita Terbaru