Rupiah Tembus Rp17.500 per Dolar AS, Investor Global Masih Serbu Aset Aman

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 13 Mei 2026 - 08:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat masih bergerak di zona lemah pada perdagangan Rabu, 13 Mei 2026. Mata uang Garuda bertahan di kisaran Rp17.500 per dolar AS setelah tekanan eksternal terus mendominasi pasar keuangan global.

Data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia menunjukkan kurs rupiah berada di sekitar Rp17.514 per dolar AS pada penutupan terakhir. Angka tersebut mencerminkan tekanan yang belum mereda dalam beberapa pekan terakhir.

Pelaku pasar masih menempatkan dolar AS sebagai aset aman di tengah ketidakpastian ekonomi global. Kondisi itu mendorong permintaan dolar meningkat dan memberi tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dolar AS Masih Mendominasi Pasar Global

Penguatan dolar AS terjadi seiring ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat. Investor global masih menunggu arah kebijakan moneter terbaru dari bank sentral AS atau The Federal Reserve.

Sejumlah analis menilai pasar belum melihat sinyal kuat terkait penurunan suku bunga acuan AS dalam waktu dekat. Situasi tersebut membuat arus modal asing cenderung mengalir ke instrumen berbasis dolar.

Di sisi lain, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS juga menarik perhatian investor global. Banyak pelaku pasar memilih memindahkan dana mereka ke aset yang menawarkan tingkat pengembalian lebih tinggi dan risiko lebih rendah.

Baca Juga :  Harga Emas Antam Hari Ini 7 April 2026, Rp 2,7 Juta per Gram

Tekanan terhadap rupiah semakin besar karena sebagian investor mengurangi eksposur di pasar negara berkembang. Kondisi tersebut ikut memengaruhi pergerakan saham dan obligasi domestik.

Harga Minyak dan Geopolitik Menambah Tekanan

Kenaikan harga minyak dunia ikut memengaruhi pergerakan rupiah dalam beberapa hari terakhir. Konflik geopolitik di sejumlah kawasan mendorong kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global.

Indonesia sebagai negara pengimpor minyak menghadapi risiko peningkatan kebutuhan devisa ketika harga energi naik. Situasi itu dapat meningkatkan permintaan dolar AS di pasar domestik.

Selain itu, ketegangan geopolitik global juga memicu sikap hati-hati investor. Mereka cenderung mengurangi investasi di aset berisiko dan memilih instrumen yang dianggap lebih aman.

Sentimen tersebut terlihat dari pergerakan mata uang Asia yang mayoritas melemah terhadap dolar AS pada perdagangan pekan ini.

Bank Indonesia Terus Menjaga Stabilitas

Bank Indonesia terus melakukan berbagai langkah stabilisasi untuk menjaga nilai tukar rupiah. Otoritas moneter aktif berada di pasar valuta asing serta memperkuat strategi intervensi di pasar obligasi dan domestic non-deliverable forward (DNDF).

Bank sentral juga menjaga likuiditas pasar agar volatilitas rupiah tidak bergerak terlalu tajam. Langkah tersebut bertujuan mempertahankan kepercayaan pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi nasional.

Sejumlah ekonom menilai fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya masih cukup kuat. Inflasi domestik tetap terkendali dan pertumbuhan ekonomi nasional masih berada di zona positif.

Baca Juga :  Amerika Panen di Tengah Perang Iran, Ekspor Minyak Tembus Rekor Tertinggi

Namun, tekanan eksternal yang sangat besar membuat rupiah sulit bergerak stabil dalam jangka pendek. Karena itu, pasar masih akan memantau perkembangan global sebagai faktor utama penggerak kurs.

Pelaku Usaha Diminta Waspada

Pelemahan rupiah memberi dampak langsung terhadap dunia usaha, terutama sektor yang bergantung pada bahan baku impor. Kenaikan kurs dolar dapat meningkatkan biaya produksi dan menekan margin perusahaan.

Importir, industri manufaktur, hingga pelaku usaha teknologi menjadi kelompok yang paling merasakan dampak pelemahan mata uang domestik. Sebaliknya, eksportir justru berpotensi memperoleh keuntungan dari penguatan dolar AS.

Pengamat ekonomi meminta pelaku usaha memperkuat strategi lindung nilai atau hedging untuk mengurangi risiko fluktuasi kurs. Langkah tersebut penting agar perusahaan tetap mampu menjaga stabilitas keuangan di tengah gejolak pasar global.

Pasar Masih Menunggu Arah Baru

Pelaku pasar kini menunggu data inflasi Amerika Serikat dan sinyal terbaru dari Federal Reserve. Kedua faktor tersebut akan menentukan arah pergerakan dolar AS dalam beberapa pekan mendatang.

Jika tekanan global mulai mereda, rupiah berpeluang kembali menguat secara bertahap. Namun, selama dolar AS masih mendominasi pasar internasional, tekanan terhadap rupiah kemungkinan tetap berlangsung.

Analis memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif dalam rentang Rp17.400 hingga Rp17.600 per dolar AS pada perdagangan jangka pendek.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Dominasi Dolar AS Belum Tumbang, Data Terbaru IMF Ungkap Mata Uang Dunia Masih Bergantung pada Greenback
Promo Shopee 5 Juli 2026 Banjir Diskon, Traktiran Serba Rp7 hingga Potongan Rp188 Ribu Siap Diburu
Harga Sawit Kalbar Terbaru 2026 Melonjak, TBS Usia Produktif Tembus Rp3.519 per Kg, Cek Daftar Lengkapnya
Pertamina Jamin Pasokan BBM untuk Koperasi Nelayan Merah Putih, Ekonomi Pesisir Siap Melaju Lebih Kencang
Bengkulu Bidik PAD Baru dari Perkebunan Sawit, Pajak Air Permukaan Mulai Disiapkan untuk 2027
Harga Avtur Turun, Tiket Pesawat Belum Bergeming! Ini Penyebab Tarif Penerbangan Domestik Masih Mahal Juli 2026
Promo Shopee 4 Juli 2026: Diskon 50 Persen, Voucher Rp188 Ribu dan Promo Serba Rp7 Jadi Buruan
Koperasi Siap Kuasai Bisnis Sawit dari Hulu ke Hilir, Pemerintah Bidik Produksi CPO hingga Minyak Goreng
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 5 Juli 2026 - 09:00 WIB

Dominasi Dolar AS Belum Tumbang, Data Terbaru IMF Ungkap Mata Uang Dunia Masih Bergantung pada Greenback

Minggu, 5 Juli 2026 - 07:00 WIB

Promo Shopee 5 Juli 2026 Banjir Diskon, Traktiran Serba Rp7 hingga Potongan Rp188 Ribu Siap Diburu

Sabtu, 4 Juli 2026 - 18:00 WIB

Pertamina Jamin Pasokan BBM untuk Koperasi Nelayan Merah Putih, Ekonomi Pesisir Siap Melaju Lebih Kencang

Sabtu, 4 Juli 2026 - 11:00 WIB

Bengkulu Bidik PAD Baru dari Perkebunan Sawit, Pajak Air Permukaan Mulai Disiapkan untuk 2027

Sabtu, 4 Juli 2026 - 09:00 WIB

Harga Avtur Turun, Tiket Pesawat Belum Bergeming! Ini Penyebab Tarif Penerbangan Domestik Masih Mahal Juli 2026

Berita Terbaru