JAKARTA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai Indonesia perlu mengubah peran di industri antariksa. Selama ini, Indonesia lebih banyak membeli teknologi satelit dari luar negeri. Kini, Indonesia perlu bertransformasi menjadi produsen satelit untuk memperkuat kemandirian teknologi dan meningkatkan posisi di industri antariksa global.
Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (ORPA) BRIN, Robertus Heru Triharjanto, menegaskan, negara lain yang memproduksi satelit dan menyediakan layanan peluncuran mendapatkan nilai strategis terbesar. “Indonesia masih mengandalkan teknologi dari luar, padahal produsen mendapatkan keuntungan strategis,” ujarnya, Jumat (13/3/2026).
Saat ini, para peneliti membangun kemampuan nasional secara bertahap. Meskipun sebagian besar komponen satelit masih berasal dari luar negeri, mereka mulai mengembangkan komponen di dalam negeri. Beberapa teknologi yang sudah mereka kembangkan meliputi reaction wheel, star sensor, dan sistem kamera satelit. Komponen ini penting karena mendukung navigasi dan pengamatan satelit di orbit.
Heru menambahkan, dengan memproduksi satelit sendiri, Indonesia akan memperkuat kemandirian teknologi, membuka peluang industri satelit nasional, dan mendorong kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri. Selain itu, program ini memberikan pengalaman langsung bagi peneliti muda dan mahasiswa dalam merancang, mengintegrasikan, dan menguji satelit.
Sebenarnya, pengembangan satelit di Indonesia sudah dimulai sejak LAPAN-A1. Peneliti bekerja sama dengan Technical University Berlin sejak 2003, kemudian meluncurkan satelit ini pada 10 Januari 2007 menggunakan roket PSLV-C7 milik Indian Space Research Organisation dari Satish Dhawan Space Centre, India.
Keberhasilan LAPAN-A1 menjadi tonggak penting teknologi antariksa nasional. Menurut Heru, kemajuan tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada visi, kepemimpinan, dan kerja sama tim. Dengan demikian, melalui riset dan kolaborasi berkelanjutan, Indonesia akan mampu memproduksi satelit sendiri dan bersaing di industri antariksa global.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









