BMKG Ungkap Puncak Kemarau 2026 Jatuh di Agustus, Ini Wilayah Paling Kering dan Dampaknya ke Indonesia

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 29 Mei 2026 - 16:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Beberapa wilayah di Indonesia belakangan mulai merasakan peningkatan suhu yang lebih panas dan udara yang lebih kering. Kondisi ini sering menjadi tanda awal transisi menuju musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah merilis prediksi terbaru terkait pola musim kemarau 2026, termasuk kapan puncaknya terjadi dan wilayah mana saja yang paling terdampak.

Berdasarkan analisis klimatologi BMKG, musim kemarau tahun 2026 tidak hanya berbeda waktu mulainya di tiap wilayah, tetapi juga menunjukkan variasi durasi serta tingkat kekeringan yang tidak seragam di seluruh Indonesia.

Awal Musim Kemarau 2026 Tidak Serentak

BMKG menjelaskan bahwa awal musim kemarau 2026 tidak terjadi secara bersamaan di seluruh Indonesia. Di Pulau Jawa, kemarau diperkirakan mulai lebih awal, yakni pada April hingga Mei. Sementara itu, wilayah lain seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, hingga Papua akan memasuki musim kemarau pada periode Mei hingga Agustus.

Perbedaan waktu ini dipengaruhi oleh dinamika atmosfer regional, termasuk pergerakan angin monsun serta kondisi suhu permukaan laut yang memengaruhi pembentukan awan hujan.

Menariknya, BMKG juga mencatat adanya perbedaan durasi musim kemarau di beberapa wilayah. Di Sumatera bagian tengah dan selatan, Kalimantan bagian timur, serta sebagian Sulawesi, durasi kemarau diprediksi relatif sama atau lebih pendek dibandingkan rata-rata normal 1991–2020. Namun di Pulau Jawa, sebagian besar wilayah justru berpotensi mengalami kemarau yang lebih panjang dari biasanya.

Puncak Kemarau Diprediksi Terjadi Agustus 2026

BMKG memprediksi bahwa puncak musim kemarau 2026 akan terjadi pada Agustus, mencakup sekitar 61,4% wilayah Indonesia atau setara dengan 429 zona musim (ZOM). Ini menjadikan Agustus sebagai periode paling kering secara nasional.

Baca Juga :  Dedi Mulyadi Ubah Mobil Dinas Jadi Rumah Sakit Keliling

Selain Agustus, beberapa wilayah juga mengalami puncak kemarau lebih awal atau lebih lambat. Sekitar 12,6% wilayah diperkirakan mencapai puncaknya pada Juli, sedangkan 14,3% lainnya baru mencapai puncak kemarau pada September.

Pada periode puncak ini, kondisi kering diperkirakan meluas ke berbagai wilayah penting di Indonesia, termasuk:

Sumatera bagian tengah dan selatan

Jawa Tengah hingga Jawa Timur

Sebagian besar Kalimantan

Sebagian besar Sulawesi

Seluruh Bali dan Nusa Tenggara

Sebagian wilayah Maluku dan Papua

Dengan cakupan yang luas tersebut, Agustus 2026 diperkirakan menjadi periode paling kritis dalam siklus musim kemarau tahun ini.

Kondisi Kemarau: Lebih Kering dari Biasanya

Selain waktu puncaknya, BMKG juga menyoroti karakteristik musim kemarau 2026. Secara umum, sifat kemarau tahun ini diprediksi cenderung lebih kering dibandingkan kondisi normal.

Sekitar 64,5% wilayah Indonesia atau 451 ZOM diperkirakan mengalami kondisi di bawah normal, yang berarti curah hujan lebih rendah dari rata-rata historis. Sementara itu, sekitar 35,1% wilayah berada dalam kategori normal, dan hanya sebagian kecil sekitar 0,4% yang berpotensi lebih basah dari biasanya.

Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia perlu mewaspadai potensi kekeringan, terutama di sektor pertanian, ketersediaan air bersih, dan risiko kebakaran lahan.

Dampak yang Perlu Diantisipasi Masyarakat

Musim kemarau yang cenderung lebih panjang dan kering dapat memberikan sejumlah dampak langsung di lapangan. Di sektor pertanian, misalnya, petani perlu menyesuaikan pola tanam karena ketersediaan air irigasi bisa menurun.

Selain itu, wilayah perkotaan juga berpotensi mengalami peningkatan konsumsi air bersih. Dalam kondisi ekstrem, beberapa daerah bahkan dapat menghadapi keterbatasan suplai air jika tidak dilakukan pengelolaan yang baik.

Baca Juga :  MUI Apresiasi Kapolri Tegak Lurus pada Presiden

Risiko kebakaran hutan dan lahan juga cenderung meningkat, terutama di wilayah yang memiliki vegetasi kering dan aktivitas pembukaan lahan.

Faktor yang Mempengaruhi Pola Kemarau

BMKG menyebutkan bahwa variasi musim kemarau di Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor atmosfer dan oseanografi. Di antaranya adalah fenomena monsun Asia-Australia, suhu permukaan laut di Samudra Pasifik dan Hindia, serta dinamika global seperti El Niño atau La Niña.

Kombinasi faktor-faktor ini dapat memperkuat atau melemahkan intensitas musim kemarau di suatu wilayah, sehingga tidak semua daerah mengalami dampak yang sama.

Prediksi BMKG mengenai musim kemarau 2026 memberikan gambaran penting bagi masyarakat dan pemerintah untuk bersiap lebih awal. Dengan puncak kemarau yang diperkirakan terjadi pada Agustus dan kondisi yang cenderung lebih kering dari biasanya, langkah mitigasi menjadi kunci untuk mengurangi dampak yang mungkin terjadi di berbagai sektor kehidupan.

FAQ

1. Kapan puncak musim kemarau 2026 di Indonesia?

Puncaknya diprediksi terjadi pada Agustus 2026 dan mencakup lebih dari setengah wilayah Indonesia.

2. Apakah semua daerah mengalami kemarau di waktu yang sama?

Tidak. Awal dan puncak kemarau berbeda-beda tergantung wilayah.

3. Apakah kemarau 2026 lebih kering dari biasanya?

Ya, sebagian besar wilayah diprediksi mengalami kondisi lebih kering dari normal.

4. Wilayah mana yang paling terdampak?

Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, serta sebagian Sumatera dan Papua termasuk wilayah yang terdampak luas.

5. Apa dampak utama musim kemarau panjang?

Dampaknya meliputi kekurangan air, gangguan pertanian, hingga meningkatnya risiko kebakaran lahan.

Penulis : Andini

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Era Baru Pengawasan Ekspor Dimulai, PT DSI Mulai Kumpulkan Laporan Sawit dan Batu Bara
Cukup Senyum, Nomor HP Baru Langsung Aktif: Registrasi SIM Card Pakai Wajah Mulai Berlaku 1 Juli 2026
Iuran BPJS Kesehatan Dipastikan Tak Berubah, Ini Rincian Resmi yang Wajib Diketahui Peserta JKN di Tengah Ramainya Isu Kenaikan
Profesi Masa Depan yang Tak Tergantikan AI: Desainer Prostetik Bionik Jadi “Arsitek Tubuh Baru” Manusia
Dasbor MBG Dibuka ke Publik Juni 2026, Guru–Posyandu Pantau Kualitas Makan Bergizi Secara Real Time
BGN Hadirkan Reviu MBG, Sistem Digital Pemantau Kualitas Makan Bergizi Gratis di Lapangan
IKD Kini Jadi Andalan Layanan Publik, Begini Cara Aktivasi dan Syarat Lengkapnya
Gaji ke-13 ASN 2026 Cair 2 Juni, Ini Daftar Penerima, yang Tak Kebagian, dan Komponen Lengkapnya
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 30 Mei 2026 - 22:00 WIB

Cukup Senyum, Nomor HP Baru Langsung Aktif: Registrasi SIM Card Pakai Wajah Mulai Berlaku 1 Juli 2026

Sabtu, 30 Mei 2026 - 15:00 WIB

Iuran BPJS Kesehatan Dipastikan Tak Berubah, Ini Rincian Resmi yang Wajib Diketahui Peserta JKN di Tengah Ramainya Isu Kenaikan

Jumat, 29 Mei 2026 - 16:00 WIB

BMKG Ungkap Puncak Kemarau 2026 Jatuh di Agustus, Ini Wilayah Paling Kering dan Dampaknya ke Indonesia

Jumat, 29 Mei 2026 - 12:00 WIB

Profesi Masa Depan yang Tak Tergantikan AI: Desainer Prostetik Bionik Jadi “Arsitek Tubuh Baru” Manusia

Jumat, 29 Mei 2026 - 00:01 WIB

Dasbor MBG Dibuka ke Publik Juni 2026, Guru–Posyandu Pantau Kualitas Makan Bergizi Secara Real Time

Berita Terbaru

Oplus_0

Internasional

Veda Ega Lolos Drama Lap Akhir, Finis Kedelapan di Moto3 Italia

Minggu, 31 Mei 2026 - 20:00 WIB