JAKARTA – Arab Saudi dan Mesir dilaporkan membangun koridor logistik baru untuk mengamankan jalur perdagangan internasional di tengah ketegangan yang terus meningkat di Selat Hormuz. Langkah ini muncul setelah gangguan besar pada jalur pelayaran akibat konflik kawasan Teluk.
Media The New Arab melaporkan, Kamis (16/4/2026), koridor baru ini menghubungkan pelabuhan di Mediterania, Mesir, dan Laut Merah hingga ke pelabuhan di Arab Saudi. Jalur tersebut menjadi alternatif pengiriman untuk menghindari Selat Hormuz yang terdampak konflik.
Rute logistik ini memanfaatkan Pelabuhan Damietta di Mesir sebagai titik masuk barang dari Eropa, termasuk dari Pelabuhan Trieste di Laut Adriatik. Kargo kemudian bergerak ke Pelabuhan Safaga di Laut Merah sebelum melanjutkan perjalanan ke pelabuhan Arab Saudi, termasuk Pelabuhan Duba.
Sejumlah pengamat menilai koridor baru ini dapat mempercepat distribusi barang dan menekan biaya logistik dalam jangka panjang. Namun, mereka juga menyoroti kebutuhan kesiapan infrastruktur pelabuhan untuk menghadapi lonjakan arus kargo.
Ahli transportasi maritim Mesir, Ahmed al-Shami, menyebut jalur baru ini memberi alternatif penting di tengah ketidakpastian keamanan Selat Hormuz.
“Koridor ini tetap berjalan meski harga dan waktu pengiriman bervariasi. Namun, jalur ini menjadi opsi penting di tengah gangguan di Selat Hormuz,” kata Al-Shami.
Ia juga memprediksi negara-negara Teluk akan semakin bergantung pada jalur tersebut jika ketegangan dengan Iran terus berlanjut dan mengganggu kebebasan navigasi di kawasan.
Mesir sebelumnya meluncurkan layanan transit kapal Ro-Ro untuk memperkuat konektivitas perdagangan antara Eropa dan Teluk. Proyek itu kini menjadi bagian penting dalam pengembangan koridor logistik baru yang menghindari jalur Selat Hormuz.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









