JAMBI – Halal Bihalal Himpunan Keluarga Kerinci Nasional (HKKN) Provinsi Jambi di GTH Sutha Inn, Rabu (14/05/2026), tidak hanya mempertemukan ratusan perantau Kerinci dari berbagai daerah. Lebih dari itu, pertemuan ini menunjukkan perubahan fungsi organisasi perantau yang mulai bergerak dari sekadar wadah kekeluargaan menjadi jaringan sosial dan ekonomi yang semakin terstruktur.
Wakil Wali Kota Sungai Penuh, Azhar Hamzah, hadir dalam kegiatan tersebut dan menyoroti langsung pergeseran peran komunitas perantau. Ia menilai hubungan antar warga Kerinci di perantauan kini tidak lagi berhenti pada silaturahmi tahunan, tetapi mulai berkembang menjadi ruang pertukaran gagasan dan peluang ekonomi.
Dari Silaturahmi ke Jejaring Strategis Perantau
Tradisi Halal Bihalal di kalangan perantau Kerinci selama ini identik dengan temu kangen dan penguatan ikatan emosional. Namun dalam beberapa tahun terakhir, forum HKKN menunjukkan arah yang berbeda.
Pertemuan yang mempertemukan tokoh daerah, pengusaha perantau, akademisi, hingga generasi muda itu mulai memunculkan pola interaksi baru. Banyak peserta tidak hanya datang untuk bersalaman, tetapi juga membahas peluang usaha, distribusi produk daerah, hingga peluang kerja sama lintas wilayah.
Azhar Hamzah menilai perubahan ini sebagai perkembangan penting.
“Perantau Kerinci punya modal sosial yang kuat. Jika jaringan ini dikelola dengan baik, dampaknya bisa jauh lebih luas dari sekadar pertemuan rutin,” ujarnya.
Jaringan Diaspora Kerinci Mulai Terlihat Lebih Terorganisasi
Dalam forum tersebut, sejumlah tokoh dari berbagai wilayah hadir, termasuk Wakil Gubernur Jambi Abdullah Sani, Wali Kota Jambi Maulana, serta tokoh HKKN dari Indonesia hingga Malaysia. Kehadiran lintas wilayah ini memperlihatkan bahwa jaringan Kerinci di perantauan tidak lagi bersifat lokal, tetapi mulai terkoneksi secara regional.
Di sisi lain, diskusi informal antar peserta memperlihatkan pola baru. Beberapa pelaku usaha membicarakan rantai distribusi produk UMKM Kerinci, sementara kelompok lain membahas peluang investasi kecil di kampung halaman.
Fenomena ini menunjukkan HKKN mulai berfungsi sebagai simpul jaringan, bukan sekadar organisasi kekerabatan.
Perantau Mulai Geser Fokus dari Sosial ke Ekonomi
Jika dulu pertemuan perantau lebih banyak membahas ikatan sosial dan budaya, kini arah pembicaraan mulai meluas. Generasi muda perantau ikut terlibat dalam percakapan yang lebih teknis, mulai dari peluang bisnis digital, pemasaran produk daerah, hingga peluang kerja lintas kota.
Perubahan ini memperlihatkan adanya transformasi internal di tubuh komunitas perantau Kerinci. Ikatan emosional tetap kuat, tetapi kini mulai ditopang oleh kepentingan ekonomi yang lebih konkret.
Panitia HKKN juga merespons perubahan ini dengan membuka ruang diskusi ringan di sela acara. Format ini membuat interaksi antar peserta menjadi lebih cair dan tidak kaku.
Azhar: Perantau Punya Potensi Jadi Penggerak Ekonomi Daerah
Azhar Hamzah menegaskan bahwa kekuatan utama masyarakat Kerinci di perantauan terletak pada jejaring yang mereka bangun di berbagai sektor. Ia menilai jaringan ini dapat menjadi pintu masuk penting bagi pengembangan ekonomi daerah.
Menurutnya, perantau tidak hanya berperan sebagai penjaga hubungan sosial, tetapi juga bisa menjadi penghubung investasi, promosi daerah, dan penggerak UMKM.
“Kalau jaringan ini dikelola secara serius, dampaknya bisa langsung terasa ke kampung halaman,” kata Azhar.
Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah dan komunitas perantau untuk memperkuat sektor pendidikan, pariwisata, dan usaha kecil.
Komentar Ketua HKKN: Perantau Harus Jadi Kekuatan Nyata, Bukan Sekadar Ikatan Emosional
Ketua HKKN, Safril Nursal, menegaskan bahwa organisasi perantau saat ini berada pada fase penting untuk memperkuat peran nyata di tengah masyarakat. Ia menilai HKKN tidak boleh hanya menjadi wadah pertemuan rutin, tetapi harus mampu menghasilkan kontribusi konkret bagi daerah asal.
Safril menyebut HKKN sudah memiliki modal kuat berupa solidaritas dan jaringan yang luas, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Namun, ia menekankan perlunya pengelolaan yang lebih terarah agar potensi tersebut tidak berhenti pada level wacana.
“HKKN harus naik kelas. Kita tidak cukup hanya kuat secara emosional, tetapi juga harus kuat dalam aksi nyata, terutama dalam mendukung ekonomi dan pembangunan Kerinci,” ujar Safril.
Ia juga mendorong generasi muda perantau untuk lebih aktif mengambil peran dalam organisasi, terutama dalam penguatan jejaring digital, ekonomi kreatif, dan promosi potensi daerah.
Dampak Sosial: Identitas Perantau Tetap Terjaga
Di luar aspek ekonomi, Halal Bihalal HKKN juga memperlihatkan dampak sosial yang kuat. Banyak perantau mengaku kegiatan seperti ini membantu mereka menjaga kedekatan dengan identitas daerah asal di tengah kehidupan kota besar.
Interaksi antar generasi juga menjadi salah satu dampak yang paling terlihat. Generasi muda tidak hanya hadir sebagai peserta pasif, tetapi mulai masuk dalam percakapan organisasi dan jejaring sosial yang lebih luas.
Hal ini memperlihatkan adanya proses regenerasi alami dalam komunitas perantau Kerinci.
Dampak Ekonomi: Bibit Kolaborasi Mulai Terlihat
Meski belum berbentuk program formal, sejumlah percakapan di sela kegiatan menunjukkan potensi kolaborasi ekonomi yang mulai tumbuh. Beberapa peserta membahas peluang pemasaran produk Kerinci di luar daerah, sementara lainnya membuka diskusi soal investasi kecil di sektor perdagangan dan jasa.
Pola ini menunjukkan bahwa HKKN berpotensi berkembang menjadi ekosistem ekonomi berbasis komunitas jika diarahkan secara konsisten.
Namun, sebagian peserta juga menilai bahwa tantangan terbesar terletak pada konsolidasi dan tindak lanjut setelah pertemuan selesai.
Penutup: Arah Baru Komunitas Perantau Kerinci
Halal Bihalal HKKN di Jambi tahun ini memperlihatkan perubahan cara pandang terhadap organisasi perantau. Kegiatan yang dulu bersifat seremonial kini mulai bergerak menjadi ruang konsolidasi sosial dan ekonomi yang lebih nyata.
Dengan semakin kuatnya jaringan antar perantau dan keterlibatan lintas generasi, HKKN mulai diposisikan bukan hanya sebagai wadah kekeluargaan, tetapi juga sebagai simpul penting dalam penguatan ekonomi dan sosial masyarakat Kerinci di perantauan.
Azhar Hamzah menutup pandangannya dengan harapan agar jaringan ini tidak berhenti pada pertemuan tahunan, tetapi berkembang menjadi kekuatan kolaboratif yang memberi dampak langsung bagi daerah asal maupun komunitas perantau.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









