JAKARTA – Nama Besar Salim Group di Panggung Bisnis Indonesia
Nama Sudono Salim atau Liem Sioe Liong pernah berdiri sebagai simbol kekuatan bisnis terbesar di Indonesia. Ia membangun Salim Group dari bisnis impor cengkeh hingga menjelma menjadi konglomerasi raksasa yang menguasai perbankan, makanan, dan industri semen. Namun, kejayaan yang ia bangun selama sekitar tiga dekade runtuh dalam hitungan hari pada Mei 1998.
Awal Kedekatan dengan Soeharto
Awal kebangkitan Salim tidak lepas dari kedekatannya dengan Presiden Soeharto. Sejak masa awal kemerdekaan, Salim sudah menjalin relasi bisnis dengan Soeharto yang saat itu masih perwira militer. Salim memasok logistik untuk kebutuhan pasukan, sementara Soeharto memberikan akses dan perlindungan terhadap jaringan bisnisnya.
Penguatan di Era Orde Baru
Memasuki era Orde Baru, hubungan keduanya semakin kuat. Soeharto memberikan ruang luas bagi Salim Group untuk berkembang, sementara Salim ikut menopang stabilitas ekonomi kelompok kekuasaan. Dari sinilah lahir kekuatan besar Salim Group yang kemudian menguasai berbagai sektor strategis di Indonesia.
Tiga Pilar Bisnis Raksasa
Salim membangun tiga pilar utama bisnisnya. Ia mengembangkan Bank Central Asia (BCA) di sektor perbankan, Indocement di industri semen, serta Bogasari dan Indofood di sektor pangan. Seluruh lini bisnis ini tumbuh pesat dan menjadikan Salim sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia.
Krisis Ekonomi 1997–1998 Mengguncang
Namun, krisis ekonomi 1997–1998 mengubah segalanya. Nilai rupiah anjlok, kepercayaan publik terhadap perbankan runtuh, dan gelombang penarikan dana besar-besaran menghantam BCA. Ribuan nasabah mendatangi bank untuk menarik simpanan mereka. Kondisi ini membuat likuiditas BCA tertekan sangat berat.
Krisis Politik dan Sentimen Anti-Kroni
Situasi semakin memburuk ketika krisis ekonomi berubah menjadi krisis politik. Sentimen anti-kroni Soeharto menyebar luas di masyarakat. Nama Salim ikut terseret karena publik menilai ia bagian dari lingkaran kekuasaan Orde Baru. Amarah masyarakat kemudian meledak dalam kerusuhan Mei 1998.
Kerusuhan Mei 1998 Meluas
Pada 13–14 Mei 1998, Jakarta berubah menjadi kota yang kacau. Massa membakar, menjarah, dan menyerang berbagai properti milik pengusaha keturunan Tionghoa, termasuk aset Salim Group. Rumah keluarga Salim di kawasan elit Jakarta dibakar dan dijarah. Kendaraan, furnitur, hingga dokumen penting ikut hancur.
Langkah Penyelamatan Anthony Salim
Di saat yang sama, Anthony Salim yang mengelola bisnis keluarga langsung mengambil langkah penyelamatan. Ia meninggalkan Indonesia untuk memantau situasi dari luar negeri setelah melihat eskalasi kerusuhan semakin tidak terkendali.
BCA Diambil Alih Pemerintah
Dampak kerusuhan dan krisis ekonomi membuat BCA berada di ambang kehancuran. Pemerintah akhirnya mengambil alih BCA melalui Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Langkah ini menandai berakhirnya kepemilikan keluarga Salim atas bank tersebut.
Indofood Jadi Penopang Utama
Indofood dan sejumlah unit usaha lain juga mengalami kerugian besar akibat penjarahan dan pembakaran fasilitas produksi. Namun, sektor makanan menjadi satu-satunya fondasi yang masih bertahan dan menjaga keberlangsungan grup bisnis tersebut.
Kebangkitan Pasca Reformasi
Setelah kejatuhan Orde Baru, Salim Group perlahan melakukan restrukturisasi besar-besaran. Anthony Salim memimpin kebangkitan kembali bisnis keluarga dengan strategi baru dan diversifikasi usaha ke berbagai sektor, termasuk energi, infrastruktur, dan keuangan.
Kembali Menjadi Konglomerasi Besar
Kini, hampir tiga dekade setelah krisis 1998, Salim Group kembali berdiri sebagai salah satu konglomerasi terbesar di Indonesia. Meski pernah runtuh, kelompok bisnis ini berhasil bangkit dan membangun kembali pengaruhnya di berbagai sektor ekonomi nasional.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









