Runtuhnya Salim Group 1998: Dari Tahta Bisnis ke Krisis Terbesar Konglomerat Indonesia

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 5 Mei 2026 - 00:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Nama Besar Salim Group di Panggung Bisnis Indonesia

Nama Sudono Salim atau Liem Sioe Liong pernah berdiri sebagai simbol kekuatan bisnis terbesar di Indonesia. Ia membangun Salim Group dari bisnis impor cengkeh hingga menjelma menjadi konglomerasi raksasa yang menguasai perbankan, makanan, dan industri semen. Namun, kejayaan yang ia bangun selama sekitar tiga dekade runtuh dalam hitungan hari pada Mei 1998.

Awal Kedekatan dengan Soeharto

Awal kebangkitan Salim tidak lepas dari kedekatannya dengan Presiden Soeharto. Sejak masa awal kemerdekaan, Salim sudah menjalin relasi bisnis dengan Soeharto yang saat itu masih perwira militer. Salim memasok logistik untuk kebutuhan pasukan, sementara Soeharto memberikan akses dan perlindungan terhadap jaringan bisnisnya.

Penguatan di Era Orde Baru

Memasuki era Orde Baru, hubungan keduanya semakin kuat. Soeharto memberikan ruang luas bagi Salim Group untuk berkembang, sementara Salim ikut menopang stabilitas ekonomi kelompok kekuasaan. Dari sinilah lahir kekuatan besar Salim Group yang kemudian menguasai berbagai sektor strategis di Indonesia.

Tiga Pilar Bisnis Raksasa

Salim membangun tiga pilar utama bisnisnya. Ia mengembangkan Bank Central Asia (BCA) di sektor perbankan, Indocement di industri semen, serta Bogasari dan Indofood di sektor pangan. Seluruh lini bisnis ini tumbuh pesat dan menjadikan Salim sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia.

Baca Juga :  BCA Pangkas Batas Transaksi Valas Jadi USD50.000, Aturan Baru BI Mulai Berlaku

Krisis Ekonomi 1997–1998 Mengguncang

Namun, krisis ekonomi 1997–1998 mengubah segalanya. Nilai rupiah anjlok, kepercayaan publik terhadap perbankan runtuh, dan gelombang penarikan dana besar-besaran menghantam BCA. Ribuan nasabah mendatangi bank untuk menarik simpanan mereka. Kondisi ini membuat likuiditas BCA tertekan sangat berat.

Krisis Politik dan Sentimen Anti-Kroni

Situasi semakin memburuk ketika krisis ekonomi berubah menjadi krisis politik. Sentimen anti-kroni Soeharto menyebar luas di masyarakat. Nama Salim ikut terseret karena publik menilai ia bagian dari lingkaran kekuasaan Orde Baru. Amarah masyarakat kemudian meledak dalam kerusuhan Mei 1998.

Kerusuhan Mei 1998 Meluas

Pada 13–14 Mei 1998, Jakarta berubah menjadi kota yang kacau. Massa membakar, menjarah, dan menyerang berbagai properti milik pengusaha keturunan Tionghoa, termasuk aset Salim Group. Rumah keluarga Salim di kawasan elit Jakarta dibakar dan dijarah. Kendaraan, furnitur, hingga dokumen penting ikut hancur.

Langkah Penyelamatan Anthony Salim

Di saat yang sama, Anthony Salim yang mengelola bisnis keluarga langsung mengambil langkah penyelamatan. Ia meninggalkan Indonesia untuk memantau situasi dari luar negeri setelah melihat eskalasi kerusuhan semakin tidak terkendali.

Baca Juga :  Terkuak! Gunung Emas 30 Ribu Ton di Cikotok Banten

BCA Diambil Alih Pemerintah

Dampak kerusuhan dan krisis ekonomi membuat BCA berada di ambang kehancuran. Pemerintah akhirnya mengambil alih BCA melalui Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Langkah ini menandai berakhirnya kepemilikan keluarga Salim atas bank tersebut.

Indofood Jadi Penopang Utama

Indofood dan sejumlah unit usaha lain juga mengalami kerugian besar akibat penjarahan dan pembakaran fasilitas produksi. Namun, sektor makanan menjadi satu-satunya fondasi yang masih bertahan dan menjaga keberlangsungan grup bisnis tersebut.

Kebangkitan Pasca Reformasi

Setelah kejatuhan Orde Baru, Salim Group perlahan melakukan restrukturisasi besar-besaran. Anthony Salim memimpin kebangkitan kembali bisnis keluarga dengan strategi baru dan diversifikasi usaha ke berbagai sektor, termasuk energi, infrastruktur, dan keuangan.

Kembali Menjadi Konglomerasi Besar

Kini, hampir tiga dekade setelah krisis 1998, Salim Group kembali berdiri sebagai salah satu konglomerasi terbesar di Indonesia. Meski pernah runtuh, kelompok bisnis ini berhasil bangkit dan membangun kembali pengaruhnya di berbagai sektor ekonomi nasional.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Bengkulu Bidik PAD Baru dari Perkebunan Sawit, Pajak Air Permukaan Mulai Disiapkan untuk 2027
Harga Avtur Turun, Tiket Pesawat Belum Bergeming! Ini Penyebab Tarif Penerbangan Domestik Masih Mahal Juli 2026
Promo Shopee 4 Juli 2026: Diskon 50 Persen, Voucher Rp188 Ribu dan Promo Serba Rp7 Jadi Buruan
Koperasi Siap Kuasai Bisnis Sawit dari Hulu ke Hilir, Pemerintah Bidik Produksi CPO hingga Minyak Goreng
Perpres KopDes Merah Putih Dikebut, Pengamat Ungkap Tantangan Terbesar Justru Bukan Soal Regulasi
30 Ribu Manajer Koperasi Merah Putih Siap Turun ke Desa Mulai Agustus, Pemerintah Kebut Operasional Nasional
Promo Shopee 3 Juli 2026 Capai Puncak, Diskon 70 Persen, Voucher Rp300 Ribu dan Hadiah Gratis Menanti
Harga LNG Anjlok hingga 43 Persen, Pertamina Langsung Tancap Gas Jalankan Aturan Baru Pemerintah
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 4 Juli 2026 - 09:00 WIB

Harga Avtur Turun, Tiket Pesawat Belum Bergeming! Ini Penyebab Tarif Penerbangan Domestik Masih Mahal Juli 2026

Sabtu, 4 Juli 2026 - 07:00 WIB

Promo Shopee 4 Juli 2026: Diskon 50 Persen, Voucher Rp188 Ribu dan Promo Serba Rp7 Jadi Buruan

Jumat, 3 Juli 2026 - 17:00 WIB

Koperasi Siap Kuasai Bisnis Sawit dari Hulu ke Hilir, Pemerintah Bidik Produksi CPO hingga Minyak Goreng

Jumat, 3 Juli 2026 - 15:00 WIB

Perpres KopDes Merah Putih Dikebut, Pengamat Ungkap Tantangan Terbesar Justru Bukan Soal Regulasi

Jumat, 3 Juli 2026 - 14:00 WIB

30 Ribu Manajer Koperasi Merah Putih Siap Turun ke Desa Mulai Agustus, Pemerintah Kebut Operasional Nasional

Berita Terbaru