JAKARTA – Seorang petugas kebersihan di Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, Jamaruddin, berhasil mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar yang bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Ia memanfaatkan temuannya untuk kendaraan hingga memasak.
Berawal dari Kebiasaan sebagai Petani
Jamaruddin mengaku mendapatkan ide tersebut dari pengalaman lamanya sebagai petani. Saat itu, ia kerap memakai plastik untuk memancing api ketika memasak di kebun.
“Dari situ saya berpikir plastik ini pasti punya kandungan minyak,” ujarnya saat ditemui, Rabu (22/4/2026).
Rasa penasaran itu terus berkembang setelah ia bekerja sebagai petugas kebersihan di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Buton. Setiap hari ia melihat tumpukan sampah plastik yang sulit terurai. Kondisi itu mendorongnya untuk mencari solusi.
Uji Coba Alat Sederhana
Jamaruddin mulai bereksperimen dengan alat sederhana. Ia sempat mencoba menggunakan kaleng kecil, namun alat itu bocor karena terlalu tipis. Ia lalu beralih ke oven, tetapi hasilnya belum maksimal.
Akhirnya, ia mencoba menggunakan drum besi. Percobaan itu membuahkan hasil. Plastik yang ia olah mulai menghasilkan cairan yang menyerupai bahan bakar.
Sempat Gagal Saat Diuji di Kendaraan
Meski berhasil menghasilkan bahan bakar, Jamaruddin menghadapi kendala saat uji coba pertama. Kendaraannya mengalami masalah setelah menggunakan bahan bakar tersebut.
Ia tidak menyerah. Selama satu pekan, ia terus mencari penyebabnya dan memperbaiki proses pengolahan.
“Setelah saya perbaiki, hasilnya jadi bagus,” katanya.
Ia kemudian kembali menguji bahan bakar itu pada bentor miliknya. Hasilnya memuaskan. Kendaraan tersebut bisa digunakan untuk aktivitas sehari-hari tanpa kendala berarti.
Produksi 30 Liter per Hari
Kini Jamaruddin mampu mengolah sekitar 30 kilogram sampah plastik setiap hari. Dari jumlah itu, ia menghasilkan sekitar 30 liter bahan bakar.
Ia membagi hasil produksinya menjadi tiga jenis, yaitu setara bensin, solar, dan minyak tanah.
“Minyak tanahnya kami pakai untuk kompor, bensinnya untuk motor,” jelasnya.
Belum Berani Dijual
Meski hasilnya sudah bisa digunakan, Jamaruddin belum berani menjual bahan bakar tersebut. Ia menyadari produknya belum melewati uji laboratorium.
Ia khawatir kualitas bahan bakar belum sesuai standar dan berpotensi merusak mesin jika digunakan secara luas.
“Saya pakai sendiri saja dulu. Saya tunggu uji laboratorium supaya tahu kualitasnya,” katanya.
Harap Dukungan Pemerintah
Jamaruddin berharap pemerintah memberi perhatian terhadap inovasinya. Ia ingin temuannya diuji secara resmi dan dikembangkan lebih lanjut.
Menurutnya, inovasi ini bisa membantu mengurangi sampah plastik sekaligus menjadi solusi energi alternatif di masyarakat.
“Sudah ada perwakilan pemerintah yang datang melihat. Saya berharap ini bisa dikembangkan dan diuji agar benar-benar aman,” ujarnya.
Ia menegaskan, upayanya juga bertujuan membantu mengatasi persoalan sampah plastik yang terus meningkat, terutama kantong plastik yang sulit didaur ulang.
Dengan alat sederhana dan semangat pantang menyerah, Jamaruddin membuktikan bahwa inovasi bisa lahir dari masalah sehari-hari.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









