RI Masih Impor 50% Bensin, Pasokan Ternyata dari Asia Tenggara

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 21 April 2026 - 07:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menyampaikan bahwa Indonesia masih mengandalkan impor untuk memenuhi kebutuhan bensin nasional. Saat ini, konsumsi bensin mencapai 39–40 juta kiloliter per tahun.

Bahlil menjelaskan, produksi dalam negeri baru menyentuh sekitar 20 juta kiloliter. Angka ini mencakup tambahan kapasitas dari proyek RDMP Balikpapan yang meningkatkan produksi sekitar 5,6–5,7 juta kiloliter.

“Setelah peningkatan kapasitas, produksi nasional berada di kisaran 20 juta kiloliter. Artinya, kita masih impor sekitar 50 persen,” ujar Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (17/4/2026).

Baca Juga :  Tambang Emas Martabe Tapsel Kembali Beroperasi Mei 2026

Ia menegaskan bahwa Indonesia tidak mengimpor bensin dari kawasan Timur Tengah, Afrika, Amerika, maupun Rusia. Pemerintah memilih memasok kebutuhan impor dari negara-negara di Asia Tenggara.

Menurut Bahlil, langkah ini bertujuan menjaga efisiensi distribusi sekaligus memperkuat kerja sama regional di sektor energi.

Di sisi lain, pemerintah mencatat kemajuan pada produksi solar. Indonesia kini mampu memenuhi kebutuhan solar jenis Solar CN48 dari dalam negeri.

Baca Juga :  Harga BBM RON 92 Berpotensi Naik, Bahlil Lahadalia Buka Opsi Penyesuaian

Bahlil optimistis program biodiesel B50 yang mulai berjalan pada Juli 2026 akan mendorong surplus pasokan solar nasional.

“Dengan implementasi B50, kita akan mengalami surplus solar. Produksi dalam negeri sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan,” kata dia.

Pemerintah terus mendorong peningkatan kapasitas kilang dan penggunaan energi terbarukan guna menekan ketergantungan impor BBM dalam beberapa tahun ke depan.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Dedi Mulyadi Bongkar Kejanggalan Dana Migas ONWJ, Prabowo Janji Ubah Aturan agar Langsung Masuk Kas Daerah
Proyek FPSO Bahtera Haluan Lestari Jadi Penggerak Baru Industri Migas, Produksi Perdana Ditargetkan 2028
PHE Tancap Gas Buru Cadangan Migas Baru, Joint Study Melonjak Jadi 12 Blok dan Ekspansi Tembus Malaysia
Biodiesel Sawit Resmi Menggerakkan Lokomotif KAI, Transisi Energi Makin Nyata
Bengkulu Siapkan Pabrik Biodiesel, Langkah Awal Menuju Sentra Energi Sawit Nasional Dimulai
Mengapa Shell Masih Belum Jual Bensin? ESDM Ungkap Dugaan Penyebabnya, Harga Minyak Dunia Jadi Sorotan
Mulai 1 Oktober, Seluruh SPBU Wajib Jual Biosolar B50, Indonesia Bersiap Tinggalkan Impor Solar
Pertamina Jamin Pasokan BBM untuk Koperasi Nelayan Merah Putih, Ekonomi Pesisir Siap Melaju Lebih Kencang
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 30 Juli 2026 - 07:59 WIB

Dedi Mulyadi Bongkar Kejanggalan Dana Migas ONWJ, Prabowo Janji Ubah Aturan agar Langsung Masuk Kas Daerah

Minggu, 26 Juli 2026 - 18:00 WIB

Proyek FPSO Bahtera Haluan Lestari Jadi Penggerak Baru Industri Migas, Produksi Perdana Ditargetkan 2028

Minggu, 26 Juli 2026 - 11:00 WIB

PHE Tancap Gas Buru Cadangan Migas Baru, Joint Study Melonjak Jadi 12 Blok dan Ekspansi Tembus Malaysia

Rabu, 15 Juli 2026 - 18:00 WIB

Biodiesel Sawit Resmi Menggerakkan Lokomotif KAI, Transisi Energi Makin Nyata

Selasa, 14 Juli 2026 - 13:00 WIB

Bengkulu Siapkan Pabrik Biodiesel, Langkah Awal Menuju Sentra Energi Sawit Nasional Dimulai

Berita Terbaru