Transisi Energi: PLTD Ditiadakan, PLTS & Geothermal Jadi Prioritas

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 16 Maret 2026 - 14:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto memerintahkan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia untuk meniadakan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD). Pemerintah mengganti PLTD dengan energi lokal, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), agar menghemat BBM dan mengurangi ketergantungan impor energi.

Menurut Bahlil, apalagi ketidakpastian geopolitik bisa mengancam pasokan energi jangka panjang.

“Kita harus memaksimalkan seluruh potensi energi domestik. Kita juga harus mengonversi energi dari fosil ke energi terbarukan,” jelas Bahlil usai Rapat Terbatas dengan Presiden di Istana Negara, Kamis (12/3/2026).

Untuk itu, Bahlil menggelar rapat perdana dengan delapan menteri dan PT PLN (Persero). Ia memimpin Satgas Percepatan Transisi Energi (EBTKE) untuk mempercepat penggunaan energi bersih dan kendaraan listrik.

Baca Juga :  Kilang Bensin Dumai-Cilacap Dibangun, RI Hemat Impor BBM Rp21,5 Triliun

Bahlil menambahkan, pemerintah akan mengganti PLTD secara bertahap. Namun demikian, pemerintah memastikan PLTS sudah beroperasi sebelum mematikan PLTD agar pasokan listrik tetap aman.

“Bangun dulu PLTS-nya. Setelah siap dan beroperasi, kita matikan PLTD,” jelasnya.

Selain itu, pemerintah akan merevisi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034. RUPTL sebelumnya mencatat total kapasitas pembangkit baru mencapai 69,5 GW hingga 2034. Dari jumlah ini, 42,6 GW (61%) berasal dari pembangkit berbasis EBT, sedangkan 10,3 GW (15%) dari sistem penyimpanan energi.

Baca Juga :  Resmi! Liliek Prisbawono Adi Gantikan Anwar Usman sebagai Hakim MK

Dari pembangkit EBT, PLTS menempati porsi terbesar, yaitu 17,1 GW, diikuti oleh PLTA 11,7 GW, PLTB 7,2 GW, PLTP 5,2 GW, bioenergi 0,9 GW, dan PLTN 0,5 GW. Pemerintah juga membangun kapasitas penyimpanan energi berupa PLTA pumped storage 4,3 GW dan baterai 6,0 GW. Sementara itu, pemerintah masih membangun pembangkit fosil 16,6 GW, terdiri dari gas 10,3 GW dan batu bara 6,3 GW.

Dengan demikian, langkah ini mendukung transisi energi bersih dan menekan konsumsi BBM, terutama saat harga energi global tidak menentu.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Kuota Internet Hangus Digugat Lagi ke MK, Polemik Konsumen Kembali Jadi Sorotan
Tak Jadi Guru, Sarjana Pendidikan Ini Pilih Jalur Koperasi Demi Nafkah Keluarga
Mahasiswa Gugat Kuota Internet Hangus ke MK, Dorong Keadilan Hak Konsumen
Fly Over Jambi–Sumbar Diusulkan, Sungai Penuh Bidik Jalur Cepat, Ini Dampaknya
Tak Bisa Pindah? ASN Gugat Aturan Ini ke MK, Ini Pemicunya
Ekonomi Desa Jadi Penopang Utama, Prabowo Soroti Kekuatan Domestik di Tengah Tekanan Rupiah
Mahasiswa Keguruan Daerah Ini Resah, Jalur Menjadi Guru Kian Tidak Pasti
BGN Wajibkan Telur Lokal di Program MBG, Perkuat Peternak
Berita ini 16 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 22 Mei 2026 - 07:00 WIB

Kuota Internet Hangus Digugat Lagi ke MK, Polemik Konsumen Kembali Jadi Sorotan

Jumat, 22 Mei 2026 - 04:00 WIB

Tak Jadi Guru, Sarjana Pendidikan Ini Pilih Jalur Koperasi Demi Nafkah Keluarga

Kamis, 21 Mei 2026 - 15:00 WIB

Mahasiswa Gugat Kuota Internet Hangus ke MK, Dorong Keadilan Hak Konsumen

Kamis, 21 Mei 2026 - 13:00 WIB

Fly Over Jambi–Sumbar Diusulkan, Sungai Penuh Bidik Jalur Cepat, Ini Dampaknya

Selasa, 19 Mei 2026 - 18:00 WIB

Tak Bisa Pindah? ASN Gugat Aturan Ini ke MK, Ini Pemicunya

Berita Terbaru

Oplus_0

Uncategorized

Jangan Lewatkan! Tambah Daya PLN Kini Lebih Hemat Hingga 50 Persen

Jumat, 22 Mei 2026 - 06:00 WIB