Petani Cabai Kerinci Tebang Tanaman Saat Harga Anjlok Rp20 Ribu/Kg, Video Viral Picu Sorotan Publik

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 14 April 2026 - 20:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

KERINCI – Video seorang petani cabai di Kabupaten Kerinci, Jambi, viral di media sosial setelah ia nekat memangkas hingga menebang tanaman cabai miliknya. Aksi itu ia lakukan karena harga cabai merah jatuh ke level Rp20 ribu per kilogram dan tidak mampu menutup biaya produksi.

Dalam video yang beredar, petani tersebut terlihat memotong tanaman cabai yang masih produktif. Ia mengaku tidak lagi sanggup menanggung biaya perawatan yang terus meningkat, sementara harga jual di tingkat petani justru merosot tajam.

“Saat ini pupuk mahal, obat-obatan juga mahal,” kata petani dalam video tersebut.

Harga Jatuh, Petani Tertekan Biaya Produksi

Para petani cabai di Kerinci menghadapi tekanan berat akibat ketidakseimbangan antara biaya produksi dan harga jual. Saat ini harga cabai merah hanya berada di kisaran Rp20 ribu per kilogram, angka yang dinilai tidak layak untuk menutup modal.

Petani harus tetap mengeluarkan biaya untuk pupuk kimia, pestisida, tenaga kerja, hingga distribusi hasil panen. Kondisi ini membuat banyak petani merugi jika tetap mempertahankan tanaman cabai mereka.

Petani Pilih Ganti Komoditas

Karena kondisi tersebut, sejumlah petani mulai mengambil langkah tegas dengan mengganti tanaman cabai ke komoditas lain. Mereka memilih tanaman yang lebih ringan biaya perawatan dan lebih stabil secara harga.

Baca Juga :  Objek Wisata Kerinci: Selama Libur Lebaran Dikelola Pihak Ketiga

“Mau diganti saja ke tanaman lain yang perawatannya lebih murah. Daripada habis modal terus tapi harga tetap murah,” ujar petani tersebut.

Langkah ini menunjukkan strategi bertahan hidup petani di tengah ketidakpastian harga pasar.

Dampak ke Ekonomi Desa

Anjloknya harga cabai tidak hanya memukul petani secara langsung, tetapi juga berdampak ke ekonomi desa. Pendapatan petani turun drastis, daya beli ikut melemah, dan risiko gagal bayar modal tani meningkat.

Selain itu, kondisi ini juga bisa membuat minat petani untuk menanam cabai menurun pada musim berikutnya. Jika hal ini terjadi, produksi cabai bisa ikut turun dan berpotensi memicu kenaikan harga di masa depan.

Ini Penyebab Harga Cabai Turun

Sejumlah faktor diduga menjadi penyebab jatuhnya harga cabai di Kerinci. Panen raya di berbagai daerah membuat pasokan meningkat tajam di pasar. Kondisi ini menekan harga di tingkat petani.

Selain itu, distribusi yang tidak stabil membuat stok menumpuk di sejumlah wilayah. Di sisi lain, daya beli masyarakat ikut melemah sehingga permintaan tidak mampu menyerap pasokan.

Minimnya intervensi harga dari pihak terkait juga memperparah kondisi petani di lapangan.

Baca Juga :  30 Ribu Manajer Koperasi Merah Putih Siap Turun ke Desa Mulai Agustus, Pemerintah Kebut Operasional Nasional

Viral di Media Sosial, Warganet Soroti Pemerintah

Video petani cabai yang menebang tanamannya itu viral di TikTok dan Facebook. Banyak warganet menyampaikan simpati atas kondisi petani yang mengalami kerugian.

Sebagian pengguna media sosial juga mendesak pemerintah turun tangan untuk menstabilkan harga dan memberikan perlindungan terhadap petani, terutama saat harga jatuh seperti sekarang.

Petani Harap Ada Solusi Nyata

Para petani berharap pemerintah dan pihak terkait segera mengambil langkah konkret. Mereka tidak hanya membutuhkan harga jual yang tinggi, tetapi juga harga yang stabil agar bisa merencanakan usaha tani dengan lebih baik.

Petani juga meminta subsidi pupuk dan obat-obatan lebih tepat sasaran, akses pasar diperluas, distribusi diperbaiki, serta penggunaan teknologi pertanian ditingkatkan.

Simbol Krisis Petani Cabai

Aksi petani cabai Kerinci ini menjadi gambaran nyata tekanan yang terjadi di sektor pertanian. Harga yang jatuh hingga Rp20 ribu per kilogram tidak sebanding dengan biaya produksi yang terus meningkat.

Jika kondisi ini terus berlanjut, petani berpotensi meninggalkan komoditas cabai dan beralih ke tanaman lain. Situasi tersebut dapat memengaruhi stabilitas pasokan dan harga cabai di masa mendatang.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Puluhan Paket P3-TGAI di Kerinci Disorot, Petani Pertanyakan Pemerataan Alokasi Irigasi
Mau Naik Gunung Kerinci? Kini Registrasi Cukup Lewat HP, Tak Perlu Antre di Pos
Sentuh Warga Lewat Khitan Massal Gratis, PT Kerinci Merangin Hidro Fasilitasi 50 Anak dari Sembilan Desa
Petani Kentang Kayu Aro Kerinci Tertekan, Harga Turun Rp1.500 per Kg Saat Panen Raya
Akhiri Penantian Bertahun-Tahun, Jembatan Garuda di Kerinci Buka Jalur Emas Petani dan Ubah Wajah Ekonomi Desa
Tenggat Terlewati, Tiga Desa di Kerinci Masih Tertahan Pencairan Dana Desa Tahap I 2026
Dari Lereng Kerinci ke Tiongkok: 20 Ton Kopi Fine Robusta Lempur Tembus Pasar Global dengan Cita Rasa Premium
Banjir Bandang Kerinci Datang Tanpa Peringatan, Jalur Hulu Jadi Sorotan
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 21 Juli 2026 - 18:00 WIB

Puluhan Paket P3-TGAI di Kerinci Disorot, Petani Pertanyakan Pemerataan Alokasi Irigasi

Rabu, 8 Juli 2026 - 16:00 WIB

Mau Naik Gunung Kerinci? Kini Registrasi Cukup Lewat HP, Tak Perlu Antre di Pos

Kamis, 2 Juli 2026 - 16:00 WIB

Sentuh Warga Lewat Khitan Massal Gratis, PT Kerinci Merangin Hidro Fasilitasi 50 Anak dari Sembilan Desa

Minggu, 21 Juni 2026 - 14:00 WIB

Petani Kentang Kayu Aro Kerinci Tertekan, Harga Turun Rp1.500 per Kg Saat Panen Raya

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:00 WIB

Akhiri Penantian Bertahun-Tahun, Jembatan Garuda di Kerinci Buka Jalur Emas Petani dan Ubah Wajah Ekonomi Desa

Berita Terbaru