JAKARTA – Harga emas dunia dan domestik kembali bergerak pada perdagangan Rabu, 13 Mei 2026. Kenaikan kurs dolar terhadap rupiah ikut mendorong harga emas di pasar Indonesia meski harga spot dunia melemah tipis.
Berdasarkan data terbaru pukul 06.30 WIB, harga emas spot dunia berada di level US$4.719,47 per troy ounce atau turun US$33,92. Sementara itu, harga emas per gram tercatat US$151,73 atau turun US$1,09.
Di pasar domestik, harga emas spot dunia dalam rupiah justru naik menjadi Rp2.662.855 per gram. Nilai tersebut meningkat Rp426 dibanding perdagangan sebelumnya. Kenaikan kurs dolar AS terhadap rupiah memicu penguatan harga emas dalam negeri.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di kisaran Rp17.450 per dolar AS. Posisi ini membuat harga emas domestik tetap bertahan di level tinggi.
Harga Emas Antam dan Pegadaian
Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk atau Antam masih bertahan di atas Rp3 juta untuk ukuran 1 gram. Selain itu, Harga jual emas Antam ukuran 1 gram mencapai Rp3.009.000.
Sementara itu, harga emas Pegadaian untuk ukuran yang sama berada di level Rp2.836.000 per gram.
Untuk pecahan 5 gram, emas Antam dijual Rp15.043.000. Adapun Pegadaian mematok harga Rp13.906.000.
Harga buyback atau pembelian kembali emas Antam tercatat Rp2.708.100 per gram. Angka ini menjadi acuan investor yang ingin menjual kembali emas mereka.
UBS Gold Ikut Menguat
Produk UBS Gold 99,99 persen juga menunjukkan tren stabil. Harga jual UBS Gold ukuran 1 gram berada di level Rp2.725.000, sedangkan harga beli kembali mencapai Rp2.535.000.
Untuk ukuran 10 gram, UBS Gold dijual Rp26.160.000. Produk ini masih menjadi alternatif investasi emas fisik selain Antam.
Kurs Rupiah Jadi Penopang Harga Emas
Pergerakan kurs rupiah terhadap dolar AS menjadi faktor utama yang menopang harga emas domestik. Kurs referensi Bank Indonesia menunjukkan nilai jual dolar AS berada di level Rp17.502.
Sementara itu, kurs jual dolar AS di Bank Central Asia atau BCA mencapai Rp17.545. Adapun kurs jual di Bank Mandiri berada di level Rp17.520.
Kondisi tersebut membuat harga emas di Indonesia tetap tinggi meski pasar global mengalami koreksi.
Investor Masih Cari Aset Aman
Pelaku pasar masih memburu emas sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi global. Fluktuasi pasar saham, geopolitik, serta pergerakan suku bunga Amerika Serikat terus memengaruhi arah harga emas dunia.
Selain emas fisik, investor juga mulai melirik instrumen berbasis emas lain seperti GLD, PAX Gold, dan Tether Gold.
Di sisi lain, aset kripto utama seperti Bitcoin dan Ethereum juga mencatat penguatan tipis pada perdagangan hari ini.
Prospek Harga Emas
Analis menilai harga emas masih berpotensi bergerak volatil dalam jangka pendek. Penguatan dolar AS dan arah kebijakan suku bunga global akan menjadi penentu utama pergerakan harga berikutnya.
Meski begitu, permintaan emas fisik di Indonesia diperkirakan tetap tinggi karena masyarakat masih melihat emas sebagai instrumen investasi aman untuk menjaga nilai aset dalam jangka panjang.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









