JAKARTA – Pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, pernah mengutip gagasan persatuan Presiden pertama Indonesia, Soekarno, ketika menjalani masa tahanan pada era monarki Iran. Khamenei menulis kisah tersebut dalam memoarnya yang berjudul Cell No. 14.
Kisah di Balik Masa Penahanan
Pada masa itu, Khamenei menjalani masa tahanan pada 1970-an. Aparat keamanan menahan Khamenei karena aktivitas politiknya yang menentang pemerintahan Shah Iran, Mohammad Reza Pahlavi.
Selama menjalani masa tahanan, Khamenei berbagi sel dengan beberapa narapidana lain. Salah satunya seorang pemuda yang memiliki pandangan komunis.
Namun, pemuda tersebut jarang berinteraksi dengan tahanan lain. Ia juga sering menghindari pembicaraan pribadi.
Ketika Khamenei menanyakan identitasnya, pemuda itu hanya memberikan jawaban singkat. Ia lebih sering membicarakan hal-hal sepele.
Perbedaan Ideologi di Dalam Sel
Belakangan, Khamenei mengetahui bahwa pemuda itu bekerja sebagai jurnalis. Ia juga memiliki hubungan dengan Partai Komunis Tudeh.
Perbedaan pandangan ideologi membuat hubungan keduanya tidak terlalu dekat. Pemuda tersebut lebih memilih menyendiri.
Selain itu, Khamenei melihat kondisi mental pemuda itu cukup tertekan setelah penangkapan. Ia bahkan sering menolak makan.
Karena itu, Khamenei mencoba membantu pemuda tersebut. Ia memberi makanan dan mendorongnya untuk makan.
Mengutip Gagasan Soekarno
Beberapa waktu kemudian, pemuda tersebut mengungkapkan alasan sikapnya yang dingin. Ia khawatir Khamenei akan mengajaknya bergabung dengan gerakan Islam.
Menanggapi hal itu, Khamenei mencoba menenangkan kekhawatiran tersebut. Ia menjelaskan bahwa perbedaan keyakinan tidak harus memecah orang-orang yang menghadapi situasi yang sama.
Selanjutnya, Khamenei mengutip gagasan Soekarno mengenai persatuan. Ia merujuk pada pidato Soekarno dalam Konferensi Asia-Afrika 1955 yang berlangsung di Bandung.
Dalam pidato tersebut, Soekarno menekankan pentingnya persatuan negara berkembang. Ia menjelaskan bahwa negara-negara tersebut tidak perlu memiliki kesamaan agama, budaya, atau sejarah untuk bersatu.
Sebaliknya, Soekarno menekankan bahwa negara berkembang dapat bersatu karena memiliki kebutuhan dan kepentingan yang sama.
Hubungan Berubah Lebih Baik
Setelah mendengar penjelasan tersebut, pemuda itu merasa terkejut. Ia tidak menyangka akan mendengar pandangan seperti itu dari seorang ulama.
Sejak saat itu, hubungan keduanya mulai membaik. Mereka juga lebih sering berdiskusi selama berada di penjara.
Dari Penjara ke Revolusi Iran
Beberapa tahun kemudian, gerakan politik yang menentang monarki Iran semakin kuat. Gerakan tersebut akhirnya melahirkan perubahan besar melalui Revolusi Iran 1979.
Revolusi tersebut menggulingkan kekuasaan Shah Iran. Setelah itu, Iran berubah menjadi Republik Islam.
Selain itu, sejarah juga mencatat kekaguman Khamenei terhadap gagasan persatuan Soekarno. Pandangan tersebut memengaruhi sikap politiknya, terutama dalam menentang imperialisme dan dominasi Barat.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









