Kepuasan Publik Terhadap KDM Capai 95,5 Persen

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 22 Februari 2026 - 07:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

Bandung – Tingkat kepuasan publik terhadap Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang mencapai 95,5 persen memicu sorotan akademisi. Pengamat kebijakan publik Kristian Widya Wicaksono dari Universitas Katolik Parahyangan menilai angka tersebut belum mencerminkan keberhasilan program secara substantif.

Kristian menegaskan bahwa survei kepuasan hanya merekam persepsi masyarakat. Ia menilai pemerintah harus mengukur kinerja melalui capaian terukur dan dampak jangka panjang.

“Secara politik, angka itu impresif. Namun dalam administrasi publik, kepuasan tidak identik dengan keberhasilan program. Ukurannya tetap pada output dan outcome jangka panjang,” ujar Kristian, Selasa (17/2/2026).

Kepuasan Tidak Sama dengan Kinerja

Kristian menjelaskan bahwa tingginya kepuasan menunjukkan efektivitas komunikasi politik dan kedekatan pemimpin dengan warga. Namun ia meminta pemerintah membuktikan efektivitas kebijakan melalui data yang jelas.

Ia juga mengingatkan bahwa kepuasan publik bersifat dinamis. Ekspektasi yang tidak terpenuhi dapat menurunkan angka kepuasan dalam waktu singkat.

Fokus Layanan Dasar Harus Berbasis Perencanaan

Selama satu tahun masa jabatan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat memprioritaskan sektor pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur. Kristian menilai arah tersebut sejalan dengan mandat konstitusi tentang pelayanan dasar.

Baca Juga :  Bakti Sosial Kemensos di Sungai Penuh Hadirkan Operasi Katarak Gratis hingga Bantuan Usaha bagi Warga

Meski demikian, ia mendorong pemerintah menyusun kebijakan berdasarkan perencanaan teknokratik yang kuat. Ia menolak pendekatan yang hanya mengandalkan respons cepat bernuansa populis.

“Kebijakan yang terlihat konkret memang bisa mendongkrak kepuasan. Namun pemerintah harus memastikan kebijakan itu menghasilkan dampak nyata dan berkelanjutan,” tegasnya.

Pendidikan Harus Mengejar Mutu dan Pemerataan

Pada sektor pendidikan, Kristian menilai pembangunan sekolah dan penambahan daya tampung belum cukup. Ia meminta pemerintah meningkatkan kualitas pembelajaran dan meratakan distribusi guru.

Selain itu, ia mendorong pemerintah menekan angka putus sekolah secara signifikan. Ia juga menyoroti kebijakan pembinaan berbasis barak dan meminta pemerintah mengevaluasi dampak serta keberlanjutannya secara menyeluruh.

Kesehatan Perlu Perbaikan Layanan Nyata

Di bidang kesehatan, Kristian meminta pemerintah tidak hanya membangun fasilitas atau membagikan kartu layanan. Ia mendorong pemerintah meningkatkan rasio tenaga medis dan mempercepat waktu tunggu pelayanan.

Baca Juga :  AHY Dorong Engineering untuk Masa Depan Berkelanjutan

Ia juga meminta pemerintah menurunkan angka stunting serta kematian ibu dan bayi sebagai indikator utama keberhasilan sektor kesehatan.

Infrastruktur Harus Menggerakkan Ekonomi

Pada sektor infrastruktur, Kristian menilai pemerintah tidak boleh hanya menghitung panjang jalan yang terbangun. Ia meminta pemerintah memastikan pembangunan jalan mendorong konektivitas dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Menurutnya, pemerintah harus menunjukkan bahwa infrastruktur benar-benar meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan warga.

Transparansi dan Konsistensi Jadi Kunci

Kristian mendorong pemerintah memperkuat tata kelola dan meningkatkan integrasi kerja antar perangkat daerah. Ia juga meminta pemerintah membuka data capaian program secara berkala.

Selain itu, ia mengingatkan pentingnya konsistensi antara janji kampanye dan dokumen perencanaan resmi seperti RPJMD. Ia menilai langkah tersebut dapat mencegah anggapan bahwa pemerintah hanya mengejar pencitraan.

“Sisa masa jabatan seharusnya berfokus pada pendalaman kualitas program. Pemimpin yang kuat tidak hanya mengejar popularitas, tetapi membangun sistem yang tetap berjalan setelah masa jabatan berakhir,” pungkasnya.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Mulai Berlaku di NTT, Kendaraan Mati Pajak Tak Lagi Bebas Isi BBM Subsidi, Pertamina Siapkan Pengawasan
39 Pemda Kewalahan Bayar Gaji PPPK, Kemenkeu Siapkan Bantuan Lewat TKD
Pemkab Dharmasraya Gandeng NU Hadapi Era Efisiensi, Ini Empat Fokus Program untuk Warga
Sekda Alpian Ungkap Kunci Pembangunan Sungai Penuh, Sensus Ekonomi 2026 Jadi Penentu Arah Baru
Tak Lagi Jauh ke Disdukcapil, Rico Waas Ubah Arah Layanan e-KTP, Warga Lega
CPNS Sungai Penuh Mulai Disiapkan Hadapi Birokrasi Digital dan Tuntutan Pelayanan Modern
Ekonomi Sumbar Tumbuh 5,02%, Mahyeldi Soroti Pengangguran dan Inflasi
Delapan Ketua TP-PKK Kecamatan di Padang Dilantik, Dian Fadly Amran Minta Gerak Cepat
Berita ini 10 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 29 Juni 2026 - 20:00 WIB

Mulai Berlaku di NTT, Kendaraan Mati Pajak Tak Lagi Bebas Isi BBM Subsidi, Pertamina Siapkan Pengawasan

Rabu, 24 Juni 2026 - 20:00 WIB

39 Pemda Kewalahan Bayar Gaji PPPK, Kemenkeu Siapkan Bantuan Lewat TKD

Selasa, 23 Juni 2026 - 21:00 WIB

Pemkab Dharmasraya Gandeng NU Hadapi Era Efisiensi, Ini Empat Fokus Program untuk Warga

Senin, 22 Juni 2026 - 13:00 WIB

Sekda Alpian Ungkap Kunci Pembangunan Sungai Penuh, Sensus Ekonomi 2026 Jadi Penentu Arah Baru

Senin, 1 Juni 2026 - 17:00 WIB

Tak Lagi Jauh ke Disdukcapil, Rico Waas Ubah Arah Layanan e-KTP, Warga Lega

Berita Terbaru