JAKARTA – Kabar perubahan skema potongan aplikasi ojek online (ojol) yang mulai berlaku pada Juni 2026 memunculkan perdebatan baru di kalangan driver. Di satu sisi, kebijakan ini membuka peluang pendapatan lebih besar. Namun di sisi lain, dampak riil di lapangan tetap bergantung pada tarif dasar dan jumlah order harian.
Skema Baru: Driver Dapat Porsi Lebih Besar
Pemerintah dan pemangku kebijakan mendorong penyesuaian biaya aplikasi yang membuat porsi pendapatan mitra pengemudi naik dari sekitar 80 persen menjadi 92 persen.
Artinya, potongan untuk aplikator turun signifikan. Perubahan ini langsung memengaruhi pembagian hasil setiap perjalanan yang dilakukan driver.
Jika sebelumnya dari tarif Rp20.000 driver menerima sekitar Rp16.000, maka skema baru memungkinkan mereka mengantongi sekitar Rp18.400.
Selisih Rp2.400 per perjalanan terlihat kecil, tetapi bisa bertambah besar jika volume order tinggi.
Simulasi Pendapatan Harian Ojol
Dengan asumsi tarif perjalanan tetap dan permintaan stabil, simulasi berikut bisa menggambarkan potensi pendapatan:
Tarif perjalanan contoh: Rp20.000
Pendapatan driver (92%): Rp18.400
Order per hari: 10 perjalanan
Maka:
Pendapatan harian: Rp184.000
Estimasi bulanan (30 hari): sekitar Rp5,5 juta
Namun, angka tersebut hanya simulasi. Kondisi nyata bisa berubah karena faktor cuaca, jam sibuk, persaingan driver, hingga kebijakan tarif dinamis dari aplikator.
Potensi Kenaikan Penghasilan 10–15 Persen
Sejumlah analis transportasi menilai perubahan porsi bagi hasil ini dapat mendorong kenaikan pendapatan driver sekitar 10 hingga 15 persen, selama tarif dasar tidak berubah dan permintaan tetap stabil.
Meski begitu, peningkatan ini tidak otomatis dirasakan semua driver. Mereka yang berada di wilayah dengan order rendah kemungkinan tidak mengalami dampak signifikan.
Respons Komunitas Driver
Ketua Umum salah satu asosiasi pengemudi menilai kebijakan ini sebagai langkah positif. Ia menyebut penurunan potongan aplikasi menjadi sekitar 8 persen sebagai bentuk keberpihakan terhadap pekerja transportasi daring.
Menurutnya, perubahan ini lahir dari aspirasi panjang para pengemudi yang selama ini menuntut pembagian hasil lebih adil.
Faktor yang Tetap Menentukan Penghasilan
Walaupun porsi pendapatan naik, beberapa faktor berikut tetap memengaruhi total penghasilan driver:
Jumlah order harian
Kondisi lalu lintas
Pola jam sibuk (peak hour)
Perubahan tarif dasar aplikator
Kompetisi antar driver di satu wilayah
Pemangkasan biaya aplikasi membuka peluang peningkatan pendapatan bagi driver ojol. Namun, kenaikan tersebut tetap bersifat situasional dan sangat bergantung pada ekosistem transportasi digital yang dinamis.
FAQ
1. Apakah semua driver ojol otomatis naik gaji?
Tidak. Kenaikan hanya terjadi jika jumlah order dan tarif tetap stabil.
2. Berapa besar potensi kenaikan pendapatan?
Rata-rata diperkirakan sekitar 10–15 persen dalam kondisi ideal.
3. Apakah tarif penumpang ikut naik?
Belum tentu. Kebijakan tarif bergantung pada regulasi dan strategi aplikator.
4. Siapa yang paling diuntungkan dari kebijakan ini?
Driver dengan volume order tinggi di jam sibuk cenderung paling diuntungkan.
5. Apakah pendapatan Rp5,5 juta per bulan realistis?
Itu hanya simulasi hitungan maksimal dengan asumsi 10 order per hari dan kondisi stabil.
Penulis : Mosa
Editor : Ichwan Diaspora









