Listrik Surplus, Tapi Kerinci–Sungai Penuh Tetap Padam, Ini Fakta Sebenarnya yang Bikin Warga Bingung

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 24 Mei 2026 - 11:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KERINCI – Meski PLTA Kerinci Merangin Hidro (KMH) sudah menghasilkan listrik dalam jumlah besar dan bahkan disebut surplus, warga Kerinci dan Sungai Penuh masih merasakan pemadaman bergilir. Kondisi ini memunculkan pertanyaan baru: bagaimana mungkin daerah dengan pasokan listrik berlebih masih mengalami pemadaman?

Pihak PT KMH dan PLN akhirnya buka suara dan menjelaskan bahwa penyebab utama bukan pada ketersediaan listrik lokal, melainkan gangguan besar pada sistem kelistrikan Sumatra yang berdampak luas.

Situasi kelistrikan di Kerinci dan Sungai Penuh kembali menjadi sorotan setelah pemadaman bergilir masih terjadi meskipun PLTA Kerinci sudah beroperasi penuh sejak akhir 2025. Banyak warga menilai kondisi ini tidak sejalan dengan kapasitas besar pembangkit yang mencapai ratusan megawatt.

Namun, penjelasan teknis dari pengelola PLTA dan PLN menunjukkan bahwa persoalan utama terletak pada sistem jaringan listrik yang saling terhubung di Pulau Sumatra, bukan pada kemampuan produksi listrik di daerah tersebut.

Manajer PLTA KMH, Aslori, menegaskan bahwa seluruh turbin kini bekerja optimal dan mampu menghasilkan listrik hingga 350 megawatt pada saat beban puncak. Ia juga menyebut suplai listrik sudah masuk ke jaringan PLN sejak November 2025.

Baca Juga :  Rute Batik Air Muara Bungo Jadi Momentum Baru Ekonomi Wilayah Barat Jambi

“PLTA menyuplai listrik sesuai kebutuhan PLN. Pada siang hari biasanya sekitar 100 MW, sedangkan saat beban puncak mulai pukul 17.00 WIB hingga malam hari, suplai dapat mencapai 350 MW,” ujar Aslori.

Ia menambahkan bahwa secara kapasitas, listrik dari PLTA Kerinci bahkan berada dalam kondisi surplus untuk kebutuhan wilayah Jambi.

PLTA Terhubung ke Sistem Sumatra

Listrik dari PLTA Kerinci tidak berdiri sendiri, melainkan masuk ke jaringan transmisi Bangko–Koto Lolo–Sungai Liuk yang terhubung langsung ke sistem kelistrikan Sumatra.

Kondisi ini membuat aliran listrik dari Kerinci ikut membantu kebutuhan wilayah lain ketika sistem mengalami tekanan atau gangguan.

Gangguan Sistem Jadi Pemicu Utama

Dari sisi PLN, Manajer ULP Sungai Penuh, Eko Pitono, menjelaskan bahwa gangguan besar pada 22 Mei 2026 membuat seluruh sistem kelistrikan Sumatra terganggu.

“Hampir seluruh Pulau Sumatra mengalami padam. Kecuali Kerinci dan Kota Sungai Penuh,” kata Eko.

Namun, kondisi tersebut justru memaksa PLN melakukan pengaturan ulang beban listrik di seluruh jaringan.

Pemadaman Bergilir untuk Stabilkan Jaringan

Akibat pengaturan beban tersebut, Kerinci dan Sungai Penuh ikut merasakan pemadaman bergilir. PLN menyebut langkah ini penting untuk menyeimbangkan kembali sistem agar wilayah lain yang terdampak bisa segera pulih.

Baca Juga :  Bahlil Bongkar Kejanggalan Batu Bara PLN, Baru Juni Stok Sudah Menipis hingga Tinggal 13 Juta Ton

Dengan kata lain, pemadaman bukan terjadi karena kekurangan listrik lokal, tetapi karena strategi pemulihan sistem kelistrikan regional.

Komitmen PLN

PLN memastikan proses pemulihan masih berlangsung dan terus melakukan monitoring ketat terhadap jaringan Sumatra.

“Kami mohon dukungan dan doa kepada semua pihak agar listrik kembali normal. Sehingga tidak ada lagi pemadaman bergilir,” ujar Eko Pitono.

FAQ

1. Apakah PLTA Kerinci tidak mampu memenuhi kebutuhan listrik?

Tidak. PLTA Kerinci justru menghasilkan listrik dalam kondisi surplus.

2. Mengapa tetap terjadi pemadaman?

Karena gangguan besar pada sistem kelistrikan Sumatra, bukan karena kekurangan listrik lokal.

3. Siapa yang mengatur pemadaman listrik?

PLN yang mengatur distribusi dan pengaturan beban listrik di seluruh jaringan.

4. Apakah PLTA Kerinci masih beroperasi normal?

Ya, seluruh turbin beroperasi maksimal dan menyuplai listrik sesuai permintaan PLN.

5. Kapan pemadaman akan berhenti?

Pemadaman akan berhenti setelah sistem kelistrikan Sumatra kembali stabil sepenuhnya.

Penulis : Mosa

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Mengapa Shell Masih Belum Jual Bensin? ESDM Ungkap Dugaan Penyebabnya, Harga Minyak Dunia Jadi Sorotan
Mulai 1 Oktober, Seluruh SPBU Wajib Jual Biosolar B50, Indonesia Bersiap Tinggalkan Impor Solar
Pertamina Jamin Pasokan BBM untuk Koperasi Nelayan Merah Putih, Ekonomi Pesisir Siap Melaju Lebih Kencang
Prabowo Siapkan Peluncuran BBM B50, Seluruh SPBU Masuki Era Biodiesel Baru Mulai Juli
Harga LNG Anjlok hingga 43 Persen, Pertamina Langsung Tancap Gas Jalankan Aturan Baru Pemerintah
Harga BBM Pertamina Mulai 1 Juli 2026 Berubah, Pertamax Turbo hingga Dexlite Turun Drastis
PLN Satukan Dua Anak Usaha, Strategi Baru Pangkas Birokrasi dan Perkuat Bisnis Tanpa Sentuh Nasib Karyawan
Sekjen Kemenkeu Robert Leonard Marbun Resmi Masuk Komisaris Pertamina, Ini Susunan Lengkap Pengurus Terbaru
Berita ini 72 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 10 Juli 2026 - 19:00 WIB

Mengapa Shell Masih Belum Jual Bensin? ESDM Ungkap Dugaan Penyebabnya, Harga Minyak Dunia Jadi Sorotan

Jumat, 10 Juli 2026 - 16:00 WIB

Mulai 1 Oktober, Seluruh SPBU Wajib Jual Biosolar B50, Indonesia Bersiap Tinggalkan Impor Solar

Sabtu, 4 Juli 2026 - 18:00 WIB

Pertamina Jamin Pasokan BBM untuk Koperasi Nelayan Merah Putih, Ekonomi Pesisir Siap Melaju Lebih Kencang

Jumat, 3 Juli 2026 - 09:00 WIB

Prabowo Siapkan Peluncuran BBM B50, Seluruh SPBU Masuki Era Biodiesel Baru Mulai Juli

Kamis, 2 Juli 2026 - 22:04 WIB

Harga LNG Anjlok hingga 43 Persen, Pertamina Langsung Tancap Gas Jalankan Aturan Baru Pemerintah

Berita Terbaru