KERINCI – Meski PLTA Kerinci Merangin Hidro (KMH) sudah menghasilkan listrik dalam jumlah besar dan bahkan disebut surplus, warga Kerinci dan Sungai Penuh masih merasakan pemadaman bergilir. Kondisi ini memunculkan pertanyaan baru: bagaimana mungkin daerah dengan pasokan listrik berlebih masih mengalami pemadaman?
Pihak PT KMH dan PLN akhirnya buka suara dan menjelaskan bahwa penyebab utama bukan pada ketersediaan listrik lokal, melainkan gangguan besar pada sistem kelistrikan Sumatra yang berdampak luas.
Situasi kelistrikan di Kerinci dan Sungai Penuh kembali menjadi sorotan setelah pemadaman bergilir masih terjadi meskipun PLTA Kerinci sudah beroperasi penuh sejak akhir 2025. Banyak warga menilai kondisi ini tidak sejalan dengan kapasitas besar pembangkit yang mencapai ratusan megawatt.
Namun, penjelasan teknis dari pengelola PLTA dan PLN menunjukkan bahwa persoalan utama terletak pada sistem jaringan listrik yang saling terhubung di Pulau Sumatra, bukan pada kemampuan produksi listrik di daerah tersebut.
Manajer PLTA KMH, Aslori, menegaskan bahwa seluruh turbin kini bekerja optimal dan mampu menghasilkan listrik hingga 350 megawatt pada saat beban puncak. Ia juga menyebut suplai listrik sudah masuk ke jaringan PLN sejak November 2025.
“PLTA menyuplai listrik sesuai kebutuhan PLN. Pada siang hari biasanya sekitar 100 MW, sedangkan saat beban puncak mulai pukul 17.00 WIB hingga malam hari, suplai dapat mencapai 350 MW,” ujar Aslori.
Ia menambahkan bahwa secara kapasitas, listrik dari PLTA Kerinci bahkan berada dalam kondisi surplus untuk kebutuhan wilayah Jambi.
PLTA Terhubung ke Sistem Sumatra
Listrik dari PLTA Kerinci tidak berdiri sendiri, melainkan masuk ke jaringan transmisi Bangko–Koto Lolo–Sungai Liuk yang terhubung langsung ke sistem kelistrikan Sumatra.
Kondisi ini membuat aliran listrik dari Kerinci ikut membantu kebutuhan wilayah lain ketika sistem mengalami tekanan atau gangguan.
Gangguan Sistem Jadi Pemicu Utama
Dari sisi PLN, Manajer ULP Sungai Penuh, Eko Pitono, menjelaskan bahwa gangguan besar pada 22 Mei 2026 membuat seluruh sistem kelistrikan Sumatra terganggu.
“Hampir seluruh Pulau Sumatra mengalami padam. Kecuali Kerinci dan Kota Sungai Penuh,” kata Eko.
Namun, kondisi tersebut justru memaksa PLN melakukan pengaturan ulang beban listrik di seluruh jaringan.
Pemadaman Bergilir untuk Stabilkan Jaringan
Akibat pengaturan beban tersebut, Kerinci dan Sungai Penuh ikut merasakan pemadaman bergilir. PLN menyebut langkah ini penting untuk menyeimbangkan kembali sistem agar wilayah lain yang terdampak bisa segera pulih.
Dengan kata lain, pemadaman bukan terjadi karena kekurangan listrik lokal, tetapi karena strategi pemulihan sistem kelistrikan regional.
Komitmen PLN
PLN memastikan proses pemulihan masih berlangsung dan terus melakukan monitoring ketat terhadap jaringan Sumatra.
“Kami mohon dukungan dan doa kepada semua pihak agar listrik kembali normal. Sehingga tidak ada lagi pemadaman bergilir,” ujar Eko Pitono.
FAQ
1. Apakah PLTA Kerinci tidak mampu memenuhi kebutuhan listrik?
Tidak. PLTA Kerinci justru menghasilkan listrik dalam kondisi surplus.
2. Mengapa tetap terjadi pemadaman?
Karena gangguan besar pada sistem kelistrikan Sumatra, bukan karena kekurangan listrik lokal.
3. Siapa yang mengatur pemadaman listrik?
PLN yang mengatur distribusi dan pengaturan beban listrik di seluruh jaringan.
4. Apakah PLTA Kerinci masih beroperasi normal?
Ya, seluruh turbin beroperasi maksimal dan menyuplai listrik sesuai permintaan PLN.
5. Kapan pemadaman akan berhenti?
Pemadaman akan berhenti setelah sistem kelistrikan Sumatra kembali stabil sepenuhnya.
Penulis : Mosa
Editor : Ichwan Diaspora









