Saham GOTO Anjlok ke Level Gocap, Sentimen Politik dan Asing Tekan Pasar

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 4 Mei 2026 - 12:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) kembali tertekan pada perdagangan awal pekan, Senin (4/5/2026). Harga saham emiten teknologi ini jatuh hingga menyentuh level gocap atau sekitar Rp50–Rp51 per saham, seiring meningkatnya tekanan jual di pasar.

Data perdagangan RTI Business mencatat saham GOTO melemah 5,56 persen ke posisi Rp51 per saham. Dalam sesi perdagangan, harga bahkan sempat turun lebih dalam hingga menyentuh Rp50 per saham atau koreksi lebih dari 7 persen.

Sepanjang tahun 2026, saham GOTO sudah terkoreksi sekitar 20,31 persen. Volume transaksi tercatat sangat tinggi, mencapai 17,09 miliar lembar saham dengan nilai transaksi Rp860,5 miliar. Kondisi ini menunjukkan aktivitas jual beli yang agresif di tengah tekanan sentimen negatif.

Investor Asing Lanjutkan Aksi Jual

Tekanan pada saham GOTO tidak hanya datang dari investor ritel, tetapi juga dari investor asing. Pada perdagangan Kamis (30/4/2026), saham ini mencatatkan net foreign sell sebesar Rp119,71 miliar.

Jika dihitung secara kumulatif sepanjang 2026, total aksi jual asing terhadap GOTO sudah mencapai Rp1,65 triliun. Kondisi ini memperkuat sinyal bahwa investor global masih berhati-hati terhadap prospek sektor teknologi Indonesia, khususnya emiten platform digital.

Baca Juga :  ITMG Tebar Dividen Jumbo US$64,54 Juta, Total Tembus US$115 Juta

Sentimen Politik Ikut Menekan Saham

Penurunan saham GOTO juga mendapat tekanan dari sentimen politik setelah pernyataan Presiden Prabowo Subianto dalam peringatan Hari Buruh Internasional di Monas, Jakarta Pusat.

Dalam pidatonya, Prabowo menyoroti besarnya potongan komisi aplikator ojek online yang mencapai sekitar 20 persen. Ia menilai skema tersebut tidak adil bagi pengemudi ojek online yang bekerja di lapangan.

“Ojol kerja keras, mempertaruhkan jiwanya setiap hari. Kalau aplikator ambil 20 persen, itu terlalu besar. Saya tidak setuju bahkan 10 persen,” ujar Prabowo pada Jumat (1/5/2026).

Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi perubahan regulasi di industri transportasi berbasis aplikasi. Investor menilai kebijakan baru bisa menekan margin keuntungan perusahaan seperti GOTO.

Pasar Khawatir Regulasi Baru

Pelaku pasar mulai mengantisipasi kemungkinan pengetatan aturan terkait komisi aplikasi. Jika pemerintah menurunkan batas potongan, maka pendapatan platform berpotensi tertekan.

Baca Juga :  Pemerintah Siapkan Insentif Pajak Investor, Pasar Modal RI Makin Tangguh

Kondisi ini menambah tekanan pada GOTO yang sebelumnya sudah menghadapi persaingan ketat di sektor layanan digital, logistik, dan pembayaran.

Volume Tinggi, Tekanan Jual Masih Dominan

Meski harga terus melemah, aktivitas perdagangan GOTO justru meningkat tajam. Hal ini menunjukkan pertempuran antara investor yang melakukan aksi jual dan sebagian investor yang mencoba masuk di harga rendah.

Namun hingga sesi perdagangan berjalan, tekanan jual masih mendominasi. Sentimen negatif dari asing, kekhawatiran regulasi, serta kondisi sektor teknologi global ikut memperberat pergerakan saham.

Prospek Masih Dibayangi Ketidakpastian

Analis menilai pergerakan saham GOTO masih akan volatil dalam jangka pendek. Investor akan mencermati arah kebijakan pemerintah terkait industri ride-hailing serta kemampuan perusahaan menjaga efisiensi bisnis.

Selama ketidakpastian regulasi belum mereda, saham GOTO berpotensi bergerak fluktuatif dengan tekanan jual yang masih cukup kuat di pasar.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

BBRI Jatuh ke Rp2.900-an, Investor Wait and See, Analis Justru Rekomendasikan Beli
Saham BBNI 4 Mei 2026 Stagnan di Rp3.600-an, Investor Tunggu Sinyal Kenaikan
Sensex Melejit 1.263 Poin di Awal Mei 2026, Investor Serbu Saham Usai Tekanan Global
BBCA Tertekan di Awal Mei 2026, Asing Jual Saham, BCA Gas Buyback Rp5 Triliun
BMRI Sideways 4 Mei 2026, Investor Tahan Aksi Sambil Tunggu Sinyal Baru
SSMS Tebar Dividen Rp800 Miliar, Kinerja Kuat Bikin Laba Melonjak di 2025
Sensex Terkoreksi 0,75%, Tekanan Global Guncang Bursa Saham India
Saham BRI Turun 2,61%, Investor Tetap Pantau Dividen dan Fundamental Kuat
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 4 Mei 2026 - 12:30 WIB

Saham GOTO Anjlok ke Level Gocap, Sentimen Politik dan Asing Tekan Pasar

Senin, 4 Mei 2026 - 12:00 WIB

BBRI Jatuh ke Rp2.900-an, Investor Wait and See, Analis Justru Rekomendasikan Beli

Senin, 4 Mei 2026 - 10:00 WIB

Saham BBNI 4 Mei 2026 Stagnan di Rp3.600-an, Investor Tunggu Sinyal Kenaikan

Senin, 4 Mei 2026 - 09:30 WIB

Sensex Melejit 1.263 Poin di Awal Mei 2026, Investor Serbu Saham Usai Tekanan Global

Senin, 4 Mei 2026 - 07:27 WIB

BBCA Tertekan di Awal Mei 2026, Asing Jual Saham, BCA Gas Buyback Rp5 Triliun

Berita Terbaru

Oplus_0

Investasi

JPFA Tebar Dividen Rp1,62 Triliun, Ini Jadwal Pembayaran 2026

Senin, 4 Mei 2026 - 14:00 WIB