Google Rilis TurboQuant, Teknologi Hemat RAM yang Siap Akhiri Krisis Memori AI

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 2 Mei 2026 - 11:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Google bergerak cepat merespons lonjakan kebutuhan memori di era kecerdasan buatan (AI). Perusahaan teknologi raksasa ini mengembangkan teknologi baru bernama TurboQuant, yang berfungsi menekan penggunaan RAM secara signifikan saat AI berjalan.

Teknologi ini muncul di tengah krisis memori global. Industri menghadapi lonjakan harga RAM akibat tingginya permintaan komputasi AI. Banyak pihak mulai khawatir karena keterbatasan memori dapat menghambat performa sistem modern.

Fokus pada Efisiensi Saat AI Berjalan

Tim Google Research merancang TurboQuant khusus untuk fase inferensi. Fase ini terjadi saat model AI digunakan, bukan saat dilatih. Pada tahap ini, AI membutuhkan memori besar untuk memproses dan menyimpan konteks data.

TurboQuant menargetkan salah satu hambatan utama, yaitu keterbatasan working memory. Komponen yang paling terdampak adalah KV cache, yaitu memori sementara yang membantu AI mengingat konteks selama proses berlangsung.

Dengan mengoptimalkan bagian ini, Google ingin membuat AI tetap cepat tanpa perlu memori besar.

Cara Kerja: Kompresi Tanpa Hilang Akurasi

TurboQuant menggunakan teknik vector quantization. Metode ini menyederhanakan data numerik berbentuk vektor agar lebih ringkas. Sistem tetap menjaga informasi penting sehingga akurasi model tidak turun.

Baca Juga :  RedMagic 11S Pro Series Meluncur dengan Snapdragon Flagship, Fokus Performa Gaming Stabil Tanpa Throttling

Pendekatan ini membuat data yang sebelumnya memakan ruang besar menjadi jauh lebih efisien. AI tetap bisa bekerja optimal meski menggunakan memori lebih kecil.

Dua Teknologi Kunci di Balik TurboQuant

Google menggabungkan dua metode utama untuk meningkatkan kinerja TurboQuant, yaitu PolarQuant dan Quantization-aware Joint Learning (QJL).

PolarQuant mengubah cara representasi data. Teknik ini membuat penyimpanan data menjadi lebih efisien tanpa mengorbankan kualitas komputasi.

Sementara itu, QJL melatih model AI agar memahami kondisi data yang telah dikompresi. Model jadi lebih adaptif dan tetap menghasilkan output akurat meski bekerja dengan data yang dipadatkan.

Kombinasi keduanya menghasilkan sistem yang lebih hemat memori sekaligus stabil.

Klaim Hemat Memori Hingga 6 Kali Lipat

Peneliti Google mengklaim TurboQuant mampu mengurangi penggunaan memori hingga enam kali lipat dibanding metode konvensional.

Efisiensi ini memberi dampak besar. Model AI bisa menyimpan lebih banyak informasi dalam ruang yang jauh lebih kecil. Selain itu, sistem juga bisa mengurangi hambatan performa akibat keterbatasan RAM.

Baca Juga :  YouTube Premium Naik Harga, Paket Termurah Tembus Rp137 Ribu per Bulan

Jika klaim ini terbukti konsisten, industri AI bisa menekan kebutuhan hardware mahal.

Jawaban atas Lonjakan Harga RAM

Dalam beberapa waktu terakhir, harga RAM—terutama DDR5—melonjak tajam. Permintaan tinggi dari pusat data skala besar membuat pasokan untuk pasar konsumen semakin terbatas.

Produsen memori lebih memprioritaskan kebutuhan hyperscaler. Akibatnya, harga RAM di pasar global naik drastis, bahkan mencapai empat hingga lima kali lipat dari kondisi normal.

Situasi ini berdampak langsung pada pengguna PC, laptop, hingga industri game.

Potensi Mengubah Arah Industri

TurboQuant membuka peluang baru dalam pengembangan AI yang lebih efisien. Teknologi ini tidak hanya mengurangi ketergantungan pada hardware mahal, tetapi juga memperluas akses penggunaan AI.

Jika implementasinya berhasil secara luas, pengembang dapat menjalankan model AI besar di perangkat dengan spesifikasi lebih rendah.

Langkah Google ini menunjukkan arah baru: bukan hanya meningkatkan kekuatan AI, tetapi juga membuatnya lebih ringan dan efisien.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Insta360 Luna Ultra Bikin Kreator Melirik, Kamera Gimbal 8K Leica Kini Resmi Hadir di Indonesia
Galaxy Watch 9 Terendus di Indonesia, Samsung Siapkan Smartwatch AI dengan Daya Tahan Lebih Lama
Tecno Spark 50 Pro Bikin Kaget, Baterai Diklaim Awet 6 Tahun dan Kamera Sony Siap Kejar Momen Cepat
Baseus Bikin Geger dengan Powerbank Setipis Kartu, Punya Fitur yang Belum Dimiliki Banyak Rival
Amazfit Cheetah 2 Resmi di Indonesia, Smartwatch Pelari Tahan 30 Hari dengan GPS Super Akurat Bikin Garmin Tertekan?
Sony Rilis Headphone Premium Rp 11 Juta, Desain Mewah dan Audio Studio Jadi Senjata Utama
Vivo Siapkan Gebrakan Besar di Kelas Flagship, X500 Series Hadir dengan 5 Model dan Kamera Telefoto 200 MP
Peta Baru Dunia Digital Piala Dunia 2026: Negara Favorit Tak Selalu Punya Internet Tercepat
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 23:00 WIB

Insta360 Luna Ultra Bikin Kreator Melirik, Kamera Gimbal 8K Leica Kini Resmi Hadir di Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 - 15:00 WIB

Galaxy Watch 9 Terendus di Indonesia, Samsung Siapkan Smartwatch AI dengan Daya Tahan Lebih Lama

Rabu, 17 Juni 2026 - 12:00 WIB

Tecno Spark 50 Pro Bikin Kaget, Baterai Diklaim Awet 6 Tahun dan Kamera Sony Siap Kejar Momen Cepat

Rabu, 17 Juni 2026 - 06:00 WIB

Baseus Bikin Geger dengan Powerbank Setipis Kartu, Punya Fitur yang Belum Dimiliki Banyak Rival

Selasa, 16 Juni 2026 - 21:00 WIB

Amazfit Cheetah 2 Resmi di Indonesia, Smartwatch Pelari Tahan 30 Hari dengan GPS Super Akurat Bikin Garmin Tertekan?

Berita Terbaru