AI Jadi “Bos Cerewet”, Pegawai Kantoran Terancam Makin Stres di Masa Depan

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 1 Mei 2026 - 12:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai mengubah wajah dunia kerja. Alih-alih sekadar membantu, teknologi ini justru berpotensi menambah tekanan bagi pegawai kantoran. CEO Jensen Huang bahkan memperingatkan bahwa AI bisa bertindak layaknya atasan yang terlalu mengatur.

AI Bikin Karyawan Makin Sibuk

Dalam sebuah diskusi di Stanford University, Huang menyampaikan pandangannya soal masa depan kerja. Ia menilai AI tidak hanya membantu tugas manusia, tetapi juga akan mengawasi dan mengatur pekerjaan secara detail.

“Agen AI akan terus mengganggu, mengatur pekerjaan secara mikro, dan membuat kita lebih sibuk dari sebelumnya,” ujar Huang.

Kondisi ini membuat batas antara waktu kerja dan kehidupan pribadi semakin tipis. Karyawan bisa terus mendapat notifikasi tugas, evaluasi, hingga arahan kerja secara real-time tanpa jeda.

Tekanan Kerja Berpotensi Meningkat

Saat ini saja, banyak pekerja kantoran sudah menghadapi tuntutan produktivitas yang tinggi. Perusahaan terus mendorong efisiensi dan hasil maksimal. Dengan kehadiran AI, tekanan tersebut bisa meningkat karena sistem mampu memantau performa secara lebih rinci.

Baca Juga :  BYD Sealion 05 DM-i Masuk Dealer, SUV Hybrid Ini Dijual Mulai Rp237 Jutaan

AI memungkinkan perusahaan mengukur produktivitas secara presisi. Sistem dapat melacak waktu kerja, kecepatan menyelesaikan tugas, hingga pola aktivitas harian karyawan. Akibatnya, ruang untuk “bernapas” dalam pekerjaan bisa semakin sempit.

Berbeda dari Narasi PHK

Di sisi lain, Huang menolak anggapan bahwa AI hanya akan menghilangkan pekerjaan. Ia justru melihat potensi sebaliknya.

Menurutnya, revolusi teknologi ini akan menciptakan lebih banyak lapangan kerja dalam jangka panjang. Ia membandingkan situasi ini dengan revolusi industri sebelumnya.

“Pada akhirnya, jumlah orang yang bekerja akan lebih banyak dibandingkan saat awal revolusi,” jelasnya.

Pandangan ini berbeda dengan kekhawatiran banyak pihak yang mengaitkan AI dengan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK).

Perusahaan Butuh Lebih Banyak SDM

Huang juga menilai perusahaan yang hanya fokus pada efisiensi tenaga kerja memiliki cara berpikir yang sempit. Ia menegaskan bahwa AI justru membuka peluang baru yang membutuhkan lebih banyak sumber daya manusia.

Baca Juga :  Pemerintah Batasi Anak di Bawah 16 Tahun Akses Medsos

Perusahaan dengan visi besar akan memanfaatkan AI untuk memperluas bisnis, bukan sekadar memangkas karyawan. Mereka akan menciptakan produk baru, layanan baru, hingga model bisnis baru.

“Perusahaan yang punya imajinasi akan melakukan lebih banyak hal dengan sumber daya yang lebih besar,” ujarnya.

Masa Depan Kerja: Adaptasi Jadi Kunci

Perubahan ini menuntut pekerja untuk beradaptasi. Kemampuan menggunakan teknologi, memahami data, dan berpikir kreatif menjadi semakin penting.

Namun, tantangan terbesar bukan hanya soal skill. Kesehatan mental juga menjadi isu penting di tengah tekanan kerja yang meningkat. Jika AI benar-benar menjadi “bos digital”, perusahaan perlu menetapkan batasan yang jelas agar karyawan tidak mengalami kelelahan berlebihan.

Dunia kerja akan terus berubah seiring perkembangan teknologi. AI bisa menjadi alat yang membantu, tetapi juga bisa menjadi sumber tekanan baru. Cara perusahaan dan pekerja mengelola perubahan ini akan menentukan apakah teknologi menjadi peluang atau justru petaka.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Motorola Rilis Razr 70 Series, HP Lipat Clamshell Tiga Varian dengan Chip Flagship
iPhone 2027 Belum Rilis, Tapi Desain Liquid Glass Sudah Jadi Rebutan Vendor China
Google Rilis TurboQuant, Teknologi Hemat RAM yang Siap Akhiri Krisis Memori AI
Robot “Tukang” China di Orbit, Bangun Struktur Raksasa Tanpa Kirim dari Bumi
iPhone 17 Mati Total Usai Dicas? Ini Penyebab dan Solusi Sementara
BRIN Genap 5 Tahun, Gaspol Hilirisasi Riset demi Kesejahteraan Masyarakat
HP Wajib Baterai Lepas Pasang 2027, Industri Gadget Bersiap Ubah Desain
China Blokir Akuisisi Manus oleh Meta, Perang AI Global Kian Memanas
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 16:00 WIB

Motorola Rilis Razr 70 Series, HP Lipat Clamshell Tiga Varian dengan Chip Flagship

Sabtu, 2 Mei 2026 - 11:30 WIB

Google Rilis TurboQuant, Teknologi Hemat RAM yang Siap Akhiri Krisis Memori AI

Sabtu, 2 Mei 2026 - 11:00 WIB

Robot “Tukang” China di Orbit, Bangun Struktur Raksasa Tanpa Kirim dari Bumi

Jumat, 1 Mei 2026 - 14:00 WIB

iPhone 17 Mati Total Usai Dicas? Ini Penyebab dan Solusi Sementara

Jumat, 1 Mei 2026 - 12:00 WIB

AI Jadi “Bos Cerewet”, Pegawai Kantoran Terancam Makin Stres di Masa Depan

Berita Terbaru