Eropa Terguncang Krisis Energi, Albania Jadi Contoh Ketahanan

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 30 April 2026 - 10:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Konflik bersenjata antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran kembali mengguncang pasar energi dunia. Serangan militer yang terjadi pada 28 Februari 2026 itu memicu eskalasi besar setelah Iran membalas dengan menutup Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas global. Dampaknya langsung terasa: harga energi melonjak tajam di berbagai negara.

Selat Hormuz Ditutup, Pasar Energi Bergejolak

Penutupan Selat Hormuz membuat rantai pasok energi global terganggu. Negara-negara pengimpor minyak langsung menghadapi lonjakan harga bahan bakar. Investor juga bereaksi cepat dengan mendorong harga minyak mentah ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Analis energi Rystad, Satyam Singh, menilai krisis ini memperlebar jurang ketahanan energi antarnegara. Ia menegaskan bahwa negara dengan ketergantungan tinggi pada impor energi paling terpukul oleh gejolak harga.

“Negara yang tidak punya fleksibilitas energi merasakan lonjakan harga paling tajam,” ujar Singh.

Eropa Terbagi: Fosil vs Energi Bersih

Dampak krisis terlihat jelas di Eropa. Negara seperti Italia dan Jerman mengalami kenaikan harga listrik lebih dari 15–20 persen karena masih bergantung pada gas alam impor.

Baca Juga :  AI Tekan Minat Kuliah dan Magang di AS

Italia yang menghasilkan lebih dari 40 persen listrik dari gas menghadapi tekanan paling berat. Sementara Jerman juga merasakan dampak serupa akibat tingginya kebutuhan energi industri.

Berbeda dengan itu, Prancis dan Spanyol lebih stabil. Prancis menahan lonjakan harga karena 70 persen listriknya berasal dari energi nuklir. Spanyol bahkan mencatat penurunan harga listrik setelah meningkatkan kontribusi energi terbarukan hingga hampir 60 persen.

Albania Jadi Contoh Ketahanan Energi

Di kawasan Balkan, Albania muncul sebagai contoh negara yang relatif tahan terhadap krisis. Sungai Drin yang sudah dilengkapi bendungan hidroelektrik sejak era komunis menyuplai lebih dari 90 persen kebutuhan listrik nasional.

Pasokan listrik dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA) membuat harga listrik di Albania tetap stabil meski pasar energi global bergejolak. Namun, pemerintah tetap mengakui tekanan fiskal akibat kebutuhan subsidi energi saat permintaan meningkat.

Kementerian Energi Albania menyebut sistem mereka masih stabil di permukaan, tetapi beban keuangan terus meningkat di balik layar.

Baca Juga :  Kebijakan LPG Baru Picu Tekanan Industri, Nafta Dialihkan

Dampak ke Warga: Biaya Hidup Naik

Kenaikan harga energi mulai menekan masyarakat. Di Italia, pemilik usaha kecil seperti toko roti menghadapi lonjakan biaya operasional akibat mahalnya gas dan solar. Banyak pelaku usaha mulai mempertimbangkan pengurangan tenaga kerja.

Di Siprus, pekerja dengan dua pekerjaan sekaligus mengaku kesulitan menutup biaya hidup karena harga bahan bakar naik hingga 20 persen.

Dorongan Transisi Energi Makin Kuat

Krisis ini mempercepat pergeseran energi di Eropa. Permintaan panel surya meningkat, sementara pemerintah mempercepat investasi pada energi terbarukan dan sistem penyimpanan listrik jangka panjang.

Analis energi Alessandro Armenia menyebut tantangan utama negara Eropa terletak pada kemampuan menyeimbangkan produksi energi terbarukan dengan sistem penyimpanan yang stabil.

“Tanpa penyimpanan energi yang kuat, transisi energi tidak akan berjalan efektif,” ujarnya.

Krisis Selat Hormuz kembali menegaskan kerentanan dunia terhadap ketergantungan bahan bakar fosil, sekaligus mendorong percepatan transisi menuju energi bersih di berbagai negara.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Bukan Sekadar AC Biasa, Ini Rahasia Masjidil Haram Tetap Sejuk Saat Suhu Makkah Menyengat
Beasiswa TAMBA SAMBA 2027 Resmi Dibuka, Profesional Indonesia Bisa Raih Kuliah MBA Gratis di AS Plus Tunjangan Rp44 Juta
Istana Buckingham Cari Videografer, Gaji Tembus Rp1 Miliar Setahun dan Bisa Ikut Agenda Raja Charles
Ubah Haluan, Vietnam Tunda Larangan Motor Bensin, Transisi Berlanjut hingga 2028
Norwegia Batasi AI di Sekolah Dasar, Fokus Kembali ke Belajar Dasar
Harga Minyak Dunia Naik ke US$81, Ketegangan Iran-AS Guncang Pasar Energi
Jay Idzes Dukung Ismael Kone, Pesan Haru Kapten Timnas Indonesia Usai Cedera Horor Piala Dunia 2026
Mimpi Kuliah Gratis ke Rusia Bisa Jadi Nyata, 300 Beasiswa Dibuka untuk Pelajar Indonesia
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 8 Juli 2026 - 20:34 WIB

Bukan Sekadar AC Biasa, Ini Rahasia Masjidil Haram Tetap Sejuk Saat Suhu Makkah Menyengat

Rabu, 8 Juli 2026 - 08:00 WIB

Beasiswa TAMBA SAMBA 2027 Resmi Dibuka, Profesional Indonesia Bisa Raih Kuliah MBA Gratis di AS Plus Tunjangan Rp44 Juta

Selasa, 7 Juli 2026 - 18:47 WIB

Istana Buckingham Cari Videografer, Gaji Tembus Rp1 Miliar Setahun dan Bisa Ikut Agenda Raja Charles

Selasa, 30 Juni 2026 - 19:00 WIB

Ubah Haluan, Vietnam Tunda Larangan Motor Bensin, Transisi Berlanjut hingga 2028

Rabu, 24 Juni 2026 - 17:00 WIB

Norwegia Batasi AI di Sekolah Dasar, Fokus Kembali ke Belajar Dasar

Berita Terbaru