JAKARTA – Harga kopi global naik 2,3% pada Maret 2026. Kenaikan ini muncul setelah pasar terguncang lonjakan harga pupuk dan ketegangan geopolitik yang mengganggu rantai pasok internasional.
Organisasi Kopi Internasional (ICO) melaporkan Indikator Komposit Harga Kopi (I-CIP) mencapai 273,70 sen dolar AS per pon. Angka ini naik dari bulan sebelumnya setelah pasar sempat melemah selama tiga bulan berturut-turut.
ICO menilai harga pupuk yang terus naik memberi tekanan besar pada prospek produksi kopi. Lembaga itu juga mengingatkan risiko penurunan produksi pada musim tanam 2026–2027 jika kondisi tersebut tidak membaik.
“Produksi panen 2025–2026 kemungkinan masih aman karena petani sudah memakai pupuk. Namun, risiko muncul pada musim berikutnya jika gangguan terus terjadi,” tulis ICO dalam laporan terbarunya.
ICO juga menyoroti peran penting Selat Hormuz dalam perdagangan global. Sekitar 25%–30% perdagangan pupuk dunia dan hingga 30% pupuk nitrogen melewati jalur tersebut. Kawasan Teluk juga menjadi pusat produksi pupuk utama dunia.
Ketegangan geopolitik di kawasan Asia Barat ikut memperburuk situasi logistik global. Kondisi ini membuat biaya pengiriman naik dan pasokan komoditas, termasuk kopi, menjadi tidak stabil.
Dari sisi jenis kopi, pergerakan harga tercatat beragam. Colombian Milds naik 2% menjadi 337,45 sen dolar AS per pon. Other Milds menguat 4% ke 334,34 sen. Brazilian Naturals juga naik 3,9% menjadi 320,51 sen per pon.
Berbeda dengan itu, Robusta justru turun 1,6% ke level 176,77 sen per pon. Di pasar berjangka, kontrak London ICE turun 2,5% ke 161,91 sen per pon, sedangkan kontrak New York ICE naik tipis 0,5% ke 290,18 sen per pon.
ICO menilai perbedaan pergerakan harga mencerminkan ketidakpastian pasar global. Tekanan biaya produksi, gangguan logistik, dan faktor geopolitik masih menjadi penentu utama arah harga kopi dunia dalam beberapa bulan ke depan.









