KERINCI – Harga cabai di tingkat petani di Kabupaten Kerinci turun tajam dalam beberapa pekan terakhir. Penurunan ini langsung menekan pendapatan petani.
Petani menjual cabai ke gudang penampungan dengan harga Rp16 ribu hingga Rp18 ribu per kilogram. Pedagang eceran kemudian menjualnya di kisaran Rp20 ribu hingga Rp22 ribu per kilogram.
Muhammad Amin, petani cabai di Kerinci, mengaku merugi akibat kondisi ini. Ia menilai harga jual tidak sebanding dengan biaya produksi yang terus naik.
“Dengan harga seperti ini, kami rugi. Harga pupuk mahal. Obat-obatan naik. Ongkos angkut juga tinggi. Hasil jual tidak menutup biaya,” kata Amin, Sabtu.
Ari, petani lainnya, juga merasakan tekanan yang sama. Ia menyebut kondisi ini mengancam keberlanjutan usaha tani.
“Petani sekarang tertekan. Modal besar, tapi hasil kecil. Kalau kondisi ini terus terjadi, banyak petani akan berhenti menanam cabai,” ujar Ari.
Petani meminta pemerintah segera bertindak. Mereka berharap pemerintah menstabilkan harga dan mengatur distribusi. Petani juga membutuhkan bantuan biaya produksi.
Tanpa langkah jelas, harga akan terus berfluktuasi. Kondisi ini akan terus merugikan petani sebagai pihak paling rentan dalam rantai pasok cabai.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









