JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia kembali surplus pada Februari 2026. Surplus mencapai US$1,27 miliar. Capaian ini menandai 70 bulan surplus berturut-turut sejak Mei 2020.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyampaikan data tersebut. Ia menyebut surplus naik dibandingkan Januari 2026 yang mencapai US$0,95 miliar.
“Pada Februari 2026, neraca perdagangan barang mencatat surplus sebesar US$1,27 miliar. Indonesia telah mencatat surplus selama 70 bulan berturut-turut,” kata Ateng, Senin (1/4/2026).
Ateng menjelaskan nilai ekspor Indonesia pada Februari 2026 mencapai US$22,17 miliar. Nilai ini naik 1,01% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Ekspor nonmigas mencapai US$21,09 miliar dan naik 1,30% secara tahunan. Ekspor migas turun 4,25% menjadi US$1,08 miliar.
Kenaikan ekspor terutama berasal dari komoditas lemak dan minyak nabati, nikel, serta mesin dan perlengkapan elektrik.
Di sisi lain, nilai impor Februari 2026 mencapai US$20,89 miliar. Nilai ini naik 10,85% secara tahunan. Impor nonmigas naik 18,24% menjadi US$18,90 miliar, sedangkan impor migas turun 30,36% menjadi US$2 miliar.
BPS mencatat surplus perdagangan bertumpu pada sektor nonmigas. Surplus nonmigas mencapai US$2,19 miliar. Komoditas utama penyumbang surplus meliputi minyak dan lemak hewani nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.
Sejumlah ekonom memperkirakan surplus neraca dagang tetap berlanjut, tetapi nilainya berpotensi menyempit. Mereka menilai kenaikan impor dapat menekan surplus ke kisaran US$0,84 miliar pada Februari 2026.
Para analis menyoroti faktor eksternal seperti harga komoditas, kebutuhan bahan baku, dan aktivitas industri domestik. Mereka menilai gejolak geopolitik di Timur Tengah belum berdampak signifikan pada periode tersebut karena eskalasi baru terjadi pada awal Maret 2026.
Di sisi lain, sebagian analis memproyeksikan surplus mencapai US$1,49 miliar. Mereka menilai penurunan impor secara bulanan dapat mendorong surplus lebih tinggi. Mereka juga mencatat jumlah hari kerja yang lebih sedikit pada Februari memengaruhi aktivitas perdagangan.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









