JAMBI – Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Provinsi Jambi kembali melemah pada periode 22–28 Mei 2026. Tim penetapan harga sawit menetapkan harga tertinggi TBS usia 10–20 tahun di level Rp3.818,54 per kilogram atau turun sekitar Rp41,98 dibanding periode sebelumnya.
Penurunan ini langsung memicu kekhawatiran di kalangan petani sawit. Pasalnya, sebagian besar petani swadaya masih menerima harga lebih rendah di tingkat pengepul atau toke, yakni berkisar Rp2.900 hingga Rp3.300 per kilogram.
Situasi tersebut membuat margin keuntungan petani semakin tipis. Di sisi lain, biaya produksi kebun terus meningkat, mulai dari pupuk, perawatan lahan, hingga ongkos angkut hasil panen.
Tekanan Pasar Global Mulai Pengaruhi Harga Sawit Daerah
Penurunan harga sawit di Jambi tidak berdiri sendiri. Kondisi pasar global ikut mendorong pelemahan harga crude palm oil (CPO) dalam beberapa pekan terakhir.
Beberapa negara importir utama mulai menahan pembelian karena stok minyak nabati dunia meningkat. Selain itu, persaingan dengan minyak kedelai dan minyak bunga matahari juga memengaruhi pergerakan harga sawit internasional.
Di tengah kondisi tersebut, harga CPO Jambi tercatat berada di angka Rp14.886,38 per kilogram. Sementara harga kernel atau inti sawit mencapai Rp14.267,73 per kilogram dengan indeks K sebesar 95,22 persen.
Pengamat komoditas menilai fluktuasi pasar global kini semakin cepat memengaruhi harga sawit di daerah penghasil, termasuk Jambi. Ketika permintaan ekspor melambat, pabrik langsung menyesuaikan harga pembelian TBS dari petani.
Petani Sawit Hadapi Tantangan Baru
Penurunan harga sawit kali ini membuat banyak petani mulai mengurangi pengeluaran operasional kebun. Sebagian petani bahkan memilih menunda pemupukan karena khawatir hasil penjualan tidak mampu menutup biaya produksi.
Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi produktivitas sawit dalam jangka panjang. Jika pemeliharaan kebun berkurang, kualitas dan jumlah panen bisa ikut menurun pada musim berikutnya.
Selain itu, petani swadaya menjadi kelompok yang paling terdampak. Mereka tidak memiliki kontrak langsung dengan pabrik sehingga harga jual sangat bergantung pada tengkulak.
Di beberapa wilayah sentra sawit Jambi, petani berharap pemerintah daerah dapat memperkuat pengawasan tata niaga sawit agar selisih harga antara tingkat pabrik dan petani tidak terlalu jauh.
Daftar Harga Sawit Jambi Periode 22–28 Mei 2026
Berikut daftar harga TBS kelapa sawit berdasarkan usia tanaman:
Umur 3 tahun: Rp2.964,67 per kilogram
Umur 4 tahun: Rp3.181,97 per kilogram
Umur 5 tahun: Rp3.327,08 per kilogram
Umur 6 tahun: Rp3.466,35 per kilogram
Umur 7 tahun: Rp3.553,48 per kilogram
Umur 8 tahun: Rp3.628,89 per kilogram
Umur 9 tahun: Rp3.699,57 per kilogram
Umur 10–20 tahun: Rp3.818,54 per kilogram
Harga tersebut berlaku untuk transaksi tingkat pabrik dan ditetapkan oleh tim yang melibatkan Dinas Perkebunan, perusahaan sawit, serta perwakilan petani.
Industri Sawit Masih Jadi Penopang Ekonomi Jambi
Meski harga turun, sektor sawit tetap memegang peranan besar dalam perekonomian Jambi. Ribuan warga menggantungkan pendapatan dari sektor perkebunan kelapa sawit, baik sebagai petani, buruh panen, sopir angkut, maupun pekerja pabrik.
Karena itu, perubahan harga sawit selalu memengaruhi perputaran ekonomi daerah. Ketika harga naik, daya beli masyarakat ikut meningkat. Sebaliknya, saat harga turun, aktivitas ekonomi di kawasan perkebunan biasanya ikut melambat.
Pemerintah daerah kini menghadapi tantangan menjaga stabilitas sektor sawit di tengah ketidakpastian ekonomi global dan perubahan tren energi dunia.
FAQ
Kenapa harga sawit di Jambi turun?
Harga sawit turun karena tekanan pasar global, meningkatnya stok minyak nabati dunia, serta melambatnya permintaan ekspor dari sejumlah negara importir.
Berapa harga sawit tertinggi di Jambi saat ini?
Harga tertinggi TBS sawit periode 22–28 Mei 2026 mencapai Rp3.818,54 per kilogram untuk usia tanaman 10–20 tahun.
Apakah harga petani sama dengan harga pabrik?
Tidak. Harga di tingkat petani biasanya lebih rendah karena dipotong biaya transportasi dan margin tengkulak.
Apa dampak penurunan harga sawit bagi petani?
Pendapatan petani menurun dan sebagian mulai mengurangi biaya perawatan kebun seperti pemupukan serta pemeliharaan tanaman.
Apakah harga sawit bisa kembali naik?
Harga sawit masih berpeluang naik jika permintaan ekspor membaik dan harga minyak nabati global kembali menguat.
Penulis : Mosa
Editor : Ichwan Diaspora









