ADB Prediksi Ekonomi Asia Melambat, Indonesia Justru Melaju Lebih Kencang

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 15 April 2026 - 10:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Asian Development Bank (ADB) memprediksi pertumbuhan ekonomi negara berkembang di Asia dan Pasifik akan melambat dalam dua tahun ke depan. Di tengah tren itu, Indonesia menunjukkan arah berbeda dengan pertumbuhan yang lebih kuat.

ADB merilis laporan Asian Development Outlook (ADO) April 2026 dan menetapkan proyeksi pertumbuhan kawasan sebesar 5,1% pada 2026 dan 2027. Tekanan global masih membayangi dan menahan laju ekonomi.

Kepala Ekonom ADB Albert Park menilai konflik di Timur Tengah menjadi risiko terbesar. Konflik tersebut mendorong harga energi dan pangan tetap tinggi serta memperketat kondisi keuangan global.

“Konflik di Timur Tengah berpotensi mengganggu stabilitas kawasan. Dampaknya mencakup kenaikan harga dan volatilitas pasar keuangan,” ujar Albert Park.

Ketidakpastian perdagangan global ikut menekan prospek ekonomi. Gangguan rantai pasok dan kenaikan biaya logistik memperlambat aktivitas ekonomi di banyak negara berkembang.

Baca Juga :  BCA Bagi Dividen Rp336 per Saham, Siap Tebar Interim Tiga Kali 2026

Konsumsi rumah tangga masih kuat di sejumlah negara. Permintaan terhadap teknologi kecerdasan buatan juga terus meningkat. Namun, faktor itu belum cukup untuk menahan tekanan global.

Indonesia Lebih Tangguh

ADB memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,2% pada 2026 dan 2027. Angka itu lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya sebesar 5,1%.

Konsumsi domestik yang stabil mendorong pertumbuhan tersebut. Struktur ekonomi Indonesia juga mampu meredam dampak gejolak eksternal. Meski begitu, risiko dari konflik geopolitik tetap mengintai.

Negara Lain Melemah

China akan mencatat perlambatan ekonomi. ADB memperkirakan pertumbuhan China mencapai 4,6% pada 2026 dan 4,5% pada 2027. Angka itu turun dari 5% pada 2025.

Baca Juga :  Investor Global Apresiasi Kebijakan RI, Stabilitas Ekonomi Dinilai Tetap Terjaga

Pelemahan sektor properti dan perlambatan ekspor menekan ekonomi China.

Di India, ekonomi tumbuh 6,9% pada 2026. Angka ini lebih rendah dibanding 7,6% pada tahun sebelumnya.

Negara-negara Pasifik menghadapi perlambatan paling tajam. Pertumbuhan turun dari 4,2% pada 2025 menjadi 3,4% pada 2026 dan 3,2% pada 2027.

Harga Energi dan Pangan Naik

ADB memprediksi harga minyak tetap tinggi dalam jangka pendek. Harga akan stabil jika ketegangan geopolitik mereda.

Kenaikan harga energi dan gangguan pasokan pupuk meningkatkan tekanan pada harga pangan global. Kondisi ini berpotensi menekan daya beli masyarakat di negara berkembang.

Tekanan global masih kuat. Namun, Indonesia mampu menjaga momentum pertumbuhan di tengah kondisi tersebut.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Investor Kabur, KADIN Ungkap Biaya Tenaga Kerja Jadi Pemicu
TPP Mandek 3 Bulan, Ribuan ASN Kerinci Menanti Kepastian
Ekonomi Singapura Tumbuh di Bawah Ekspektasi
Investor Global Apresiasi Kebijakan RI, Stabilitas Ekonomi Dinilai Tetap Terjaga
Gula RI Mau Bangkit, Wamentan Targetkan Rendemen Tebu Naik ke Level Kolonial
Ekonomi China Ngebut 5% di Q1 2026, Ekspor Melejit Saat Konsumsi Melemah
Tren IPO Lesu, Backdoor Listing Jadi Jalan Pintas Emiten Masuk Bursa
RI Berebut Minyak AS, Harga Bisa Melonjak 30% di Atas WTI
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 17 April 2026 - 23:00 WIB

Investor Kabur, KADIN Ungkap Biaya Tenaga Kerja Jadi Pemicu

Jumat, 17 April 2026 - 22:00 WIB

Ekonomi Singapura Tumbuh di Bawah Ekspektasi

Jumat, 17 April 2026 - 19:00 WIB

Investor Global Apresiasi Kebijakan RI, Stabilitas Ekonomi Dinilai Tetap Terjaga

Jumat, 17 April 2026 - 15:00 WIB

Gula RI Mau Bangkit, Wamentan Targetkan Rendemen Tebu Naik ke Level Kolonial

Jumat, 17 April 2026 - 12:37 WIB

Ekonomi China Ngebut 5% di Q1 2026, Ekspor Melejit Saat Konsumsi Melemah

Berita Terbaru

Oplus_0

Internasional

Iran Hentikan Ekspor Bahan Baku Plastik dan Pupuk

Sabtu, 18 Apr 2026 - 00:00 WIB

Oplus_0

Ekonomi

Investor Kabur, KADIN Ungkap Biaya Tenaga Kerja Jadi Pemicu

Jumat, 17 Apr 2026 - 23:00 WIB