SUNGAI PENUH – Polemik kualitas pupuk subsidi di Desa Pinggir Air, Kecamatan Kumun Debai, Kota Sungai Penuh memasuki babak baru. Setelah keluhan petani mencuat dalam beberapa hari terakhir, Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kota Sungai Penuh bersama sejumlah pihak langsung mendatangi lokasi untuk memeriksa kondisi pupuk sekaligus mengumpulkan sampel.
Langkah cepat tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah dalam merespons keresahan petani. Pemerintah tidak hanya memantau kondisi di lapangan, tetapi juga menempuh pengujian ilmiah agar seluruh pihak memperoleh kepastian berdasarkan hasil laboratorium.
Sementara itu, para petani berharap proses pemeriksaan berlangsung terbuka dan objektif. Mereka ingin mengetahui kondisi sebenarnya sehingga dapat menggunakan pupuk subsidi tanpa rasa khawatir saat memasuki musim tanam.
Tim Gabungan Periksa Lokasi dan Ambil Sampel
Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kota Sungai Penuh menggandeng pihak supplier pupuk Indonesia serta Badan Pengawas Pupuk Provinsi Jambi untuk melakukan inspeksi di Desa Pinggir Air.
Selama peninjauan, tim memeriksa kondisi pupuk yang menjadi keluhan petani. Selain itu, petugas mengambil dua sampel pupuk untuk menjalani pengujian laboratorium.
Melalui pengujian tersebut, tim ingin memastikan mutu pupuk sekaligus membandingkan kualitas produk dengan standar yang berlaku. Dengan demikian, pemerintah dapat mengambil keputusan berdasarkan data ilmiah, bukan sekadar dugaan.
Perbedaan Kondisi Pupuk Memicu Pertanyaan Petani
Sebelumnya, sejumlah petani mengaku menemukan perbedaan yang cukup mencolok pada pupuk subsidi yang mereka terima.
Mereka melakukan pengujian sederhana terhadap lima sampel pupuk menggunakan air. Hasilnya menunjukkan karakteristik yang berbeda. Sebagian pupuk mengapung di permukaan air, sebagian cepat hancur dan melebur, sedangkan sampel lainnya langsung mengendap di dasar wadah.
Perbedaan tersebut membuat petani mempertanyakan kualitas pupuk yang mereka gunakan. Mereka khawatir kondisi itu akan mengurangi efektivitas pemupukan sekaligus memengaruhi pertumbuhan tanaman hingga hasil panen.
“Kami jadi bingung mana pupuk yang bagus dan mana yang asli. Kondisinya berbeda-beda, padahal sama-sama pupuk subsidi,” ujar salah seorang petani kepada wartawan, Kamis (2/7/2026).
Petani Sudah Melapor ke Berbagai Pihak
Sebelum pemerintah turun ke lokasi, petani lebih dulu menyampaikan keluhan kepada Dinas Pertanian, kios penyalur pupuk, serta Petugas Penyuluh Lapangan (PPL).
Namun, selama beberapa hari mereka belum memperoleh penjelasan yang memuaskan. Kondisi tersebut membuat kebingungan petani terus meningkat karena mereka tetap membutuhkan pupuk untuk menunjang aktivitas pertanian.
Setelah persoalan itu menjadi perhatian publik, pemerintah akhirnya mempercepat pemeriksaan lapangan sekaligus mengumpulkan sampel pupuk untuk menjalani pengujian laboratorium.
Hasil Laboratorium Menjadi Dasar Tindak Lanjut
Kini seluruh perhatian tertuju pada hasil uji laboratorium. Pemerintah akan menggunakan hasil tersebut sebagai dasar dalam menentukan langkah lanjutan.
Apabila hasil pengujian menunjukkan kualitas pupuk telah memenuhi standar, petani dapat menggunakan pupuk subsidi dengan lebih tenang. Sebaliknya, apabila tim menemukan ketidaksesuaian, pemerintah dapat segera mengambil tindakan sesuai ketentuan yang berlaku.
Selain memberikan kepastian kepada petani, proses tersebut juga bertujuan menjaga kualitas distribusi pupuk subsidi agar program pemerintah tetap berjalan sesuai sasaran.
Pemerintah Diminta Menjaga Transparansi
Di sisi lain, petani berharap pemerintah menyampaikan hasil pemeriksaan secara terbuka kepada masyarakat. Transparansi tersebut dinilai penting agar tidak muncul spekulasi mengenai kualitas pupuk subsidi yang beredar.
Lebih jauh lagi, petani juga berharap pemerintah memperkuat pengawasan terhadap distribusi pupuk subsidi sehingga setiap produk yang sampai ke tangan petani benar-benar memenuhi standar mutu.
FAQ
Mengapa pemerintah menguji pupuk subsidi di laboratorium?
Pemerintah ingin memastikan kualitas pupuk subsidi sesuai standar sekaligus menjawab keluhan petani mengenai perbedaan karakteristik pupuk.
Siapa yang melakukan pemeriksaan?
Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kota Sungai Penuh bekerja sama dengan pihak supplier pupuk Indonesia dan Badan Pengawas Pupuk Provinsi Jambi.
Berapa sampel pupuk yang menjalani pengujian?
Tim mengambil dua sampel pupuk dari lokasi untuk menjalani pemeriksaan laboratorium.
Apa yang membuat petani mengeluh?
Petani menemukan perbedaan karakteristik pada lima sampel pupuk. Sebagian pupuk mengapung, sebagian cepat hancur, sedangkan sebagian lainnya mengendap di air.
Kapan pemerintah menentukan langkah berikutnya?
Pemerintah akan menentukan langkah lanjutan setelah laboratorium menyelesaikan seluruh proses pengujian dan menyerahkan hasil pemeriksaan.(Tim)









