JAKARTA – Bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve kembali mencatat kerugian pada 2025. Nilainya mencapai US$19,6 miliar atau sekitar Rp331,43 triliun.
Federal Reserve mencatat rugi komprehensif US$19,6 miliar pada 2025. Angka ini lebih kecil dari kerugian 2024 sebesar US$77,5 miliar. Pada 2023, kerugian mencapai US$114,6 miliar.
Kerugian mulai menyusut. Neraca bank sentral mengecil. Beban bunga turun tajam. Pada 2025, biaya bunga mencapai US$12,1 miliar. Pada 2024, biaya bunga menyentuh US$68 miliar.
Penurunan ini mengikuti kebijakan suku bunga. Federal Reserve menurunkan suku bunga sejak 2024. Levelnya turun dari 5,25%-5,5% menjadi 3,5%-3,75%.
Kerugian muncul karena beban bunga lebih besar dari pendapatan. Pendapatan berasal dari obligasi dan layanan keuangan. Saat suku bunga tinggi, biaya bunga ikut naik.
Masalah ini bermula saat pandemi COVID-19. Saat itu, Federal Reserve membeli obligasi dalam jumlah besar. Bank sentral juga menekan suku bunga mendekati nol.
Kondisi berubah pada 2022. Inflasi melonjak. Federal Reserve kemudian menaikkan suku bunga secara agresif. Kenaikan itu membuat beban bunga melampaui pendapatan.
Saat ini kondisi mulai membaik. Federal Reserve mencatat kerugian sebagai aset tangguhan atau deferred asset. Nilainya mencapai US$245 miliar.
Artinya, bank sentral harus menutup kerugian tersebut lebih dulu. Setelah itu, bank sentral bisa menyetor laba ke pemerintah AS. Dalam beberapa bulan terakhir, Federal Reserve mulai mencatat keuntungan tipis.
Meski begitu, proses pemulihan butuh waktu panjang. Banyak analis memperkirakan proses ini berlangsung beberapa tahun.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora








