Rupiah Kian Tertekan, Pasar Cemas Sinyal BI: Kurs Berpotensi Tembus Rp17.750 per Dolar AS

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 20 Mei 2026 - 10:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Rabu (20/5/2026). Pasar memperkirakan rupiah bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp17.600–Rp17.750 per dolar AS.

Pada penutupan perdagangan sebelumnya, rupiah sudah melemah sekitar 0,22% ke level Rp17.700 per dolar AS. Kondisi ini tidak berdiri sendiri, karena mayoritas mata uang Asia juga ikut tertekan terhadap dolar AS.

Yen Jepang, yuan China, dolar Singapura, won Korea, hingga baht Thailand sama-sama mencatat pelemahan. Situasi ini memperlihatkan kuatnya posisi dolar AS di pasar global yang masih menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Investor Tinggalkan Risiko, Aset Domestik Tertekan

Tekanan rupiah juga muncul dari arus keluar modal asing di pasar keuangan Indonesia. Investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko, terutama saham dan surat utang negara.

Di pasar obligasi, arus keluar modal asing masih terjadi sejak awal tahun. Meski pemerintah melakukan intervensi melalui pembelian kembali surat berharga negara, tekanan jual belum sepenuhnya mereda.

Kondisi ini memperkuat sinyal bahwa pasar masih berhati-hati terhadap prospek ekonomi domestik jangka pendek.

Pasar Fokus ke Suku Bunga Bank Indonesia

Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian ke Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia. Banyak analis memperkirakan BI berpotensi menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin.

Baca Juga :  Dunia Usaha Bertahan di Tengah Tekanan, PHK Tak Lagi Jadi Prioritas Utama

Jika BI benar-benar mengambil langkah tersebut, pasar menilai kebijakan ini dapat membantu menahan pelemahan rupiah. Namun di sisi lain, kenaikan suku bunga juga bisa menambah tekanan pada sektor riil dan konsumsi.

Selain suku bunga, investor juga menunggu arah kebijakan moneter selanjutnya. Sikap BI yang lebih ketat (hawkish) berpotensi meningkatkan kepercayaan pasar terhadap stabilitas rupiah.

Sentimen Global Masih Menjadi Penentu Utama

Meskipun tekanan geopolitik global mulai mereda, pasar belum benar-benar stabil. Dolar AS tetap menjadi aset pilihan utama investor global.

Selama arus modal global masih mengarah ke aset aman, mata uang negara berkembang berpotensi tetap tertekan. Dalam kondisi ini, rupiah sangat sensitif terhadap perubahan sentimen eksternal.

Pemerintah Turun Tangan di Pasar Obligasi

Pemerintah melalui Kementerian Keuangan juga ikut menjaga stabilitas pasar keuangan. Otoritas melakukan pembelian kembali surat berharga negara untuk meredam volatilitas.

Meski begitu, realisasi pembelian masih di bawah target harian yang disiapkan pemerintah. Hal ini menunjukkan tekanan pasar belum sepenuhnya besar, tetapi tetap perlu diwaspadai karena arus modal asing masih keluar secara bertahap.

Baca Juga :  Mayoritas Negara Mulai Ramadan 19 Februari

Prospek Rupiah Jangka Pendek

Dalam jangka pendek, rupiah masih bergerak dalam fase rentan. Tiga faktor utama yang menentukan arah pergerakan mata uang ini meliputi:

Kebijakan suku bunga Bank Indonesia

Pergerakan dolar AS di pasar global

Arus modal asing di pasar saham dan obligasi

Selama tiga faktor ini belum menunjukkan perbaikan signifikan, volatilitas rupiah kemungkinan masih berlanjut.

FAQ

1. Mengapa rupiah kembali melemah?

Rupiah tertekan oleh penguatan dolar AS, arus keluar modal asing, serta sentimen pasar yang masih berhati-hati terhadap aset Indonesia.

2. Berapa kisaran rupiah hari ini?

Pasar memperkirakan rupiah bergerak di rentang Rp17.600–Rp17.750 per dolar AS.

3. Apakah Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga?

Banyak analis memperkirakan BI berpeluang menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin untuk menjaga stabilitas rupiah.

4. Apa dampak kenaikan suku bunga bagi ekonomi?

Kenaikan suku bunga bisa membantu rupiah menguat, tetapi juga berpotensi menekan kredit dan konsumsi.

5. Apa faktor terbesar yang mempengaruhi rupiah saat ini?

Faktor utama berasal dari kondisi global, terutama kekuatan dolar AS dan arus modal internasional.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Dominasi Dolar AS Belum Tumbang, Data Terbaru IMF Ungkap Mata Uang Dunia Masih Bergantung pada Greenback
Promo Shopee 5 Juli 2026 Banjir Diskon, Traktiran Serba Rp7 hingga Potongan Rp188 Ribu Siap Diburu
Harga Sawit Kalbar Terbaru 2026 Melonjak, TBS Usia Produktif Tembus Rp3.519 per Kg, Cek Daftar Lengkapnya
Pertamina Jamin Pasokan BBM untuk Koperasi Nelayan Merah Putih, Ekonomi Pesisir Siap Melaju Lebih Kencang
Bengkulu Bidik PAD Baru dari Perkebunan Sawit, Pajak Air Permukaan Mulai Disiapkan untuk 2027
Harga Avtur Turun, Tiket Pesawat Belum Bergeming! Ini Penyebab Tarif Penerbangan Domestik Masih Mahal Juli 2026
Promo Shopee 4 Juli 2026: Diskon 50 Persen, Voucher Rp188 Ribu dan Promo Serba Rp7 Jadi Buruan
Koperasi Siap Kuasai Bisnis Sawit dari Hulu ke Hilir, Pemerintah Bidik Produksi CPO hingga Minyak Goreng
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 5 Juli 2026 - 09:00 WIB

Dominasi Dolar AS Belum Tumbang, Data Terbaru IMF Ungkap Mata Uang Dunia Masih Bergantung pada Greenback

Minggu, 5 Juli 2026 - 07:00 WIB

Promo Shopee 5 Juli 2026 Banjir Diskon, Traktiran Serba Rp7 hingga Potongan Rp188 Ribu Siap Diburu

Sabtu, 4 Juli 2026 - 18:00 WIB

Pertamina Jamin Pasokan BBM untuk Koperasi Nelayan Merah Putih, Ekonomi Pesisir Siap Melaju Lebih Kencang

Sabtu, 4 Juli 2026 - 11:00 WIB

Bengkulu Bidik PAD Baru dari Perkebunan Sawit, Pajak Air Permukaan Mulai Disiapkan untuk 2027

Sabtu, 4 Juli 2026 - 09:00 WIB

Harga Avtur Turun, Tiket Pesawat Belum Bergeming! Ini Penyebab Tarif Penerbangan Domestik Masih Mahal Juli 2026

Berita Terbaru