Dunia Usaha Bertahan di Tengah Tekanan, PHK Tak Lagi Jadi Prioritas Utama

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 6 Mei 2026 - 17:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Memasuki kuartal II 2026, pelaku usaha di Indonesia menghadapi tekanan berat dari ketidakpastian global dan pelemahan ekonomi domestik. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyebut banyak perusahaan kini memilih masuk ke fase survival mode atau bertahan hidup ketimbang berekspansi.

Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo Bob Azam menjelaskan, kombinasi konflik geopolitik global dan lemahnya permintaan dalam negeri menekan kinerja bisnis secara signifikan.

Tekanan geopolitik angkat biaya produksi

Bob Azam menegaskan konflik geopolitik yang berlangsung sejak awal tahun 2026 ikut mendorong kenaikan biaya produksi di berbagai sektor. Kondisi itu membuat pelaku usaha harus menyesuaikan struktur biaya agar tetap bisa beroperasi.

Ia menilai dunia usaha tidak lagi hanya fokus pada ekspansi, tetapi berusaha menjaga arus kas agar tetap stabil di tengah lonjakan biaya input produksi.

“Bisnis menghadapi tantangan besar dan ketidakpastian tinggi. Biaya produksi naik, sementara kondisi global ikut menekan,” ujar Bob Azam.

Daya beli masyarakat ikut melemah

Selain tekanan global, Bob juga menyoroti pelemahan daya beli masyarakat di dalam negeri. Kondisi ini membuat permintaan terhadap barang dan jasa menurun di berbagai sektor, mulai dari manufaktur hingga ritel.

Baca Juga :  Alarm Industri Tekstil Berbunyi! Daya Beli Seret, Risiko PHK Masih Membayangi hingga Akhir 2026

Menurutnya, kombinasi biaya produksi yang naik dan permintaan yang turun menciptakan tekanan ganda bagi dunia usaha. Perusahaan pun terpaksa melakukan efisiensi ketat agar tidak mengalami kerugian lebih dalam.

PHK bukan lagi fokus utama perusahaan

Di tengah situasi tersebut, isu pemutusan hubungan kerja (PHK) tidak lagi menjadi perhatian utama pelaku usaha. Bob menegaskan perusahaan kini lebih fokus mempertahankan kelangsungan operasional dibanding melakukan pengurangan tenaga kerja secara besar-besaran.

Ia menjelaskan, banyak perusahaan memilih mencari jalan tengah agar tidak merugikan pekerja maupun bisnis.

“Isu utama sekarang bukan PHK, tetapi bagaimana perusahaan bisa bertahan,” tegasnya.

Hubungan industrial jadi kunci bertahan

Bob menekankan pentingnya komunikasi antara manajemen perusahaan dan serikat pekerja. Ia menyebut hubungan industrial yang sehat menjadi faktor utama untuk mencegah PHK di tengah tekanan ekonomi.

Baca Juga :  Jembatan Perintis Garuda Resmi Berdiri, Ekonomi Warga Mekar Jaya Sungai Penuh Makin Terbuka

Menurutnya, perusahaan dan pekerja harus membangun komunikasi dua arah yang terbuka agar bisa mencari solusi bersama.

“Kunci utama menghindari PHK ada pada hubungan bipartit antara perusahaan dan serikat pekerja. Kepercayaan dan komunikasi harus berjalan baik,” ujarnya.

Insentif pemerintah dinilai terbatas

Bob juga menilai pelaku usaha tidak bisa lagi terlalu bergantung pada insentif pemerintah. Ia menyebut ruang fiskal negara semakin terbatas karena kebutuhan belanja yang meningkat, termasuk subsidi.

Kondisi tersebut membuat dunia usaha harus lebih mengandalkan strategi internal untuk bertahan. Perusahaan dituntut memperkuat efisiensi, menjaga produktivitas, dan mengelola risiko secara mandiri.

“Ruang fiskal pemerintah semakin sempit. Karena itu pelaku usaha harus lebih banyak mengandalkan kekuatan internal,” kata Bob.

Dengan kondisi ekonomi global yang belum stabil dan tekanan domestik yang masih berlangsung, dunia usaha kini berada pada fase penyesuaian besar. Fokus utama bergeser dari ekspansi menuju ketahanan bisnis jangka pendek hingga menengah.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

SIMPEDA Nasional 2026 Guncang Bengkulu, Ungu Bikin Malam Puncak Makin Spektakuler
Mian Buka Suara soal Masa Depan BPD: Bank Bengkulu Diminta Tancap Gas Jadi Penggerak Ekonomi Daerah
Bingung Urus OSS-RBA? BESAN ALIA DPMPTSP Dharmasraya Siap Bantu Pelaku Usaha
PEKA Bengkulu Buka Jalan Baru bagi Penerima Manfaat, Usaha Keluarga Didorong Makin Mandiri
Bupati Annisa Bongkar Beban Fiskal Dharmasraya, Tambahan TKD 2027 Jadi Harapan
Ojol Bisa Punya Motor Listrik Tanpa DP, Bunga Cicilan Ikut Dipangkas Prabowo
Sawit Tua Mulai Ditebang, Harapan Baru Petani Dharmasraya Tumbuh dari PSR Tahap III
Industri Alas Kaki Indonesia Melaju 11,3 Persen, Ekspansi Besar Menanti di Semester II 2026
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 23 Agustus 2026 - 07:17 WIB

SIMPEDA Nasional 2026 Guncang Bengkulu, Ungu Bikin Malam Puncak Makin Spektakuler

Jumat, 21 Agustus 2026 - 15:47 WIB

Mian Buka Suara soal Masa Depan BPD: Bank Bengkulu Diminta Tancap Gas Jadi Penggerak Ekonomi Daerah

Selasa, 18 Agustus 2026 - 17:14 WIB

Bingung Urus OSS-RBA? BESAN ALIA DPMPTSP Dharmasraya Siap Bantu Pelaku Usaha

Selasa, 18 Agustus 2026 - 14:58 WIB

PEKA Bengkulu Buka Jalan Baru bagi Penerima Manfaat, Usaha Keluarga Didorong Makin Mandiri

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 06:58 WIB

Bupati Annisa Bongkar Beban Fiskal Dharmasraya, Tambahan TKD 2027 Jadi Harapan

Berita Terbaru