CATL Mulai Produksi Massal Baterai Sodium-Ion, Tantang Dominasi Lithium dan Buka Era Baru EV Murah

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 2 Juni 2026 - 14:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Industri kendaraan listrik global memasuki fase baru setelah produsen baterai raksasa asal Tiongkok, CATL, resmi melangkah ke produksi massal baterai sodium-ion. Langkah ini memicu perhatian besar karena teknologi tersebut berpotensi mengubah peta biaya dan pasokan baterai dunia.

Selama ini, industri kendaraan listrik sangat bergantung pada baterai lithium-ion yang menggunakan bahan baku seperti nikel dan litium. Namun, fluktuasi harga dan keterbatasan pasokan membuat produsen mencari alternatif yang lebih stabil. Sodium atau natrium menawarkan solusi karena ketersediaannya jauh lebih melimpah dan mudah diperoleh.

CATL menilai momen ini sebagai titik penting untuk mempercepat diversifikasi teknologi baterai. Perusahaan tidak hanya mengejar efisiensi biaya, tetapi juga ingin memperkuat ketahanan rantai pasok energi global.

Transisi dari Litium ke Natrium Mulai Bergerak Nyata

Kepala Ilmuwan CATL, Wu Kai, menegaskan bahwa perusahaan telah menyelesaikan berbagai hambatan teknis yang sebelumnya menghambat produksi skala besar. Dengan kemajuan itu, CATL kini siap memasuki tahap produksi massal baterai sodium-ion secara komersial.

Perusahaan tersebut juga sudah mengamankan kontrak pasokan hingga 60 GWh, yang menjadi salah satu pesanan terbesar di dunia untuk kategori baterai sodium-ion. Kontrak ini menunjukkan bahwa industri mulai serius melirik teknologi alternatif tersebut.

Pada tahap awal, CATL memfokuskan penggunaan baterai ini untuk kendaraan listrik berbiaya terjangkau, sistem penyimpanan energi, dan jaringan battery swapping. Strategi ini membantu mempercepat adopsi tanpa langsung bersaing di segmen premium.

Keunggulan Utama: Biaya Lebih Rendah dan Bahan Lebih Melimpah

Baterai sodium-ion menawarkan sejumlah keunggulan yang membuatnya menarik bagi produsen EV. Pertama, natrium tersedia jauh lebih banyak dibandingkan litium. Kondisi ini membuat biaya produksi berpotensi lebih stabil dalam jangka panjang.

Baca Juga :  Lebih dari 60 Merek Otomotif Ramaikan GIIAS 2026 di ICE BSD, 6 Pendatang Baru Ikut Debut

Kedua, rantai pasok natrium tidak menghadapi tekanan geopolitik sekuat litium dan nikel. Hal ini memberi produsen ruang lebih aman dalam merencanakan produksi jangka panjang.

Selain itu, CATL menargetkan generasi terbaru baterai sodium-ion mampu mencapai jarak tempuh hingga 600 kilometer dalam sekali pengisian daya. Jika target ini tercapai, teknologi ini dapat bersaing langsung dengan baterai lithium iron phosphate (LFP) yang saat ini mendominasi pasar EV kelas menengah.

Dampak ke Industri Kendaraan Listrik Global

Masuknya baterai sodium-ion ke tahap produksi massal berpotensi mengubah struktur biaya kendaraan listrik. Produsen mobil dapat menekan harga jual kendaraan jika biaya baterai turun signifikan.

Namun, perubahan ini juga menimbulkan tantangan baru. Produsen bahan baku seperti nikel dan litium mungkin menghadapi tekanan permintaan jika adopsi sodium-ion meningkat dalam jangka panjang.

Di sisi lain, teknologi ini tidak serta-merta menggantikan lithium-ion. Banyak analis menilai sodium-ion akan mengisi segmen tertentu, terutama kendaraan murah dan sistem penyimpanan energi, sementara lithium tetap dominan di segmen performa tinggi.

Peluang dan Dampak bagi Pasar Asia, Termasuk Indonesia

Perkembangan ini juga menarik perhatian negara produsen nikel seperti Indonesia. Jika sodium-ion berkembang pesat, ketergantungan global terhadap nikel untuk baterai EV bisa mengalami penyesuaian.

Namun, pasar EV tidak akan bergeser secara drastis dalam waktu singkat. Lithium masih memegang peran penting, terutama untuk kendaraan jarak jauh dan performa tinggi. Karena itu, Indonesia tetap memiliki peluang besar di rantai pasok baterai global, meski teknologi baru mulai masuk.

Selain itu, teknologi sodium-ion juga membuka peluang investasi baru di sektor penyimpanan energi (energy storage system). Negara berkembang dengan kebutuhan listrik tinggi dapat memanfaatkan teknologi ini untuk memperkuat jaringan energi terbarukan.

Baca Juga :  Persaingan Mobil Listrik Rp 200 Jutaan Memanas, SUV Ringkas dan Strategi Harga Ubah Arah Pasar EV Indonesia

Tantangan Teknologi Sodium-Ion

Meski menjanjikan, baterai sodium-ion masih menghadapi beberapa tantangan teknis. Kepadatan energi masih lebih rendah dibandingkan lithium-ion generasi terbaru. Kondisi ini membuat ukuran baterai bisa lebih besar untuk kapasitas yang sama.

Selain itu, industri masih perlu mengoptimalkan siklus hidup baterai agar lebih tahan lama dan efisien dalam berbagai kondisi cuaca.

CATL sendiri mengembangkan generasi lanjutan yang menargetkan peningkatan kepadatan energi tanpa mengorbankan biaya produksi. Riset lanjutan ini juga mencakup eksplorasi teknologi lithium-air sebagai solusi jangka panjang.

Produksi massal baterai sodium-ion menandai perubahan besar dalam industri kendaraan listrik global. CATL tidak hanya membuka jalur teknologi baru, tetapi juga memicu persaingan lebih ketat dalam efisiensi biaya dan inovasi energi. Dalam beberapa tahun ke depan, pasar EV kemungkinan akan memasuki era hybrid teknologi baterai, di mana lithium dan sodium berjalan berdampingan untuk memenuhi kebutuhan yang berbeda.

FAQ

1. Apa itu baterai sodium-ion?

Baterai sodium-ion menggunakan natrium sebagai bahan utama pengganti litium dalam proses penyimpanan energi listrik.

2. Apa keunggulan utama baterai ini?

Keunggulan utamanya terletak pada biaya produksi yang lebih rendah dan ketersediaan bahan baku yang lebih melimpah.

3. Apakah sodium-ion akan menggantikan lithium-ion?

Tidak sepenuhnya. Sodium-ion lebih cocok untuk kendaraan murah dan penyimpanan energi, sementara lithium-ion tetap dominan di segmen performa tinggi.

4. Kapan baterai ini mulai diproduksi massal?

CATL sudah memulai tahap produksi massal secara bertahap mulai tahun ini.

5. Apakah teknologi ini bisa mencapai jarak jauh?

CATL menargetkan generasi berikutnya mampu mencapai hingga 600 km dalam sekali pengisian daya.

Penulis : Al Amsori

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Era Emas Mobil China Mulai Meredup, Penjualan Melambat Picu Perubahan Besar Industri Otomotif Global
KIA All New Carens 2026 Tampil Futuristis di IIMS, MPV Keluarga Ini Naik Level Jadi Premium
Lepas L8 PHEV Bikin Geger, SUV Hybrid Ini Mampu Tembus 1.000 Km Sekali Isi dan Tetap Bertenaga
Ofero Ledo 5 Rp3 Jutaan Guncang Pasar Sepeda Listrik, Pabrik Semarang Jadi Kunci Ekspansi Besar EV Indonesia
Skutik Baru Yamaha dengan Bagasi 37,5 Liter Bikin Heboh: Ringkas, Irit, dan Super Fungsional
Program Tukar Tambah Yadea GS70, Motor Lama Bisa Jadi Motor Listrik Baru
Bukan Sekadar MPV Listrik, Mobil Futuristis 7 Penumpang Ini Tawarkan Kabin Bak Lounge Berjalan
Pemutihan Pajak Kendaraan 2026 Meluas, DKI Jakarta dan Empat Provinsi Hadirkan Kabar Baik bagi Pemilik Kendaraan
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 3 Juni 2026 - 00:01 WIB

Era Emas Mobil China Mulai Meredup, Penjualan Melambat Picu Perubahan Besar Industri Otomotif Global

Selasa, 2 Juni 2026 - 23:00 WIB

KIA All New Carens 2026 Tampil Futuristis di IIMS, MPV Keluarga Ini Naik Level Jadi Premium

Selasa, 2 Juni 2026 - 14:00 WIB

CATL Mulai Produksi Massal Baterai Sodium-Ion, Tantang Dominasi Lithium dan Buka Era Baru EV Murah

Selasa, 2 Juni 2026 - 13:00 WIB

Lepas L8 PHEV Bikin Geger, SUV Hybrid Ini Mampu Tembus 1.000 Km Sekali Isi dan Tetap Bertenaga

Senin, 1 Juni 2026 - 18:00 WIB

Ofero Ledo 5 Rp3 Jutaan Guncang Pasar Sepeda Listrik, Pabrik Semarang Jadi Kunci Ekspansi Besar EV Indonesia

Berita Terbaru