Mobil Listrik Terancam Kena Pajak, Daerah Mulai Hitung Ulang Pendapatan yang Hilang

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 24 Mei 2026 - 02:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA — Gelombang penggunaan kendaraan listrik di Indonesia kini memasuki babak baru. Setelah bertahun-tahun mendapat insentif pajak untuk mendorong transisi energi bersih, mobil listrik mulai masuk dalam pembahasan pemerintah sebagai potensi sumber pendapatan daerah di masa depan. Sejumlah pemerintah daerah bahkan mulai menghitung dampak berkurangnya penerimaan pajak kendaraan seiring meningkatnya populasi electric vehicle (EV).

Selama ini, kendaraan listrik menikmati berbagai insentif fiskal berupa pembebasan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB). Kebijakan tersebut bertujuan mempercepat transisi menuju transportasi ramah lingkungan sekaligus mendorong industri kendaraan listrik nasional.

Namun, di sisi lain, pertumbuhan populasi kendaraan listrik mulai memunculkan perdebatan baru. Banyak daerah menilai pembebasan pajak dalam jangka panjang berpotensi mengurangi pemasukan daerah, terutama dari sektor pajak kendaraan yang selama ini menjadi salah satu tulang punggung PAD.

Pemerintah Tegaskan Belum Ada Pajak Baru

Direktur Pendapatan Daerah Kementerian Dalam Negeri, Teguh Narutomo, menegaskan pembahasan pajak kendaraan listrik masih berada pada tahap kajian. Pemerintah pusat juga tetap meminta pemerintah daerah memberikan insentif kepada pengguna kendaraan listrik sesuai aturan yang berlaku.

Menurut Teguh, kebijakan pembebasan pajak kendaraan listrik mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 dan Peraturan Presiden Nomor 79 Tahun 2023 mengenai percepatan program kendaraan listrik berbasis baterai.

Selain itu, pemerintah pusat telah mengirimkan surat edaran kepada seluruh gubernur agar mendukung pemberian insentif PKB dan BBNKB bagi kendaraan listrik.

Meski demikian, Teguh mengakui sejumlah daerah mulai menyampaikan kekhawatiran terkait penurunan potensi penerimaan pajak kendaraan bermotor.

“Pembahasan ini perlu melihat banyak sisi, mulai dari aspek hukum, sosial, fiskal daerah, sampai dampaknya terhadap industri otomotif nasional,” ujarnya dalam media briefing kajian pajak kendaraan listrik, Jumat (22/5/2026).

Kendaraan Listrik Dinilai Masih Produk Premium

Dalam kajian tersebut, pemerintah juga menyoroti kondisi kendaraan listrik yang saat ini masih didominasi segmen menengah ke atas. Karena itu, muncul pandangan bahwa kendaraan listrik layak dikenakan pajak seperti kendaraan konvensional.

Baca Juga :  Aion UT Resmi Meluncur, Mobil Listrik Rp300 Jutaan dengan Jarak Tempuh 500 Km

Pemerintah menilai pengguna kendaraan berbahan bakar minyak tetap membayar pajak penuh meski sama-sama menggunakan fasilitas jalan umum. Situasi itu memicu keluhan dari sebagian masyarakat, termasuk pengemudi ojek online, yang merasa ada perbedaan perlakuan pajak.

Selain faktor keadilan fiskal, pemerintah daerah juga membutuhkan sumber pendapatan baru untuk menopang pembangunan infrastruktur dan layanan publik.

Pengamat Ingatkan Risiko Perlambatan Adopsi EV

Di sisi lain, sejumlah pengamat meminta pemerintah berhati-hati sebelum mengurangi insentif kendaraan listrik. Head of Industrial and Transport Decarbonization INDEF Green Transition Initiative (GTI), Andry Satrio Nugroho, menilai kebijakan pajak yang terlalu cepat dapat memperlambat adopsi kendaraan listrik di Indonesia.

Menurut Andry, masyarakat masih mempertimbangkan harga kendaraan listrik yang relatif tinggi dibanding kendaraan berbahan bakar konvensional. Karena itu, insentif pajak masih menjadi faktor penting dalam keputusan pembelian konsumen.

Ia juga menilai kepastian regulasi sangat penting bagi pelaku industri maupun masyarakat yang sudah beralih ke kendaraan listrik.

“Pemerintah perlu menghitung dampaknya secara matang agar target transisi energi tetap berjalan,” katanya.

Daerah Punya Alternatif Pendapatan Lain

Selain opsi pajak kendaraan listrik, pemerintah daerah sebenarnya masih memiliki peluang lain untuk meningkatkan pendapatan tanpa menghambat pertumbuhan kendaraan ramah lingkungan.

Salah satu opsi yang mulai dibahas ialah penerapan Kawasan Rendah Emisi atau Low Emission Zone (LEZ). Kebijakan ini memungkinkan pemerintah daerah menarik retribusi atau pungutan tertentu di kawasan dengan pembatasan emisi kendaraan.

Kajian INDEF GTI memperkirakan penerapan LEZ di kawasan Sudirman, Jakarta, dapat menghasilkan potensi pendapatan hingga Rp383 miliar per tahun. Nilai tersebut bahkan berpeluang meningkat jika penerapan kawasan rendah emisi meluas ke titik lain.

Selain menambah pemasukan daerah, kebijakan LEZ juga dinilai mampu memperbaiki kualitas udara dan kesehatan masyarakat di wilayah perkotaan.

Baca Juga :  Ekspansi Besar TAILG: Motor Listrik China Kini Hadir di Indonesia

Industri Otomotif Tunggu Kepastian Regulasi

Wacana pajak kendaraan listrik kini menjadi perhatian besar pelaku industri otomotif nasional. Banyak produsen mulai agresif menghadirkan mobil listrik dengan harga lebih terjangkau demi memperluas pasar di Indonesia.

Jika pemerintah mengubah skema insentif terlalu cepat, pasar kendaraan listrik dikhawatirkan kehilangan momentum pertumbuhan. Sebaliknya, pemerintah daerah juga membutuhkan keseimbangan fiskal agar penerimaan pajak tetap stabil.

Karena itu, pemerintah pusat diperkirakan akan mencari formula baru yang mampu menjaga pertumbuhan kendaraan listrik tanpa mengorbankan pendapatan daerah.

FAQ

Apakah kendaraan listrik akan langsung dikenakan pajak?

Belum. Pemerintah masih melakukan kajian dan belum menetapkan aturan baru terkait pajak kendaraan listrik.

Mengapa pemerintah membahas pajak mobil listrik?

Jumlah kendaraan listrik terus meningkat, sementara beberapa daerah mulai mengalami tekanan terhadap pendapatan asli daerah dari sektor pajak kendaraan.

Apakah insentif kendaraan listrik akan dihapus?

Saat ini insentif PKB dan BBNKB masih berlaku sesuai aturan pemerintah pusat.

Apa dampaknya jika pajak kendaraan listrik diterapkan?

Penerapan pajak berpotensi menambah PAD daerah, tetapi juga dapat memengaruhi minat masyarakat membeli kendaraan listrik.

Apa alternatif selain mengenakan pajak EV?

Pemerintah daerah dapat mengembangkan Kawasan Rendah Emisi (LEZ) yang berpotensi menghasilkan pendapatan baru sekaligus memperbaiki kualitas udara.

Apakah motor listrik juga berpotensi dikenakan pajak?

Pembahasan saat ini masih fokus pada kendaraan listrik secara umum. Pemerintah belum menjelaskan detail kategori kendaraan yang akan terdampak.

Kapan aturan pajak kendaraan listrik diputuskan?

Pemerintah belum menetapkan jadwal resmi karena pembahasan masih berada pada tahap kajian dan evaluasi lintas sektor.

Apakah pajak kendaraan listrik berlaku sama di semua daerah?

Belum tentu. Pemerintah daerah memiliki kewenangan tertentu dalam penerapan insentif maupun tarif pajak kendaraan sesuai regulasi nasional.

Penulis : Andini

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Honda Super-One Meluncur di Jepang, “Brio Listrik” Rp 300 Jutaan Tawarkan Sensasi Mobil Sport EV Kompak
VW ID. Polo GTI Listrik 2026 Resmi Debut, Hot Hatch 226 DK Jarak 424 Km Bikin Geger Pasar Mobil Dunia
HR-V Bekas 2026 Mulai Rp150 Jutaan, SUV Favorit yang Masih Layak Dibeli atau Sudah Ketinggalan Zaman?
Suzuki GN 160 Guncang Pasar Retro 160cc, Tantang W175 dan XSR155 dengan Gaya Klasik
SUV Listrik iCAR V23 Bikin Heboh, Konsep Plug and Play Ubah Cara Orang Modifikasi Mobil di Indonesia
Toyota GR Yaris 2026 Makin Brutal, Setir Baru dan Teknologi Reli Bikin Pecinta Kecepatan Tergoda
Puluhan Bengkel Resmi Konversi Motor Listrik Tersebar di Indonesia, Ini Daftarnya dan Arah Baru Energi Nasional
Biaya Ganti Baterai Jaecoo J5 Tembus Ratusan Juta, Ini Fakta yang Bikin Calon Pembeli Berpikir Ulang
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 27 Mei 2026 - 02:00 WIB

Honda Super-One Meluncur di Jepang, “Brio Listrik” Rp 300 Jutaan Tawarkan Sensasi Mobil Sport EV Kompak

Rabu, 27 Mei 2026 - 01:00 WIB

VW ID. Polo GTI Listrik 2026 Resmi Debut, Hot Hatch 226 DK Jarak 424 Km Bikin Geger Pasar Mobil Dunia

Selasa, 26 Mei 2026 - 16:00 WIB

HR-V Bekas 2026 Mulai Rp150 Jutaan, SUV Favorit yang Masih Layak Dibeli atau Sudah Ketinggalan Zaman?

Selasa, 26 Mei 2026 - 14:00 WIB

Suzuki GN 160 Guncang Pasar Retro 160cc, Tantang W175 dan XSR155 dengan Gaya Klasik

Selasa, 26 Mei 2026 - 06:00 WIB

SUV Listrik iCAR V23 Bikin Heboh, Konsep Plug and Play Ubah Cara Orang Modifikasi Mobil di Indonesia

Berita Terbaru