Koperasi Modern Sepi Pengunjung Meski Didukung Program Nasional, Realita Tak Sesuai Harapan Publik

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 28 Mei 2026 - 19:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Jakarta Selatan (Jaksel) menyimpan satu potret menarik dari program koperasi nasional yang digadang-gadang sebagai penggerak ekonomi rakyat. Di kawasan Melawai, sebuah gerai Koperasi Kelurahan Merah Putih berdiri dengan identitas kuat negara, namun aktivitas di dalamnya justru jauh dari kata ramai. Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar: sejauh mana koperasi tersebut mampu menarik minat warga?

Gerai Koperasi di Tengah Keramaian Blok M yang Tak Tersentuh

Gerai kecil berukuran sekitar 5×5 meter itu berdiri di jalur padat Blok M Hub, Kebayoran Baru. Meski lalu lintas pejalan kaki terus mengalir, pengunjung yang masuk ke dalam koperasi sangat minim. Dari luar, plang merah-putih dan wajah Presiden Prabowo Subianto langsung menarik perhatian, menegaskan keterlibatan program nasional dalam operasionalnya.

Namun, ketika pengunjung melangkah masuk, suasana berubah kontras. Ruangan sederhana itu menampilkan rak-rak barang kebutuhan harian, minuman kemasan, hingga produk beku. Tidak ada keramaian, tidak ada antrean, bahkan interaksi pembeli hampir tidak terlihat.

Produk Lengkap, Tapi Minim Daya Tarik Konsumen

Di dalam toko, pengelola menata berbagai kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, hingga LPG. Produk-produk itu berasal dari BUMD dan BUMN, seperti PT Food Station Tjipinang Jaya dan Perumda Dharma Jaya.

Harga yang ditawarkan pun bersaing. Gas melon dijual sekitar Rp20 ribu, sementara LPG 12 kilogram mencapai Rp220 ribu. Beras lima kilogram berada di kisaran Rp76 ribu, minyak goreng satu liter Rp23 ribu, dan dua liter Rp43 ribu.

Selain itu, pengunjung juga bisa menemukan makanan ringan, air mineral, serta produk beku seperti ayam, daging, dan nugget. Meski begitu, variasi produk UMKM lokal hampir tidak terlihat, sehingga koperasi ini terasa seperti ritel modern biasa.

Baca Juga :  Harga Emas Antam 9 April 2026 Rp2,79 Juta per Gram, Cek Daftar Lengkap

Sepi Pengunjung Meski Berada di Lokasi Strategis

Selama hampir satu jam pengamatan, hanya satu orang yang masuk ke dalam gerai. Pengunjung itu tidak melakukan transaksi belanja, melainkan menanyakan penukaran uang kecil. Ia kemudian meninggalkan lokasi karena kasir tidak menyediakan uang pecahan.

Kondisi ini memperkuat kesan bahwa koperasi belum berhasil menarik minat masyarakat sekitar. Seorang penjaga kasir mengakui situasi tersebut. Ia menyebut pengunjung lebih sering membeli kebutuhan tertentu seperti beras atau air mineral, bukan berbelanja secara rutin.

Ia juga menyampaikan bahwa keberadaan ritel modern lain di sekitar lokasi ikut memengaruhi jumlah pelanggan. Warga sekitar cenderung memilih alternatif yang sudah lebih dulu mereka kenal.

Sistem Kerja dan Kesejahteraan Pegawai Jadi Sorotan

Selain soal pengunjung, sistem kerja di dalam koperasi ini juga menarik perhatian. Kasir mengaku tidak menerima gaji tetap dengan nominal pasti seperti pekerja formal pada umumnya. Ia hanya menerima penghasilan berdasarkan omzet harian toko.

Jika pemasukan menurun, pendapatan ikut berkurang. Ia tetap menerima pembayaran bulanan, tetapi nilainya mengikuti performa penjualan. Kondisi ini membuat stabilitas pendapatan pekerja menjadi tidak pasti.

Di sisi lain, layanan tambahan seperti Mandiri Agen tetap berjalan. Warga bisa melakukan transaksi perbankan, transfer, hingga pembayaran digital di gerai tersebut. Namun fasilitas ini belum cukup mendorong peningkatan kunjungan secara signifikan.

Baca Juga :  Pembangunan Pasar Beringin Jaya Dimulai

Harapan Besar yang Belum Tercapai

Pemerintah merancang Koperasi Merah Putih sebagai wadah distribusi produk lokal sekaligus penguat ekonomi masyarakat. Namun di lapangan, konsep tersebut belum berjalan optimal. Produk UMKM belum mendominasi, sementara fungsi koperasi masih menyerupai toko ritel biasa.

Kondisi ini memunculkan jarak antara tujuan program dan realitas operasional. Banyak warga masih belum menjadikan koperasi sebagai destinasi belanja utama, meski lokasi sudah strategis dan dukungan institusi terlihat jelas.

Koperasi Kelurahan Merah Putih di Melawai menunjukkan bahwa kehadiran program besar tidak otomatis menciptakan partisipasi masyarakat. Tanpa diferensiasi produk, strategi pemasaran, dan pendekatan komunitas yang kuat, gerai tersebut sulit bersaing dengan ritel modern yang sudah mapan.

FAQ

1. Apa itu Koperasi Merah Putih?

Koperasi Merah Putih merupakan program koperasi berbasis kelurahan yang bertujuan memperkuat ekonomi masyarakat dan distribusi produk lokal.

2. Mengapa koperasi di Melawai sepi pengunjung?

Lokasi yang dekat dengan ritel modern lain serta minimnya daya tarik produk UMKM membuat pengunjung tidak banyak datang.

3. Apa saja produk yang dijual?

Gerai menjual kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, LPG, makanan ringan, minuman, dan produk beku.

4. Apakah koperasi ini hanya menjual produk UMKM?

Tidak. Sebagian besar produk berasal dari BUMN dan BUMD, sementara produk UMKM masih sangat terbatas.

5. Bagaimana sistem gaji pekerja di koperasi ini?

Pekerja menerima pendapatan yang bergantung pada hasil penjualan, bukan gaji tetap seperti standar UMP.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

AI Menggeser Kerja Kantoran, Franchise Mendadak Jadi Jalur Cepat Menuju Kaya Raya
Magang Nasional 2026 Dibiayai Pemerintah Penuh, Ini Besaran Uang Saku dan Jadwal Pendaftarannya
Harga TBS Sawit Anjlok di Dharmasraya, Bupati Turun Tangan dan Tegur Keras PKS
Harga Emas Pegadaian Hari Ini 27 Mei 2026 Mendadak Turun, Pemburu Antam dan UBS Langsung Bergerak
Harga Emas Antam Hari Ini 27 Mei 2026 Turun, Investor Ramai-ramai Cari Momentum Borong di Pegadaian
SMK Cetak Lulusan Siap Kerja, Tapi Pengangguran Masih Tinggi: Di Mana Letak Masalahnya?
BBM Naik Beruntun 4 Kali dalam 10 Hari, Krisis Energi Global Picu Lonjakan Harga dan Tekan Ekonomi Dunia
Rupiah Melemah Tekan Perbankan: Risiko Likuiditas hingga Kredit Macet Menguat, Ini Skenario dan Antisipasi Industri
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 28 Mei 2026 - 19:00 WIB

Koperasi Modern Sepi Pengunjung Meski Didukung Program Nasional, Realita Tak Sesuai Harapan Publik

Kamis, 28 Mei 2026 - 06:00 WIB

AI Menggeser Kerja Kantoran, Franchise Mendadak Jadi Jalur Cepat Menuju Kaya Raya

Rabu, 27 Mei 2026 - 19:00 WIB

Magang Nasional 2026 Dibiayai Pemerintah Penuh, Ini Besaran Uang Saku dan Jadwal Pendaftarannya

Rabu, 27 Mei 2026 - 17:00 WIB

Harga TBS Sawit Anjlok di Dharmasraya, Bupati Turun Tangan dan Tegur Keras PKS

Rabu, 27 Mei 2026 - 11:00 WIB

Harga Emas Pegadaian Hari Ini 27 Mei 2026 Mendadak Turun, Pemburu Antam dan UBS Langsung Bergerak

Berita Terbaru