Kredit Tembus Rp8.659 Triliun, Perbankan RI Tumbuh Solid

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 6 Mei 2026 - 22:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Industri perbankan nasional tetap menjaga kinerja kuat hingga Maret 2026. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pertumbuhan kredit, dana pihak ketiga (DPK), hingga permodalan masih berada pada level sehat meski sejumlah indikator mulai menunjukkan normalisasi.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menegaskan sektor perbankan tetap menjalankan fungsi intermediasi secara optimal di tengah dinamika ekonomi global dan domestik.

Kredit Tumbuh 9,49%, Investasi Pimpin Pertumbuhan

OJK mencatat total kredit per Maret 2026 mencapai Rp8.659 triliun. Penyaluran kredit ini tumbuh 9,49% secara tahunan (yoy), lebih tinggi dibandingkan Februari 2026 yang berada di level 9,37% yoy.

Dari sisi jenis penggunaan, kredit investasi mencatat lonjakan tertinggi sebesar 20,85%. Kredit korporasi juga tumbuh kuat sebesar 12,8% yoy.

Sementara itu, kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mulai pulih. OJK mencatat kredit UMKM tumbuh 0,12% yoy setelah sebelumnya terkontraksi 0,56% pada Februari 2026.

Dari sisi kepemilikan bank, bank BUMN mencatat pertumbuhan kredit tertinggi sebesar 13,66% yoy. Kondisi ini menunjukkan peran dominan bank pelat merah dalam mendorong pembiayaan ekonomi nasional.

Baca Juga :  Harga Telur Tak Kunjung Naik, BGN Ultimatum SPPG Belanja Langsung ke Peternak

DPK Tumbuh Lebih Kuat, Likuiditas Melimpah

Di sisi pendanaan, DPK tumbuh lebih cepat dibanding kredit. OJK mencatat DPK mencapai Rp10.231 triliun atau tumbuh 13,55% yoy.

Giro mencatat pertumbuhan paling tinggi sebesar 21,37% yoy. Deposito menyusul dengan kenaikan 11,31% yoy, sedangkan tabungan tumbuh 8,30% yoy.

Kondisi ini membuat likuiditas perbankan tetap longgar dan aman. Rasio alat likuid terhadap non-core deposit (AL/NCD) mencapai 122,55%, sedangkan rasio alat likuid terhadap DPK (AL/DPK) berada di level 27,85%. Kedua indikator ini jauh melampaui batas ketentuan regulator.

Selain itu, Liquidity Coverage Ratio (LCR) mencapai 193,64%, sementara Net Stable Funding Ratio (NSFR) berada di level 128,84%. Kedua rasio ini memperkuat posisi likuiditas jangka pendek dan panjang perbankan nasional.

Risiko Kredit Tetap Terkendali

OJK juga mencatat kualitas aset perbankan masih terjaga. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross berada di level 2,14%, sedangkan NPL net tercatat 0,83%.

Baca Juga :  Restitusi Pajak Rp360 T Bikin Waswas, Menkeu Purbaya Curiga Ada Kebocoran

Loan at Risk (LAR) berada di level 8,94%, menunjukkan risiko kredit masih dalam batas yang terkendali meski tekanan ekonomi global masih berlangsung.

Profitabilitas Stabil, Modal Perbankan Kuat

Dari sisi profitabilitas, industri perbankan mencatat return on assets (ROA) sebesar 2,47%. Angka ini menunjukkan bank masih mampu menghasilkan keuntungan yang stabil dari aset yang dimiliki.

Permodalan perbankan juga tetap kuat. Capital adequacy ratio (CAR) tercatat 25,09%. Meski turun dari posisi Februari 2026 yang sebesar 25,83%, OJK menjelaskan penurunan tersebut terjadi seiring pembagian dividen oleh sejumlah bank.

OJK: Perbankan Masih Tahan Guncangan

Dian menegaskan industri perbankan Indonesia masih berada dalam kondisi stabil dengan fundamental yang kuat. Menurutnya, kombinasi pertumbuhan kredit, likuiditas tinggi, dan permodalan tebal menjadi bantalan utama menghadapi potensi tekanan ekonomi ke depan.

“Secara umum, kondisi perbankan masih solid dan mampu menjaga fungsi intermediasi dengan baik,” kata Dian.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

SIMPEDA Nasional 2026 Guncang Bengkulu, Ungu Bikin Malam Puncak Makin Spektakuler
Mian Buka Suara soal Masa Depan BPD: Bank Bengkulu Diminta Tancap Gas Jadi Penggerak Ekonomi Daerah
Bingung Urus OSS-RBA? BESAN ALIA DPMPTSP Dharmasraya Siap Bantu Pelaku Usaha
PEKA Bengkulu Buka Jalan Baru bagi Penerima Manfaat, Usaha Keluarga Didorong Makin Mandiri
Bupati Annisa Bongkar Beban Fiskal Dharmasraya, Tambahan TKD 2027 Jadi Harapan
Ojol Bisa Punya Motor Listrik Tanpa DP, Bunga Cicilan Ikut Dipangkas Prabowo
Sawit Tua Mulai Ditebang, Harapan Baru Petani Dharmasraya Tumbuh dari PSR Tahap III
Industri Alas Kaki Indonesia Melaju 11,3 Persen, Ekspansi Besar Menanti di Semester II 2026
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 23 Agustus 2026 - 07:17 WIB

SIMPEDA Nasional 2026 Guncang Bengkulu, Ungu Bikin Malam Puncak Makin Spektakuler

Jumat, 21 Agustus 2026 - 15:47 WIB

Mian Buka Suara soal Masa Depan BPD: Bank Bengkulu Diminta Tancap Gas Jadi Penggerak Ekonomi Daerah

Selasa, 18 Agustus 2026 - 17:14 WIB

Bingung Urus OSS-RBA? BESAN ALIA DPMPTSP Dharmasraya Siap Bantu Pelaku Usaha

Selasa, 18 Agustus 2026 - 14:58 WIB

PEKA Bengkulu Buka Jalan Baru bagi Penerima Manfaat, Usaha Keluarga Didorong Makin Mandiri

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 06:58 WIB

Bupati Annisa Bongkar Beban Fiskal Dharmasraya, Tambahan TKD 2027 Jadi Harapan

Berita Terbaru