JAKARTA – Kekayaan konglomerat Indonesia Prajogo Pangestu turun tajam sepanjang 2026 setelah pasar saham menekan nilai
aset utamanya. Bloomberg Billionaires Index mencatat kekayaannya berada di sekitar US$21,3 miliar per Mei 2026, atau turun lebih dari 50% dibandingkan awal tahun.
Penurunan ini langsung menggeser posisinya di daftar orang terkaya Indonesia. Kini, Sukanto Tanoto memimpin daftar dengan kekayaan sekitar US$24,3 miliar.
Bloomberg Catat Penurunan Lebih dari Separuh Kekayaan
Bloomberg mencatat kekayaan Prajogo Pangestu merosot sekitar 54% sejak awal 2026. Nilai asetnya sempat menembus lebih dari US$46 miliar pada akhir 2025 ketika harga saham-saham Grup Barito berada di level tinggi.
Namun, pasar modal bergerak berbalik arah pada 2026. Investor global mulai melepas saham-saham berkapitalisasi besar di sektor energi dan petrokimia, sehingga nilai portofolio Prajogo ikut terkoreksi tajam.
Penurunan ini membuat kekayaannya menyusut sekitar US$24,9 miliar dalam waktu kurang dari satu tahun.
Saham Grup Barito Jadi Penekan Utama Kekayaan
Prajogo Pangestu mengandalkan kekayaannya pada kepemilikan saham di sejumlah emiten besar, termasuk:
1. PT Barito Pacific Tbk (BRPT)
2. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA)
3. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN)
4. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN)
Keempat saham tersebut bergerak turun sepanjang 2026. BRPT melemah sekitar 34,8%, TPIA turun 39,65%, CUAN merosot 62,88%, dan BREN anjlok hampir 67%.
Investor ritel dan institusi ikut melakukan aksi jual karena mereka melihat valuasi saham sudah terlalu tinggi setelah reli besar pada tahun sebelumnya.
MSCI Tekan Sentimen Pasar Indonesia
Morgan Stanley Capital International (MSCI) menunda rebalancing sejumlah indeks saham Indonesia. MSCI juga mengeluarkan beberapa saham besar dari Global Standard Indexes, termasuk BREN, TPIA, dan CUAN.
Keputusan itu memicu reaksi negatif di pasar. Investor global langsung mengurangi eksposur terhadap saham-saham tersebut karena mereka mengikuti kebijakan indeks sebagai acuan investasi.
Pelaku pasar juga menyoroti kekhawatiran MSCI terkait konsentrasi kepemilikan saham dan potensi distorsi perdagangan pada beberapa emiten besar di Indonesia.
Rotasi Investor Global Tambah Tekanan
Investor global mengalihkan dana ke sektor lain yang mereka anggap lebih stabil pada 2026. Mereka mengurangi porsi di sektor energi dan petrokimia, lalu meningkatkan investasi di sektor teknologi dan keuangan di pasar lain.
Perubahan strategi ini menekan likuiditas saham-saham Grup Barito. Volume jual meningkat, sementara minat beli melemah, sehingga harga saham turun lebih dalam.
Dampak Langsung ke Peringkat Orang Terkaya
Penurunan nilai saham langsung mempengaruhi posisi Prajogo Pangestu dalam daftar orang terkaya dunia. Bloomberg menempatkannya di posisi kedua orang terkaya Indonesia.
Sementara itu, Sukanto Tanoto mengambil alih posisi puncak karena nilai asetnya bergerak lebih stabil di tengah tekanan pasar global.
Perubahan posisi ini menunjukkan bahwa kekayaan berbasis saham sangat sensitif terhadap pergerakan pasar jangka pendek.
Kesimpulan: Kekayaan Sangat Bergantung pada Pasar
Kasus Prajogo Pangestu menunjukkan bagaimana kekayaan konglomerat dapat berubah cepat mengikuti fluktuasi pasar saham. Investor global, kebijakan indeks, dan sentimen sektor energi memainkan peran besar dalam pergerakan nilai aset.
Dalam waktu kurang dari satu tahun, perubahan harga saham mampu menggeser posisi orang terkaya di Indonesia tanpa perubahan besar pada operasional bisnis inti. Pasar modal tetap menjadi faktor penentu utama dalam peta kekayaan para konglomerat di Indonesia.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora