Honda Ubah Strategi R&D, Akui Sulit Kejar Kecepatan Produsen China

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 10 April 2026 - 21:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA – Honda Motor Co. mengakui tekanan besar dari produsen otomotif China dalam persaingan global, khususnya di sektor kendaraan listrik dan pengembangan teknologi. Honda mengubah strategi pengembangan produknya untuk menghadapi kondisi tersebut. Perusahaan mengembalikan sistem riset dan pengembangan (R&D) menjadi lebih mandiri.

Langkah ini membalik kebijakan yang Honda terapkan pada 2020. Saat itu, Honda memusatkan seluruh proses pengembangan untuk meningkatkan efisiensi dan kecepatan. Kini, perusahaan memberi keleluasaan kepada tim insinyurnya untuk berinovasi secara lebih independen.

Honda tidak menerapkan pendekatan R&D terpisah secara baru. Sejak era 1960-an, Honda sudah menjalankan sistem tersebut. Perusahaan memberi kebebasan kepada para insinyur untuk bereksperimen. Strategi itu melahirkan inovasi penting. Salah satunya mesin CVCC yang ramah emisi pada 1970-an. Strategi ini juga mengantarkan kesuksesan Honda Civic di pasar Amerika Serikat.

Melalui kebijakan terbaru ini, Honda mengejar percepatan inovasi. Perusahaan merespons persaingan yang semakin ketat. Tekanan terbesar datang dari produsen China seperti BYD dan Geely. Kedua perusahaan ini meluncurkan mobil baru dengan cepat dan efisien.

Baca Juga :  BYD M6 Cross dan Tren Mobil Super Irit, Apakah Era Motor Masih Relevan?

CEO Honda, Toshihiro Mibe, mengakui tantangan tersebut. Ia menyebut Honda sulit menandingi kecepatan pengembangan produk dari produsen China. Perusahaan-perusahaan tersebut hanya membutuhkan waktu sekitar 18 bulan untuk meluncurkan model baru.

Pabrikan Jepang umumnya membutuhkan waktu lebih lama dalam pengembangan produk. Kondisi ini membuat mereka tertinggal dalam kecepatan inovasi. Situasi ini semakin terasa seiring pergeseran industri otomotif ke kendaraan listrik dan teknologi berbasis perangkat lunak.

Dampak kondisi tersebut terlihat pada kinerja Honda di China. Penjualan Honda turun hingga 24 persen pada 2025. Beberapa pabrik belum beroperasi secara optimal. Honda juga mengurangi rencana peluncuran model baru.

Para pesaing terus berkembang dengan cepat. Produsen China unggul dalam kecepatan, efisiensi biaya, serta penguasaan teknologi. Mereka juga kuat dalam pengembangan perangkat lunak dan sistem produksi.

Baca Juga :  SUV Listrik BYD Atto 2 Siap Masuk Indonesia, Harga Rp245 Jutaan Tawarkan Interior Premium dan Fitur Canggih

Beberapa pabrikan Jepang memilih kerja sama dengan mitra lokal di China. Toyota Motor Corporation dan Nissan Motor Corporation, misalnya, menggandeng perusahaan lokal. Mereka bekerja sama untuk mempercepat pengembangan mobil listrik yang lebih terjangkau.

Honda Ubah Strategi

Honda memilih strategi berbeda. Perusahaan fokus memperkuat kemampuan internal. Honda juga melirik India sebagai basis produksi kendaraan listrik generasi berikutnya. India menawarkan biaya produksi yang lebih rendah. Negara ini juga memiliki industri otomotif yang terus berkembang.

Melalui langkah ini, Honda menekan biaya produksi dan mempercepat pengembangan produk baru. Namun, tantangan tetap besar. Honda masih harus mengejar kecepatan inovasi produsen China yang kini memimpin pasar kendaraan listrik global.

Honda menegaskan komitmennya untuk terus beradaptasi. Perusahaan ingin tetap bersaing di tengah perubahan industri otomotif dunia yang bergerak cepat. Inovasi menjadi kunci utama bagi Honda untuk mempertahankan daya saing di masa depan.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Ledakan Pesanan Jaecoo J5 EV Tembus 16 Ribu Unit, Sinyal Kuat Pabrik Lokal di Indonesia Mulai Dibidik
Jetour T1 PHEV Siap Gegerkan Pasar Indonesia, SUV Hybrid Baru Bawa Teknologi i-DM Canggih
Honda Super-One Meluncur di Jepang, “Brio Listrik” Rp 300 Jutaan Tawarkan Sensasi Mobil Sport EV Kompak
VW ID. Polo GTI Listrik 2026 Resmi Debut, Hot Hatch 226 DK Jarak 424 Km Bikin Geger Pasar Mobil Dunia
HR-V Bekas 2026 Mulai Rp150 Jutaan, SUV Favorit yang Masih Layak Dibeli atau Sudah Ketinggalan Zaman?
Suzuki GN 160 Guncang Pasar Retro 160cc, Tantang W175 dan XSR155 dengan Gaya Klasik
SUV Listrik iCAR V23 Bikin Heboh, Konsep Plug and Play Ubah Cara Orang Modifikasi Mobil di Indonesia
Toyota GR Yaris 2026 Makin Brutal, Setir Baru dan Teknologi Reli Bikin Pecinta Kecepatan Tergoda
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 27 Mei 2026 - 04:00 WIB

Ledakan Pesanan Jaecoo J5 EV Tembus 16 Ribu Unit, Sinyal Kuat Pabrik Lokal di Indonesia Mulai Dibidik

Rabu, 27 Mei 2026 - 03:00 WIB

Jetour T1 PHEV Siap Gegerkan Pasar Indonesia, SUV Hybrid Baru Bawa Teknologi i-DM Canggih

Rabu, 27 Mei 2026 - 02:00 WIB

Honda Super-One Meluncur di Jepang, “Brio Listrik” Rp 300 Jutaan Tawarkan Sensasi Mobil Sport EV Kompak

Rabu, 27 Mei 2026 - 01:00 WIB

VW ID. Polo GTI Listrik 2026 Resmi Debut, Hot Hatch 226 DK Jarak 424 Km Bikin Geger Pasar Mobil Dunia

Selasa, 26 Mei 2026 - 16:00 WIB

HR-V Bekas 2026 Mulai Rp150 Jutaan, SUV Favorit yang Masih Layak Dibeli atau Sudah Ketinggalan Zaman?

Berita Terbaru