Hatta Rajasa: Dari Palembang ke Pusat Ekonomi Nasional

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 21 Februari 2026 - 19:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

Jakarta – Nama Hatta Rajasa menempati posisi penting dalam perjalanan ekonomi nasional. Namun, kisah hidupnya bermula jauh dari pusat kekuasaan. Ia lahir di Palembang pada 18 Desember 1953 sebagai anak kedua dari dua belas bersaudara.

Sang ayah yang berprofesi sebagai tentara membentuk karakter Hatta dengan disiplin keras. Sejak kecil, ia belajar hidup mandiri. Ketika menempuh pendidikan SMP dan SMA, ia tinggal terpisah dari orang tua dengan jarak ratusan kilometer. Situasi itu melatih ketangguhan dan tanggung jawabnya sejak dini.

Impian Akademik yang Tertunda

Setelah menyelesaikan studi Teknik Perminyakan di Institut Teknologi Bandung, Hatta menetapkan satu cita-cita. Ia ingin mengajar dan berkarier sebagai dosen. Ia melihat dunia kampus sebagai ruang pengabdian intelektual.

Namun, kondisi keluarga menuntut keputusan berbeda. Sebagai salah satu anak tertua, ia memikul tanggung jawab besar terhadap sebelas adiknya. Ia memilih masuk ke industri perminyakan untuk membantu kebutuhan keluarga. Ia menunda ambisinya di dunia akademik demi prioritas yang lebih mendesak.

Baca Juga :  AHY Tinjau Tol Palembang–Betung

Meniti Karier dari Lapangan

Hatta memulai karier sebagai teknisi lapangan di perusahaan perminyakan. Ia menghadapi lingkungan kerja yang keras dan penuh risiko. Ia bekerja langsung di lapangan pengeboran dan mengasah kemampuan teknis serta kepemimpinan.

Kerja keras dan konsistensi mendorong percepatan kariernya. Ia naik ke posisi manajerial dalam waktu relatif singkat. Selanjutnya, ia memimpin perusahaan sebagai direktur utama selama hampir dua dekade. Pengalaman panjang itu memperkuat kapasitasnya dalam mengelola sektor energi dan bisnis berskala besar.

Mengambil Langkah Politik di Era Reformasi

Memasuki era Reformasi, Hatta melihat peluang pengabdian yang lebih luas. Ia memutuskan terjun ke dunia politik dan bergabung dengan Partai Amanat Nasional. Ia aktif membangun struktur dan strategi partai pada masa awal pembentukannya.

Pada Pemilu 1999, ia memimpin Fraksi Reformasi di DPR RI. Ia memainkan peran penting dalam berbagai proses legislasi dan negosiasi politik. Ia membangun komunikasi dengan berbagai pihak dan menjembatani kepentingan yang beragam di parlemen.

Baca Juga :  Perludem Minta MK Ubah Aturan Pemilu, Kuota 30 Persen Perempuan di KPU hingga KPPS Jadi Kewajiban

Mengemban Tanggung Jawab di Pemerintahan

Langkah politiknya berlanjut ke jajaran kabinet. Ia memimpin Kementerian Negara Riset dan Teknologi. Setelah itu, ia memimpin Kementerian Perhubungan. Ia juga menjalankan peran sebagai Menteri Sekretaris Negara.

Pada periode 2009–2014, ia mengoordinasikan kebijakan nasional sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. Ia menyelaraskan kebijakan fiskal, investasi, dan sektor riil di tengah tekanan ekonomi global. Ia mengarahkan koordinasi lintas kementerian untuk menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi.

Dari Tanggung Jawab Keluarga ke Pengabdian Nasional

Perjalanan hidup Hatta Rajasa menunjukkan hubungan kuat antara tanggung jawab pribadi dan pengabdian publik. Ia mengorbankan ambisi akademik demi keluarga. Namun, keputusan itu membuka jalan menuju peran yang lebih besar.

Ia tidak hanya membantu pendidikan adik-adiknya. Ia juga mengambil bagian dalam menentukan arah kebijakan ekonomi nasional. Kisahnya menegaskan bahwa kerja keras, disiplin, dan keberanian mengambil keputusan mampu mengubah tantangan menjadi kontribusi nyata bagi bangsa.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

CPNS 2027 Buka Peluang Baru! PPPK Guru Bisa Ikut Seleksi PNS, Ini Proyeksinya
DPR Ketuk Palu! Nuzran Joher Resmi Pimpin Ombudsman RI, Gantikan Hery Susanto
66 Kepala Dapur MBG Dipecat, BGN Bongkar Kasus Judi Online, Penipuan hingga Minta Uang
Febrie Adriansyah Diperiksa Kejagung 7 Jam, Kuasa Hukum Ungkap 20 Pertanyaan Penyidik
Babak Baru Kasus Febrie Adriansyah, Kejagung Potong Gaji 50 Persen hingga Putusan Inkrah
Dokumen Dugaan TPPU Jadi Temuan Penting saat Kejagung Geledah Rumah Febrie Adriansyah
Gelombang Pensiun Komjen Polri Dimulai, Karyoto dan Fadil Imran Masuk Daftar, Wakapolri Jadi Sorotan
MK Larang Anggaran Pendidikan untuk MBG, Sudaryono Langsung Tegaskan BGN Siap Ikuti Keputusan Negara
Berita ini 11 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 19 Agustus 2026 - 21:00 WIB

CPNS 2027 Buka Peluang Baru! PPPK Guru Bisa Ikut Seleksi PNS, Ini Proyeksinya

Selasa, 18 Agustus 2026 - 18:00 WIB

DPR Ketuk Palu! Nuzran Joher Resmi Pimpin Ombudsman RI, Gantikan Hery Susanto

Jumat, 7 Agustus 2026 - 22:34 WIB

66 Kepala Dapur MBG Dipecat, BGN Bongkar Kasus Judi Online, Penipuan hingga Minta Uang

Jumat, 7 Agustus 2026 - 21:27 WIB

Febrie Adriansyah Diperiksa Kejagung 7 Jam, Kuasa Hukum Ungkap 20 Pertanyaan Penyidik

Rabu, 5 Agustus 2026 - 19:54 WIB

Babak Baru Kasus Febrie Adriansyah, Kejagung Potong Gaji 50 Persen hingga Putusan Inkrah

Berita Terbaru